Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Penuh Haru


__ADS_3

Tidak terasa hari telah berganti dengan hari. Kini, adalah akhir pekan yang dinanti oleh Tama, karena pada akhir pekan ini Tama sudah berencana untuk mengajak Anaya ke suatu tempat. Anaya pun juga sudah menyetujui, dan kali ini Tama bergegas untuk segera menjemput Anaya ke rumahnya. 


"Sudah siap?" tanya Tama yang tersenyum lebar ketika melihat wajah Anaya yang begitu cantik siang itu.


"Iya sudah ... Nak Cantik di rumah yah?" tanya Anaya lagi.


"Iya, di rumah sama Eyangnya. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat, Ay," ucap Tama pada akhirnya.


Anaya tidak bertanya Tama ingin mengajaknya kemana, hanya saja Anaya mengikuti saja karena dia yakin bahwa Tama akan membawanya dengan selamat. Itu saja sudah cukup untuk Anaya. Anaya seolah percaya bahwa Tama akan membawanya ke suatu tempat dengan tujuan tertentu.


Tama pun segera melajukan mobilnya, dan tempat yang tuju sekarang ada area pinggiran kota. Anaya sempat bingung, ketika mobil Tama kini berhenti di sebuah area pemakaman. Terlihat Anaya yang mengernyitkan keningnya, dan melirik sekilas kepada Tama.


"Pemakaman?" tanyanya singkat.


"Hmm, iya ... kita ke sini dulu ya," ajak Tama kepada Anaya.


Turun dari mobilnya, Tama membeli bunga tabur dan juga air mawar yang dijajakan oleh beberapa pembeli di sana. Tidak lupa, Tama mengambil setangkai bunga Krisan Putih yang dia ambil dari mobilnya. 


Kali ini, Anaya memang diam. Akan tetapi, setidaknya Anaya tampaknya tahu kemana dia akan diajak Tama sekarang. Memilih untuk diam dan tentunya menghadapi saja dengan apa yang terjadi di sana. 


Tama berjalan sedikit lebih di depan, sementara Anaya mengekori Tama. Beberapa kali Tama terlihat ragu karena dia sendiri takut dengan area pemakaman. Terlebih area pemakaman mengingatkannya kepada sosok bayinya yang telah tiada. 


Bahkan Anaya juga begitu berhati-hati untuk tidak sampai menginjak pemakaman atau nisan yang lainnya. Sebagai bentuk menghargai mereka yang tertidur raganya di dalam tanah. 


Tepat seperti dugaan Anaya. Kini Tama berhenti di sebuah nisan bertuliskan nama "Cellia" di sana. Dari angka tahun kelahiran dan angka tahun kematiannya, almarhumah berusia 25 tahun ketika meninggal dunia. Sungguh, sebatas berdiri di depan pusara itu saja membuat mata Anaya berkaca-kaca rasanya. 


Kini Tama berjongkok di gundukan tanah yang dirapikan dengan nisan yang terpasang di sana. Tama sedikit tersenyum dan mengusap nisan yang terbuat dari marmer berwarna hitam itu. 

__ADS_1


"Hei Cellia, aku datang lagi kali ini," sapa Tama. 


Tama kemudian mengulurkan tangannya kepada Anaya, meminta Anaya untuk berjongkok di sisinya. Kemudian Tama berbicara kepada Anaya. 


"Ay, ini adalah makam Cellia. Dia istri pertamaku yang tiada usai melahirkan Citra," ucapnya yang mencoba memperkenalkan kepada Anaya. 


"Hei, Cellia ... aku Anaya," balas Anaya dengan lirih. 


Tama kemudian menghela nafasnya, pria itu membacakan surat Al-Fatihah dengan lirih kemudian mulai menaburkan bunga dan mengguyurkan dengan air mawar di sana. 


"Cellia, kali ini aku datang untuk menyampaikan bahwa aku akan memulai hidup baru. Aku akan menikahi Anaya, Cellia. Mungkin saja di surga sana kamu bisa melihatnya. Anaya lah yang merawat Citra, putri kita dengan sangat baik. Anaya lah yang begitu tulus dan sabar merawat Citra setiap harinya. Jadi, hari ini aku membawa Anaya kemari untuk memberitahukanmu bahwa aku akan menikahinya, Cell," ucap Tama. 


Ya, Cellia memang telah tiada. Hanya saja memang Tama merasa harus mengenalkan Anaya kepada Cellia terlebih dahulu. Sekalipun di hadapannya hanya ada gundukan tanah dan sebuah nisan. 


"Anaya, di depan pusara Cellia, aku ingin menyampaikan sesuatu. Dia memang istri pertamaku. Orang yang hadir dalam hidupku dan memberikan cindera mata terindah yaitu Citra. Bagaimana pun dia akan menempati ruangan tersendiri di dalam hati aku. Jadi Anaya, bisakah kamu memberikan sedikit izin di dalam hatiku untuk almarhumah Cellia?" tanya Tama. 


Kemudian Anaya turut menaburkan bunga di pusara Cellia, Anaya pun berbicara seolah ada Cellia yang mendengarnya. 


"Tetaplah ada dalam hati Mas Tama dengan semua kenangan kalian berdua, Cellia. Aku akan membuat kenangan baru, tanpa harus menutup dan membuang semua kenangan yang lama. Kamu adalah wanita yang baik, Cellia. Suatu hari nanti Citra akan sangat bangga kala dia mendengar kisah tentang Mamanya yang sampai meregang nyawa untuk melahirkan Citra di dunia ini," balas Anaya. 


Tama merasa lega. Setidaknya memang ini yang harus dia lakukan. Kemudian Tama berdiri, dia juga mengajak Anaya untuk berdiri. 


"Baiklah Cellia, kami pamit. Beristirahatlah dalam damai," pamit Tama. 


Kemudian Tama mengulurkan tangannya dan menggandeng tangan Anaya di sana. Membawa Anaya untuk pulang dari area pemakaman itu. 


"Mampir ke blok sebelah Mas," ucap Anaya dengan menunjukkan blok yang lain di area pemakaman umum itu. 

__ADS_1


"Ke tempat siapa?" tanya Tama kemudian. 


"Mendiang Mama dan bayiku dikebumikan di sini juga," balas Anaya. 


Tama pun tidak menyangka jika orang-orang yang Anaya sayangi juga dikebumikan di area pemakaman ini. Tentu Tama tidak menolaknya. Justru Tama merasa senang bisa sekaligus mengunjungi pusara itu. 


"Ini makam Bundaku dan ini di sampingnya adalah bayiku," ucap Anaya yang kini juga berjongkok di dekat sebuah nisan itu. 


"Halo Bunda dan Adik Kecil," sapa Tama dengan turut berjongkok di samping Anaya. 


Keduanya hening, mungkin karena berada di pusara orang yang dia sayangi membuat Anaya pun menangis di sana. Rasanya begitu haru.


"Almarhumah Bunda meninggalkan beberapa jam usai melahirkan aku, Mas. Kisahnya mirip dengan Almarhumah Cellia. Dengan kepergian Mama selamanya, hidup kami berdua tidak lagi sama. Duka yang menghantui bertahun-tahun lamanya, dan juga aku tumbuh tanpa pernah merasakan dekap hangat dan sentuhan kasih sayang seorang Ibu. Akan tetapi, Ayah selalu menceritakan siapa Bunda dan cara Bunda menyayangi aku dengan kasihnya yang sepanjang masa. Sampai ketika beliau tiada pun, aku tahu aku bisa sampai seperti ini karena Bunda yang melahirkanku. Lalu, dia adalah Cinta, bayiku. Seorang anak yang tidak pernah beruntung dalam hidupnya. Lahir dengan kekurangan berat badan hingga mengalami komplikasi pada organnya. Seorang anak yang tidak pernah tahu siapa Papanya, bahkan ketika dia dikebumikan ke liang lahat, Kakeknya lah yang mengebumikannya,' cerita Anaya. 


Mengulang semua cerita itu membuat Anaya benar-benar menangis. Bayangan duka dan kehilangan terbesar dalam hidupnya kembali menghantui. Segera Tama merangkul bahu Anaya yang bergetar, memberikan usapan naik dan turun di bahu itu. 


"Sabar," balas Tama. 


"Bunda dan Adik Bayi, Anaya di sini juga ingin mengenalkan Bunda dan Cinta kepada Mas Tama. Dia adalah pria yang baik, yang akan meminang Anaya tidak lama lagi," ucap Anaya. 


Tama menganggukkan kepalanya dan masih merangkul bahu Anaya. 


"Mungkin Bunda tidak pernah tahu dan melihat tumbuh kembangku, tetapi aku hidup dengan mengingat semua cerita Bunda yang diceritakan Ayah setiap harinya. Pun demikian dengan kamu Cinta, sekarang Mama tidak sendirian lagi. Ada Om Tama dan Citra yang akan menjadi keluarga baru untuk Mama," balasnya. 


"Halo Cinta yang cantik. Kamu juga putriku Sayang. Papa juga sayang kamu. Papa izin untuk menikahi Mama Anaya yah. Jangan merasa sendiri Sayang, kamu pun juga anak Papa," balas Tama dengan mengusapi nisan bertuliskan nama Cinta itu. 


Sungguh, hari ini menjadi hari yang penuh haru. Hari di mana bayang kesedihan kembali menyapa. Namun, hari ini juga menjadi salam perkenalan dari keduanya kepada anggota keluarga yang telah tiada. 

__ADS_1


Kiranya kebahagiaan akan segera menyapa. Mereka yang telah tiada bukan untuk dilupakan begitu saja, tetapi dikenang kebaikannya dan diceritakan kisahnya kepada anggota keluarga yang lain. Untuk memulai babak baru kehidupan Anaya dan Tama, setidaknya keduanya sudah menyapa dengan salam hangat dan mengirim doa untuk anggota keluarga mereka yang telah tiada. 


__ADS_2