Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Sepiring Berdua


__ADS_3

Perpaduan ranjang yang empuk, AC yang mendinginkan ruangan di dalam kamar hotel, dan sebuah pelukan yang hangat benar-benar membuat Anaya begitu cepat untuk terbuai ke dalam alam mimpi. Agaknya memang pergumulan tadi membuat Anaya benar-benar kelelahan, sampai Anaya dengan cepat tertidur.


Tama masih terjaga. Pria yang melepas status dudanya itu, tersenyum menatap Anaya. “Ini semua terasa seperti mimpi, Anaya … dulu, bahkan aku tidak begitu menghiraukan perasaanmu. Kini, justru aku yang tidak bisa hidup tanpamu, Anaya. Rasanya aneh, tetapi ketulusan hatimu dan kebaikan hatimu benar-benar mengetuk hatiku. Wanita yang akan mencintai Citra melebihi cintanya kepadaku tentu hanyalah kamu. Citra bisa tumbuh dan mencapai perkembangan dengan baik karena kamu. Air Susu Ibu yang kamu berikan membuat Citra tumbuh dengan sangat baik,” ucap Tama dengan lirih.


Cinta datang karena terbiasa, itulah yang Tama rasakan dengan Anaya. Satu tahun bagi orang lain termasuk singkat, tetapi tidak bagi Tama. Sebab, dalam bulan-bulan yang dia lewati sebagai duda, banyak tekanan secara khusus secara mental yang menghantam Tama. Terlebih kala Citra demam entah itu karena tumbuh gigi atau demam usai vaksinasi, membuat Tama merasakan butuh seorang pendamping, Citra membutuhkan seorang Ibu. Sosok Ibu itu Tama lihat dan Tama temukan dalam diri Anaya.


"Anaya, kiranya kebersamaan dan kebahagiaan kita ini akan bertahan untuk selamanya. Aku, kamu, Citra, dan mungkin anak-anak kita nanti. Semoga akan selalu bahagia bersama," ucap Tama lagi.


Usai itu, Tama memilih mengeratkan pelukannya mendekap Anaya. Setidaknya Tama ingin terlelap bersama Anaya. Kini ada kehangatan di ranjangnya. Selama satu tahun, ranjangnya dingin, tidak ada kehangatan dalam pelukan yang melingkari pinggangnya, dan sekarang melihat tangan Anaya yang melingkari pinggangnya membuat Tama tersenyum, pria itu kemudian mendaratkan kecupan yang hangat di kening Anaya.


Chup!


"Aku cinta kamu Anaya ... sejak kapan aku juga tidak tahu. Namun, yang pasti aku cinta kamu. Aku akan melakukan apa pun untuk menghadirkan kebahagiaan dalam hidupmu dan juga melindungimu dari Reyhan."


Setelah Tama memejamkan matanya, dan kemudian terlelap bersama Anaya. Memberikan waktu untuk tubuhnya beristirahat sejenak, dan juga bersiap untuk malam nanti yang sudah menanti.


Mungkin hampir dua jam berlalu, Anaya tertidur. Begitu pulas rasanya, hingga akhirnya wanita itu mengerjap dengan selimut yang sedikit tersingkap di area dadanya. Tentu saja, seketika Anaya merasa kaget terlebih kesadaran belum terkumpul sepenuhnya. Di kala Anaya mencoba mengingat, rupanya ada tangan yang memberikan usapan di kepalanya.


"Sudah bangun?" tanya Tama dengan membawa kepalanya bertumpu di lengannya.


"Hmm, iya," sahut Anaya dengan menarik kembali selimut dan menutupi tubuhnya.


Tidak terbiasa dengan pria, membuat Anaya merasa malu. Walau benar Tama sudah halal baginya tetap saja, Anaya merasa malu dan sungkan karenanya.


"Kamu tidak tidur Mas?" tanya Anaya kemudian.


"Tidur ... cuma aku bangun lebih dahulu. Masih jam 19.00 malam, waktu kita masih panjang," balas Tama.


Ya Tuhan, sekadar mengatakan bahwa waktu masih panjang, Anaya menggigit bibirnya bagian dalam. Mungkinkah itu adalah isyarat yang disampaikan oleh suaminya itu.


"Aku mandi dulu ya Mas ... agak gerah," pamit Anaya kepada suaminya itu.


"Barengan aja," balas Tama.


Anaya dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Eh, jangan Mas ... gantian saja," balasnya.

__ADS_1


Tidak ingin memaksakan kehendaknya, Tama pun menganggukkan kepalanya. Mempersilakan Anaya untuk mandi terlebih dahulu. Bagaimana pun Anaya juga perlu waktu untuk dirinya. Pernah merasakan luka sebelumnya sudah pasti tidak mudah bagi Anaya untuk terbuka dengan seorang pria. Saat Anaya mandi, Tama memilih mengenakan pakaian dan memesan makanan dari restoran hotel. Pikirnya usai mandi, bisa makan malam bersama terlebih dahulu. Bagaimana perut mereka juga butuh untuk diisi.


Selang lima belas menit berlalu, Anaya sudah keluar dari kamar mandi dengan rambut yang setengah basah. Wanita itu mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dan mengaplikasikan serum di wajahnya. Tama mendekat, memberikan usapan di bahu Anaya, "Giliran aku yang mandi yah ... itu aku sudah pesan makanan. Kamu bisa makan dulu," ucap Tama.


"Aku nungguin kamu saja," balas Anaya dengan cepat.


"Kalau sudah lapar, duluan saja," sahut Tama. Dia tidak keberatan jika istrinya itu memilih untuk makan terlebih dahulu.


"Aku mau pumping dulu, ASI-nya sudah penuh," balas Anaya.


"Oh ... tapi kamu bawa pumping?" tanya Tama kemudian.


"Iya, aku selalu bawa kok. Lumayan bisa disimpan di lemari es, dan besok kalau pulang bisa dibawa untuk oleh-oleh Nak Cantik," balas Anaya.


Tama tersenyum, kasih sayang dan perhatian seperti inilah yang membuatnya jatuh cinta kepada Anaya. Kembali jatuh cinta setelah menduda rasanya memang beda. Cara memandang cinta, dan komitmen dalam hubungan juga beda. Jika masih single yang dilihat hanya warna yang terang dan aroma yang manis. Akan tetapi, tidak bagi Tama, harapan untuk masa depan juga dia pikirkan. Anaya mau menerimanya sebagai seorang duda beranak satu.


"Ya sudah ... aku mandi dulu ya, Ay," balas Tama.


Tama segera masuk ke dalam kamar mandi, sementara Anaya masih mengeringkan rambutnya dan kemudian Anaya berniat untuk melakukan pumping terlebih dahulu. Namun, Anaya juga merasa bingung. Melakukan pumping artinya akan membiarkan sumber ASI-nya terlihat, tetapi Anaya lupa membawa kain penutup.


Belum ada separuh botol pumping berukuran 250 ml terisi, Tama sudah keluar dari kamar mandi. Pria tampak tersenyum menatap Anaya yang tengah melakukan pumping. Tanpa ragu, Tama mendekat dan duduk di samping Anaya, seolah mengamati pumping itu seperti apa dan bagaimana botol tampung dari pumping itu benar-benar keluar ASI.


"Pumping seperti ini yah?" tanya Tama.


"Hmm, iya ... agak sanaan Mas ... malu," balas Anaya.


Tama tampak tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Sudah halal, Sayang ... tidak usah malu. Apa benar sih kalau habis meng-ASI-hi atau pumping gitu perut rasanya lapar ya Sayang?" tanya Tama.


"Iya ... kadang kala rasanya haus dan lapar. Cuma aku lebih sering haus," balas Anaya.


Tama kemudian mengambil Nasi Goreng yang sudah dia pesan dari hotel, "Yuk, sambil makan yah ... aku suapin. Nutrisi kamu keambil dalam ASI itu buat Citra, sekarang Mamanya Citra juga makan dulu," ucap Tama.


Sebenarnya ragu, tetapi Anaya pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Tama. Suaminya itu terlihat tidak ragu untuk menyuapinya bahkan menyeka sisa nasi yang menempel di bibirnya.


"Kamu makan sekalian saja Mas ...."

__ADS_1


"Sepiring berdua saja yah? Atau kalau habis baru makan yang itu," balas Tama.


"Ya sudah, terserah kamu saja," balas Anaya.


Sehingga malam itu di kala Anaya melakukan pumping untuk mengeluarkan ASI-nya, suaminya begitu telaten untuk menyuapinya. Begitu satu botol tampung berukuran 250 ml terisi penuh, habis juga sepiring nasi goreng untuk keduanya.


"Sebentar ya Mas ... aku masukkan ke kantong ASIP dulu," ucap Anaya.


"Bawa kantongnya?" tanya Tama.


"Iya, bawa ... itu di meja," balas Anaya.


ASI yang semula di botol tampung dia pindahkan ke kantong ASIP, kemudian melakukan pumping untuk sumber ASI yang satunya. Sebab, dua-duanya harus dipumping, jika tidak tentu saja rasanya akan sakit dan bisa bengkak.


"Oh, aktivitas Busui itu seperti ini ya Sayang?" tanya Tama yang memang baru tahu step by step melakukan pumping dengan menggunakan pumping elektrik.


"Iya Mas ... besok bisa buat oleh-oleh untuk Citra," balas Anaya lagi.


Dua piring nasi goreng pun tandas dengan sembari melakukan pumping. Tama juga melihat sedikit bagaimana kinerja pumping elektrik yang benar-benar peristaltik itu sehingga bisa memompa ASI untuk keluar.


"Produksi ASI-nya melimpah ya, Ay ... pantas saja Citra jadi gemoy," balas Tama.


"Iya, karena minum ASI booster yang kamu belikan setiap bulan itu. Makasih ya Mas ... karena ada Citra, aku yang sebenarnya seorang Ibu yang tidak sempurna, tetapi bisa merasakan bagaimana merawat bayi, memberikan ASI untuk bayi, dan kini aku double senengnya karena aku menjadi Mamanya Citra," balas Anaya.


"Sama-sama Sayang ...  kamu juga melengkapi aku dan Citra. Makasih banyak yah," balas Tama.


***


Dear Bestie,


Kisah ini masih lama yah ... kita buatkan adik buat Citra dulu yah? Setuju enggak? Selain itu, masih akan memberikan pelajaran untuk Reyhan. Jadi, ikutin selalu alurnya yah.


Jangan lupa ikutan Give Away dan follow nama pena Author yah, biar nanti bisa dihubungi untuk pemberian hadiahnya. Selalu dukung dan ikuti selalu.


Saranghae, :D

__ADS_1


__ADS_2