Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Wanita Bernama Farhani


__ADS_3

Usai melihat kamar Anaya dan juga menaruh tas yang berisi pakaian mereka ke dalam kamar Anaya, kini Anaya merasa ada yang ketinggalan yang belum dia bawa. Ya, ada dodot susu milik Citra yang belum dia bawa. Untuk itu, Anaya berniat untuk membeli dodot susu ke mini market yang letaknya dekat dengan rumahnya.


"Mas, aku ketinggalan enggak bawa dodot dan kantong ASIP. Aku ke mini market depan dulu yah, beli dulu. Nanti kalau pumping gak bisa disimpan karena kantong ASIP-nya habis," balas Anaya.


"Emang di mini market ada kantong ASIP Sayang? Lebih baik ke Mall sebentar, dekat sini ada Mall kan, nih cuma lima belas menit saja. Mending ke Mall dulu saja," balas Tama.


Jika hanya sekadar dodot ASI, Ravendra yakin di mini market pastilah tersedih, tetapi untuk mendapatkan kantong ASIP tidak ada di mini market, itu semua karena Tama adalah pengunjung tetap mini market yang berada di dekat rumahnya. Selama satu tahun penuh, Tama selalu ke mini market untuk membeli diapers dan juga perlengkapan bayi milik Citra, sehingga Tama pun hafal apa saja yang dijual di mini market.


"Baru datang ke rumah Ayah, masak mau keluar lagi sih?" balas Anaya.


"Ya, sebentar saja ... kan malam nanti juga masih di sini. Masih menginap sampai besok kan," balas Tama.


Menimbang-nimbang daripada sumber ASI-nya penuh dan ASI yang sudah dipumping tidak bisa disimpan, karenanya Anaya memilih untuk berpamitan dengan Ayahnya untuk keluar sebentar dan membeli kantong ASIP. Walau tidak enak, tetapi Anaya memilih keluar sebentar untuk membeli kantong ASIP. Untuk saja, Ayah Tendean tidak keberatan. Pria paruh baya itu justru menganggukkan kepalanya dan memberi izin kepada Anaya untuk keluar sebentar. Asalkan ada Tama, Ayah Tendean percaya bahwa Anaya pasti aman.


"Demi beli kantong ASIP saja sampai harus keluar lagi kayak gini deh," gumam Anaya.


"Tidak apa-apa, daripada punya kamu bengkak," balas Tama.


"Iya, kalau bengkak, bisa demam nanti aku," balas Anaya dengan menghela nafas.


Itu adalah fakta, payu-dara yang tidak dikeluarkan ASI selama masih masa menyusui bisa bengkak dan menyebabkan demam, nyeri, dan rasa tidak nyaman. Kejadian seperti ini biasanya disebut dengan mastitis. Anaya masih ingat bahwa usai melahirkan bayinya, tetapi bayinya sudah tiada, Anaya merasakan payu-daranya yang begitu bengkak, tubuhnya demam, bahkan sakitnya sungguh begitu luar biasa. Ketika diperiksakan ke Dokter, Dokter menyarankan untuk melakukan pumping dan diberikan obat pereda nyeri.


"Makanya itu, jadi beli kantong ASIP saja," balas Tama.


"Cuma belinya sejauh ini, kasihan sama kamu yang nyetirin mobil," balas Anaya.


"Enggak apa-apa, cuma nyetir saja Sayang. Penting kan dapat kantong ASIPnya, aku tuh pengunjung tetap mini market, jadi aku tahu banget apa yang ada dan yang tidak ada di mini market," balas Tama dengan tertawa.


"Iya, karena dulu kamu terkenal sebagai Mas Duda pemburu diapers diskonan," balas Anaya dengan terkekeh geli.


"Iya, jadi ya aku tahu banget," balas Tama yang juga tertawa di sana.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama, Tama pun memarkirkan mobilnya di salah satu pusat perbelanjaan yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Anaya. Pria itu segera menurunkan stroller dan menaruh Citra di dalam stroller itu. Kini, ketiganya memasuki pusat perbelanjaan bersama. Tempat yang dituju Anaya tentu outlet baby. Membeli kantong ASIP, tetapi namanya wanita, seorang Ibu, memiliki baju-baju lucu yang ada di sana, Anaya tergoda untuk membelikan untuk Citra.


"Mas, aku belikan ini buat Citra yah," ucapnya.


"Iya, belikan saja. Kamu kalau mau beli sesuatu sekalian saja, nanti biar aku yang bayar," balas Tama.


Anaya tampak menggelengkan kepalanya, "Enggak, ini aku yang bayar saja. Kan Mamanya Citra juga punya uang. Untuk beliin anak sendiri, tidak apa-apa," balas Anaya.


"Ya sudah, terserah Mamanya Citra aja lah ... Papanya Citra ngikut saja," balas Tama dengan tersenyum menatap istrinya itu.


Rupanya Tama dan Anaya yang berbelanja bersama dengan membawa stroller bayi di sana, menarik perhatian seorang wanita yang sejak tadi mengamati Tama. Tanpa ragu, wanita itu segera mendekat dan menyapa Tama.


"Tam ... Tama, kamu di sini?" tanya wanita itu.


Merasa namanya dipanggil, Tama pun mencari sumber suara itu, dan tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan temannya di sana.


"Eh, Farhani ...."


Farhani pun tersenyum kemudian wanita itu menatap kepada Anaya yang berdiri di samping Tama dan stroller baby yang di dalamnya ada Citra itu. Sadar dengan arah pandangan Farhani, Tama pun segera mengenalkan Anaya dan Citra kepada temannya itu.


"Kenalkan, Hani ... dia istriku, Anaya dan ini anakku Citra," ucap Tama.


Anaya menganggukkan kepalanya, dia berjabat tangan dengan wanita bernama Farhani itu. Akan tetapi, sejenak Anaya teringat dengan teman Tama yang menjadi tunangan Reyhan. Benarkah mereka adalah sosok wanita yang sama.


"Loh, kamu sudah menikah, kok enggak ngabarin aku sih?" tanya Farhani.


"Iya, baru seminggu yang lalu. Aku pikir kamu di Singapura, jadi enggak bisa memberikan undangan," balas Tama.


"Istri kamu cantik banget loh, Tam ... beruntung kamu punya istri secantik Mbak Anaya ini," balas Farhani.


Anaya hanya tersenyum, sebenarnya dia ingin bertanya hal yang sifatnya pribadi dengan Farhani, tetapi juga ada rasa canggung bagaimana mereka baru berkenalan hari ini.

__ADS_1


"Yuk, pengantin baru ... aku traktir makan yuk. Onty juga biar kenal sama Citra," balas Farhani. Itu memang karena Farhani adalah sosok yang ramah dan ceria.


"Gimana Sayang, mau?" tanya Tama terlebih dahulu.


"Ya," balas Anaya. "Aku bayar belanjaan dulu yah," balas Anaya lagi.


"Yuk, aku anterin. Tunggu di sini dulu ya, Han ... aku anterin Istri dulu," balasnya.


Usai membayar kantong ASIP dan baju untuk bayi yang Anaya beli. Kemudian mereka bersama dengan Farhani menuju sebuah Restoran Jepang yang menyajikan makanan berupa Udon itu. Kali ini Farhani yang menaktir Tama dan Anaya dengan aneka Udon dan tempura itu.


"Kenali lagi ya Mbak Anaya ... aku Farhani, teman kuliahnya Tama dulu," ucap Farhani.


"Panggil Anaya saja, Mbak ... aku lebih muda kok," balasnya.


"Oke deh ... gak usah panggil Mbak ... cukup panggil Hani saja," balas Farhani.


Merasa kali ini hubungan di antara keduanya lebih cair, Anaya pun memberanikan diri untuk bertanya. "Tinggal di Singapura ya? Lalu, ke Jakarta untuk ngapain?" tanya Anaya.


"Iya, aku tinggal di Singapura. Bekerja di sana sudah sejak lulus kuliah. Ada masalah pribadi sebenarnya, Anaya. Gak elok sih mau cerita, karena pribadi banget," jawabnya.


Anaya pun menganggukkan kepalanya perlahan, setiap orang memang memiliki privasi. Untuk hal yang sifatnya begitu pribadi sudah tentu sukar untuk diceritakan kepada orang lain.


"Tentang dia tow?" tanya Tama secara langsung.


"Iya, baru ada operasi tangkap tangan di Batam terkait perusahaan galangan kapal itu, dan aku meminta terlebih dahulu uangku yang dibawanya. Penegak hukum mengusutnya dengan serius," jawab Farhani.


"Lalu, pernikahanmu?" tanya Tama lagi.


"Batal, Mama dan Papa tidak mungkin mengizinkan aku menikah sama pria seperti itu, Tam ... kamu tahu sendiri jejak kejahatannya di mana-mana," balas Farhani.


"Kalau terbukti korupsi saja bisa lima tahun sendiri mendekam di penjara. Belum dengan kehidupan malamnya yang meresahkan, aku enggak sanggup deh, Tam," balas Farhani lagi.

__ADS_1


Anaya memilih diam, tetapi setidaknya dia tahu bahwa yang sedang dibahas oleh Tama dan Farhani adalah tentang Reyhan. Akan tetapi, di dalam hatinya justru Anaya merasa tenang jika memang Reyhan akan mendekam di dalam jeruji besi. Setidaknya dia bisa menyadari kesalahannya dan keluar menjadi manusia yang baru, yang tidak lagi berbuat hal-hal yang melanggar hukum.


__ADS_2