Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Dosen Tak Terduga


__ADS_3

"Selamat siang semuanya ...."


Seorang dosen wanita yang berparas cantik. Kala itu dosen wanita itu mengenakan Dress Batik di bawah lutut. Pembawaannya yang anggun dan juga santun. Membuat para mahasiswa mengalihkan atensinya sepenuhnya kepada Bu Dosen.


Namun, Anaya merasa terhenyak di sana. Sebab, wajah Dosennya itu begitu familiar untuknya. Anaya berpikir di mana dia pernah melihat wajah seperti ini. Anaya sampai menggaruk kepalanya perlahan walau kepalanya sama sekali tidak gatal dan berpikir, mencoba menemukan memori dalam ingatannya.


"Selamat siang Bu," sahut para mahasiswa dengan serentak.


Lantas Dosen itu menempatkan dirinya di depan dan menghadap ke para mahasiswanya. Sekali lagi Dosen itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyapa para mahasiswanya.


"Selamat datang di pertama perdana mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak. Psikologi Perkembangan Anak sendiri adalah mata kuliah dasar untuk para mahasiswa yang mengambil Pendidikan Anak Usia Dini. Nah, sebelumnya kita kenalan dulu yah ... pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Oleh karena itu, kita akan kenalan terlebih dahulu."


Kalimat pembuka yang begitu baik dan juga diucapkan dengan santun dan lembut dari wanita yang begitu cantik mengenakan batik itu.


"Perkenalkan nama saya Khaira Amaira Wibisono, saya akan mengampu mata kuliah ini selama satu semester," salam perkenalan dari Dosen yang bernama Khaira Amaira Wibisono itu.


Sekilas mengenai Khaira, dia adalah dosen yang direkrut langsung oleh pihak kampus setelah Khaira menyelesaikan kuliahnya di University of Manchester. Peraih skripsi terbaik dan juga nilai PPL terbaik itu, akhirnya bergabung dengan almamaternya dan memberikan ilmu untuk para mahasiswa di sana.


Mendengar nama Khaira, barulah Anaya ingat kembali dengan foto wisuda suaminya kala S1 dulu. Foto Tama dengan seorang wanita cantik dan di belakang foto berukuran 4R itu tertulis nama Khaira di sana.


"Ah, aku ingat ... jadi ini yang namanya Khaira Amaira. Gadis yang kala itu berfoto dengan Mas Tama di hari wisudanya," gumam Anaya dengan lirih.


(Potongan adegan wisuda Tama dan Khaira ada di novel berjudul Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta Bab 52. Bisa mampir. Cuma hanya satu adegan saja di sana. :D)


Anaya tampak mengamati Khaira dengan begitu intens, dari kepala hingga ujung kaki. Di mata Anaya sendiri, terlihat bahwa Khaira itu terlihat wanita yang pandai, santun, dan begitu baik dalam merangkai kata-kata.


"Pinter dan cantik banget gini ... pantesan Mas Tama naksir sama dia. Ya ampun, wanita hebat yang cantik dan pintar seperti ini suaminya kayak apa yah? Mas Tama yang cakep saja ditolak, apakah suaminya juga cakep dan orang yang hebat?"


Bukan fokus dengan perkenalan Khaira, tetapi Anaya justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Seketika Anaya percaya bahwa teman kuliah S1 suaminya itu adalah sosok yang smart dan juga memiliki aura positif yang bagus.

__ADS_1


"Ada yang ingin ditanyakan?" tanya Khaira kepada mahasiswanya itu.


"Sudah menikah dan memiliki anak Bu?" tanya seorang mahasiswa.


Khaira pun menganggukkan kepalanya di sana, "Ya, saya sudah menikah. Justru menikah muda saya, sehingga sekarang anak saya sudah dua. Nama saya yang lengkap sebenarnya hanya Khaira Amaira, tetapi saya menyertakan nama belakang suami saya karena saya ingin menunjukkan bahwa dalam setiap apa yang saya kerjakan, nama suami saya tetap terbawa dengan apa yang saya lakukan," jelas Khaira.


"Kenapa lulusan luar negeri, memilih menjadi dosen Bu?" tanya mahasiswa yang lain.


"Sebab, mengajar adalah passion saya. Rasanya bisa kembali ke almamater dan memberikan yang terbaik dengan berbagi ilmu dengan mahasiswa itu sangat menyenangkan. Terlebih sekarang, pembelajaran itu inovatif, pun demikian dengan psikologis banyak pendekatan dan alternatif dalam setiap tahap tumbuh kembang anak. Berawal dari kuliah Teknologi Pendidikan, akhirnya saya memilih consern ke pendidikan dan parenting anak, jadi sekarang saya di sini ... di hadapan kalian semua," balas Khaira.


Merasa bahwa Khaira sudah berkenal dan membuka kelas dengan cukup lama. Kini Khaira meminta para mahasiswanya untuk berkenalan. Bisa menyebutkan nama, dan apa yang ingin didapatkan dari mata kuliah ini.


Satu per satu mahasiswa pun mulai mengenalkan namanya, hingga tiba di giliran Anaya. Di tatap Khaira dari jarak yang tidak begitu jauh membuat Anaya merasa grogi. Akan tetapi, Anaya menguatkan hatinya sendiri, wanita itu kemudian mulai bersuara.


"Selamat siang semuanya ... perkenalkan saya Anaya. Sebenarnya saya lulus S1 sudah lima tahun yang lalu, tetapi ingin belajar karena saya seolah dibangkitkan lagi passion saya untuk belajar. Yang diharapkan dari mengikuti mata kuliah ini adalah ingin mendapatkan berbagai ilmu mengenai pengasuhan anak yang bermanfaat untuk anak saya," jawab Anaya.


Tampak di depan Khaira menganggukkan kepalanya dan tersenyum, "Mungkin di mata kuliah ini nanti bisa membantu Anaya yah ... Sebagai Psikologi perkembangan anak akan mempelajari tentang pikiran dan perilaku si Kecil. Pikiran dan perilaku Si Kecil ini tidak hanya terdiri masa bayinya saja, tetapi sejak masa prenatal (masa sebelum bayi dilahirkan, ketika dia masih berada di rahim ibunya) sampai dia remaja. Dengan begitu, psikologi perkembangan anak tidak hanya membahas tentang perkembangan fisik anak, tetapi juga mental, emosional, dan sosial. Kalau boleh tahu anaknya berusia berapa tahun?" tanya Khaira kemudian.


"Wah, sedang aktif-aktifnya, banyak eksplorasi dan tidak lama lagi akan bisa berjalan dan berbicara. Nanti Anaya bisa langsung mengamati perkembangan anak dari baby-nya sendiri yah. Percayalah melihat tumbuh kembang seorang anak dengan mata kepala sendiri itu menakjubkan. Bagaimana tidak takjub, jika kali dia dilahirkan rasanya si baby masih begitu rapuh, indera penglihatannya masih kabur, dan juga begitu mungil. Akan tetapi, bertambah hari, bertambah minggu, perkembangan anak itu sangat pesat. Itu baru perkembangan secara fisik. Belum perkembangan otaknya, emosinya, dan sosialnya. Oleh karena itu, ada satu momen di mana orang tua harus menempatkan diri sebagai sahabat anak."


Khaira memberikan penjelasan. Bagi Anaya sendiri, terasa passion mengajar yang dimiliki Khaira. Tidak hanya sebatas memberikan ilmu yang sifatnya hafalan, tetapi apa yang dijelaskan Khaira bisa diterima dengan baik dan setiap ucapannya ada yang menggetarkan hatinya sebagai seorang ibu.


Oleh karena kuliah yang begitu mengasyikkan waktu dua jam rasanya begitu cepat berlalu. Khaira segera menutup kelasnya, dan akan kembali lagi di minggu depan.


Begitu kelas usai, Anaya segera mengirimkan pesan kepada suaminya untuk menjemputnya. Kemudian Anaya berjalan ke depan dan menunggu suaminya di dekat parkiran fakultas. Tidak Anaya sadari ternyata Dosennya, Khaira pun juga baru saja keluar dan tampak menunggu seseorang yang menjemputnya.


Merasa sudah saling kenal, Khaira pun menyapa Anaya di sana.


"Hei, ketemu di sini. Menunggu dijemput yah?" tanya Khaira yang menyapa Anaya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Iya Bu ... masih menunggu jemputan datang. Bu Khaira sendiri dijemput juga kah?" tanya Anaya.


"Iya, sudah mau sampai katanya ... semoga tidak membuat saya menunggu terlalu lama," ucapnya.


Dengan menunggu, beberapa kali keduanya terlibat obrolan dan Anaya bisa merasakan bahwa Khaira adalah orang yang mudah akrab dan membuat orang yang diajaknya mengobrol merasa nyaman. Hingga akhirnya sebuah mobil berwarna abu-abu, berhenti tidak jauh di depan Anaya dan Khaira. Tampak seorang pria tampan yang turun dari mobil itu, dan berjalan ke arah Khaira di sana.


"Menunggu lama?" tanya pria itu.


"Tidak, baru lima menit," balasnya.


"Ya sudah, pulang yuk Sayang ... Syilla dan Shaka sudah menunggu Mamanya datang," balasnya.


Khaira lantas berpamitan dengan Anaya dan pulang bersama suami tercintanya yang menjemputnya kala itu.


Dari tempatnya berdiri, Anaya melihat keduanya adalah pasangan yang harmonis.


"Suaminya juga tampan dan terlihat cinta banget sama Bu Khaira ... apa karena pria itu cintanya Mas Tama jadi tertolak begitu saja?" tanya Anaya dalam hati.


Terlalu memikirkan kisah lama Tama dengan Dosennya itu, sampai Anaya tidak menyadari jika mobil suaminya sudah berhenti tepat di hadapannya.


"Hei My Love ...."


Tama menyapa dan segera turun dari mobilnya berjalan ke arah Anaya.


"Kok bengong sih. Emangnya ada apa?" tanya Tama kemudian.


Dengan cepat Anaya menggelengkan kepalanya, "Eh, enggak kok ...."


"Ya sudah, kita pulang sekarang?" tanya Tama kemudian.

__ADS_1


Tama segera membukakan pintu mobil bagi Anaya, dan kemudian pria itu menutup pintunya perlahan, barulah Tama mengitari mobil dan segera duduk di balik stir kemudi.


Bagi Tama sendiri, begitu senang rasanya bisa menjemput istrinya itu. Rupanya menjemput sang istri sekaligus membuat Tama bernostalgia dengan kampusnya dulu.


__ADS_2