
Usai dari Mall, Tama dan Anaya memilih untuk kembali pulang ke rumah Ayah Tendean. Anaya pun juga membelikan kue kesukaan Ayahnya, dan bisa dinikmati untuk teman minum teh sore nanti. Kini, mereka sudah dalam perjalanan pulang, ada beberapa cerita juga yang diobrolkan Tama dan Anaya selama dalam perjalanan.
"Temen kamu waktu kuliah banyak ceweknya ya Mas?" tanya Anaya dengan tiba-tiba.
"Hmm, kenapa emangnya Yang? Ada yang cowok juga kok, cuma belum ketemu kali," balasnya.
"Enggak yang ketemu di Lembang itu kan Kak Metta, dan sekarang Farhani. Cewek semua kan, kok belum ketemu sama cowok," balas Anaya.
Tama pun tersenyum di sana, "Kebetulan saja ketemunya sama yang cewek. Cuma ya, aku dulu sebenarnya gak terlalu dekat sama temen-temen di kampus. Terlebih waktu skripsi itu kan sibuk menyusun skripsi sendiri-sendiri," balasnya.
Anaya pun melirik kepada suaminya, " ..., dan sibuk patah hati yah?" tanyanya.
Tama tertawa. Memang masa lalunya ada sisi menggelikan, memilih mencintai teman kuliahnya walaupun cinta itu tidak terbalas. Sibuk patah hati, sampai lupa dengan banyak hal yang terjadi di sekitarnya.
"Kamu bisa saja," balas Tama kemudian.
"Dia orangnya seperti apa sih Mas? Yang di foto wisuda kalian itu," tanya Anaya lagi.
"Khaira maksudnya?" tanya Tama kemudian.
"Iya, cuma pengen tahu saja. Cinta pertama gitu yah, sukar untuk dilupakan," balas Anaya.
"Ya, gimana ... intinya dia itu mahasiswi paling pinter di kelas, terus orangnya lembut gitu. Jadi, ya sudah ... mungkin masih muda, jadi ya naksir saja," balas Tama.
__ADS_1
Anaya yang mendengarkan cerita dari suaminya merespons dengan beberapa kali menganggukkan kepalanya.
"Kenapa, kamu cemburu, perasaannya tidak enak atau kenapa?" tanya Tama kemudian.
Anaya pun dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak, cuma pengen tahu aja sih, dia itu seperti apa. Kenapa agaknya berkesan gitu," balas Anaya.
"Tidak perlu membicarakan masa lalu, Yang ... jika itu membuatmu tidak nyaman. Sungguh, semua bagiku hanya masa lalu. Lagian, aku juga sudah menikah dengan mendiang Cellia waktu itu. Sudah biasa saja sekarang. Ya, semua masa lalu ibarat kata hanya kotak penyimpanan saja," balas Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Ya sudah deh ... enggak tanya lagi. Cuma tadi aku setuju sama Farhani sih. Batal sekarang atau nanti yang pasti sama-sama terluka. Jadi, ya ... batal sekarang lebih baik," ucapnya.
"Benar ... batal lebih cepat, pulih pun lebih cepat," balas Tama.
"Cuma aku memang tidak bisa pulih lebih cepat, Mas ... dulu itu kesakitan banget, depresi banget. Jadi, usai petaka itu aku tiap malam gak bisa tidur, makan itu tidak berselera, awal hamil itu berat badanku turun sampai 7 kilogram. Kurus banget waktu itu, terus Ayah itu mendorong aku tidak boleh terluka terus, harus bangkit untuk anakku yang masih berada di dalam kandungan, anakku juga butuh nutrisi, akhirnya perlahan aku bangkit. Ya, aku bertahan untuk anak yang aku kandung saja. Namun, begitu lahir hanya beberapa jam saja aku melihatnya, dan dia sudah diambil daripadaku," cerita Anaya.
"Aku termasuk orang yang tidak bisa pulih dengan lebih cepat. Aku termasuk orang yang merasa kesakitan dengan semua yang sudah aku alami. Mungkin kasusnya berbeda yah kalau hamil dan ada suami, sementara aku hamil kan karena pemerkosaan. Jadi ya, sudah merasa kotor, hina, dan kemudian hamil itu adalah sesuatu yang membuatku tidak siap. Namun, aku tidak akan menggugurkannya," cerita Anaya lagi.
Sekalipun hamilnya karena kecelakaan dan tertekan secara mental, tetapi Anaya tahu dan sadar bahwa kehidupan baru di dalam rahimnya adalah anugerah. Untuk itu, Anaya akan tetap mempertahankan bayinya.
Tama benar-benar ingin memeluk Anaya untuk sesaat. Untung saja, mobil yang dia kemudikan sudah tiba di depan rumah Anaya. Tanpa banyak bicara, Tama melepaskan sabuk pengaman yang dia pakai, kemudian dia memeluk Anaya di sana. Tama memilih diam, memberikan pelukan hangat dan juga usapan di punggung Anaya, dalam gerakan naik dan turun dari telapak tangannya yang begitu lembut.
"Anaya, Sayangku ... aku tahu masa lalumu sangat sulit. Banyak yang kamu alami dengan berlinangan air mata. Hanya saja, aku yakin kamu bisa sampai di tahap ini karena kamu adalah sosok yang kuat. Aku yakin bahwa kamu bisa bangkit, bisa pulih, karena kamu adalah wanita yang hebat. Terima kasih sudah berbagi luka denganku. Lukamu adalah lukamu, sedihmu juga adalah sedihku. Aku mungkin tidak akan bisa menjanjikan banyak hal dalam hidup. Akan tetapi, aku akan berjanji untuk selalu mendampingimu," balas Tama dengan sungguh-sungguh.
Ada senyuman yang terbit di wajah Anaya, tangan wanita itu bergerak dan turut memeluk Tama di sana.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas ... maaf yah, jadi cerita masa lalu," balas Anaya.
"No problem Sayang ... cuma kapanpun kamu mau bercerita masa lalumu, rasa sakit dan sedihmu, aku siap mendengarkannya. Bukan hanya suami dan istri, kita kan juga Bestie. Kita bisa saling berbagi satu sama lain," balas Tama.
"Iya ... makasih banyak," balas Anaya.
Setelahnya, keduanya turun dari mobil dan ada Ayah Tendean yang sedang menyirami tanaman di luar rumah. Tentu melihat kedatangan anak, menantu, dan cucunya Ayah Tendean begitu senang.
"Sudah datang?" tanyanya.
"Iya Ayah ... maaf lama yah," balas Anaya.
"Tidak apa-apa. Jadi, udah dapat dodot dan kantong ASIPnya?" tanya Ayah Tendean lagi.
"Sudah dapat kok Ayah. Untungnya ada," balas Anaya.
Terlihat Ayah Tendean melihat Tama yang sedang menggendong Citra dan menunjukkan berbagai jenis tanaman di rumah Opanya itu. Ayah Tendean kemudian mendekat.
"Citra nanti kalau sudah besar bantuin Opa menyirami tanaman yah," ucapnya.
"Iya Opa ... nanti Citra bantuin," balas Tama.
Usai itu Anaya memilih untuk sama ke dalam dan mengganti bajunya, sementara di luar Tama dan Citra tampak menemani Ayah Tendean untuk menyirami tanaman.
__ADS_1