
"Ya sudah, begitu sampai di rumah, obatnya diminum ya Citra ... sehat-sehat selalu. Kapan nih Citra main ke rumahnya Paman Dokter ... biar bisa main sama Kak Aksara dan Kak Airlangga tuh di rumah. Mainlah ke sana kalau weekend, biar Citra belajar berteman sama Kakak-Kakaknya yah," ucap Dokter Bisma.
"Nanti kapan-kapan ya Uncle ... nanti Citra main ke sana," balas Tama dengan sedikit tersenyum.
"Oke Tam ... yang sabar yah. Di saat seperti ini rasanya butuh banget sosok wanita ya Tam?" tanya Dokter Bisma.
Dengan cepat Tama pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... di saat Citra gak enak badan kayak gini, aku merasa gak berguna banget. Menjadi Papa tunggal itu enggak enak, Mas. Ibarat cuma bisa berdiri dengan satu kaki. Ada kalanya aku goyah, bahkan tak bisa lagi berdiri. Cuma, kalau kebayang wajahnya Citra, aku berusaha untuk bangkit walau hanya dengan satu kaki," balas Tama.
Dokter Bisma pun menepuki bahu kerabatnya itu, "Kenapa enggak menikah lagi? Tidak apa-apa menikah lagi untuk memberikan Ibu bagi Citra," sahut Bisma.
"Belum siap Mas ... baru hampir tujuh bulan juga. Rasanya aku masih belum bisa melupakan Cellia," aku Tama dengan jujur.
Bagi orang lain atau pria yang lainnya, tujuh bulan rasanya begitu lama. Namun, tidak bagi Tama. Dalam tujuh bulan ini rasanya juga belum siap untuk melangkah ke fase hidupnya yang selanjutnya. Tama lebih memilih giat bekerja dan juga mengasuh Citra. Lagipula, Tama takut kehilangan lagi. Jika, sampai hal itu terjadi ... entahlah apa yang terjadi, mungkin saja Tama tak akan mampu untuk berdiri lagi.
"Jangan dilupakan, tetapi tempatkan dia secara spesial di hatimu. Bagaimanapun Cellia dan semua kisahnya akan tetap bersemi di hati kamu. Hanya saja, coba untuk buka pintu hatimu untuk yang lain. Pasti adalah wanita yang mau menerima kamu dan juga Citra," balas Dokter Bisma.
"Ya, doakan saja Mas ... hanya saja, kalau pun aku menikah lagi yang aku pikirkan adalah Citra. Kuharap dia akan sayang sama Citra. Jika bisa melebihi sayangnya ke aku," balas Tama.
Hal itu memang terdengar klise. Namun, Tama juga tidak mau jika mendapatkan istri nanti yang hanya cinta kepadanya, tetapi tidak menyayangi Citra dengan tulus. Bahkan sekarang Tama memiliki kriteria bahwa lebih baiknya, istrinya nanti justru lebih sayang kepada Citra daripada kepada dirinya. Sebab, wanita yang sayang kepada Citra, sudah pasti akan sayang kepadanya. Sementara wanita yang hanya sayang kepadanya, belum tentu bisa sayang kepada Citra. Sebab, ada kalanya menikahi duda hanya sekadar mendapatkan dudanya dan hartanya, tetapi tidak dengan anaknya.
__ADS_1
Sementara Tama tak menginginkan semua itu terjadi. Baginya, jikalau nanti dia sudah siap, Tama ingin wanita yang akan menikahinya adalah wanita yang mencintai Citra lebih besar daripada dia. Tama tak akan ragu untuk mempersunting wanita yang seperti itu.
"Pasti ada Tama ... semoga segera bertemu dengan wanita yang aku idam-idamkan dan masuk kriteriamu itu," balas Dokter Bisma.
“Atau mungkin wanita itu sebenarnya sudah ada di depan matamu, tapi kamu tidak menyadarinya,” ucap Dokter Bisma dalam hati.
Ya, ini adalah ucapan dalam hati Dokter Bisma saja, tetapi tak mampu terucapkan secara langsung. Sebab, Dokter Bisma sebagai seorang kerabat yang dekat dengan Tama menginginkan Tama bisa mendengar isi hatinya, peka dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Mungkin saja Tuhan memang menempatkan calon jodoh kita tidak terlalu jauh dari jarak pandang kita.
Tama kemudian tersenyum, Single Daddy itu sudah berdiri dan menggendong Citra ala kangguru style, mendekatkan kepalanya Citra menempel di dadanya. Kemudian, Tama pun berpamitan kepada Dokter Bisma.
"Baiklah Mas Dokter ... aku pamit yah," ucapnya.
"Oke Mas ... siap. Terima kasih banyak," balas Tama.
Papa muda berstatus duda itu kemudian segera keluar dari ruangan pemeriksaan, membayar biaya pemeriksaan, dan juga menunggu obat yang diberikan oleh Dokter Bisma. "Sebentar ya Sayang ... Papa bayar dulu dan ambil obat untuk kamu yah," balas Tama.
Sementara Mama Rina yang menunggu di luar pun segera menghampiri Tama yang menunggu obat di apotek yang juga berada di dalam klinik itu.
"Gimana Tam?" tanya Mama Rina.
__ADS_1
"Demam tumbuh gigi, Ma ... syukur bukan karena suatu penyakit serius. Semoga segera sembuh. Kasihan badannya panas dan dia rewel kayak gini," balas Tama.
"Lalu, gimana nanti, dikasih obat?" tanya Mama Rina lagi.
"Iya, biasa Ma ... paracetamol saja untuk pereda nyeri dan demam saja. Toh kan juga hanya demam dan juga gusinya yang bengkak karena mau tumbuh gigi. Syukurlah Ma … soalnya bukan sakit yang serius. Cuma mungkin saja nanti selera makannya Citra bakalan turun, Ma," balas Tama.
Setelah obat sesuai resep sudah diberikan, Tama kemudian menyerahkan Citra dalam gendongan Mama Rina. Dia segera mengemudikan mobil untuk kembali ke rumahnya. Semoga saja sepanjang malam ini Citra tidak rewel. Jika Citra rewel, sudah pasti Tama merasa panik.
"Kalau tumbuh gigi biasanya bayi lebih sering ne-nen loh Tama ... gimana? Biasanya bisa semalaman tuh bayi menghisap sumber ASI saja sepanjang malam. Dulu kamu waktu bayi seperti itu soalnya," balas Mama Rina.
Tama menghela nafas yang terasa berat, "Gimana lagi Ma ... Citra tidak punya Ibu yang akan membiarkannya untuk menghisap sumber ASI sepanjang malam. Di pagi hingga sore hari, dia punya Anaya sebagai Ibu Susunya, di malam hari yang dia punya hanya nipplee karet saja dari dodotnya," balas Tama.
Mendengar apa yang disampaikan Tama barusan membuat Mama Rina juga merasa kasihan kepada putranya itu. "Ya, yang sabar ... atau kita minta Onty Anaya untuk menginap. Mama tidak masalah," balas Mama Rina.
Ya, mungkin saja itu bisa menjadi solusi saat Citra memang tumbuh gigi dan di malam hari akan sering rewel dan mencari-cari sumber ASInya. Namun, mengingat bahwa harus bermalam sepanjang malam, Tama pun merasa kasihan kepada Anaya.
"Semalam ini biar Tama yang jaga saja Ma ... tidak apa-apa," balas Tama dengan yakin.
“Kamu yakin Tama? Kalau kamu yakin tidak apa-apa. Yang penting kamu tidak panik saja. Soalnya pasti panik kan kalau bayinya rewel apalagi pas malam hari,” pesan dari Mama Rina kepada Tama.
__ADS_1
Tama hanya ingin tidak begitu merepotkan Anaya. Apalagi dari pagi sampai petang, Anaya sudah mengasuh Anaya dan juga memberikan ASI eksklusif untuk Citra, membuat Tama merasa tidak sampai hati jika harus merepotkan Anaya di malam hari yang mungkin saja bisa membuat Anaya begadang karena memang Citra yang sedang demam dan banyak rewelnya.