
Sore itu, ketika Tama sudah pulang dari bekerja. Si Papa muda itu sudah mandi dan kini sedang bermain dengan Citra di playmart. Ada sejumlah buku-buku yang Citra ambil dan berikan kepada Papanya.
"Ni ... ni," ucap Citra yang seolah meminta supaya Papanya mau membacakan buku sesuai yang dia mau.
"Mana Nak ... Citra Sayang mau Papa bacain buku yang mana?" tanya Tama yang merasa senang bisa mengisi waktu di sore hari dengan Citra.
"Aa ... papapa ... ni," sahut Citra yang seolah ingin mengatakan, "Ini Papa," tetapi karena bicaranya belum jelas, sehingga Citra hanya bisa mengatakan kata dengan sekenanya saja.
"Sini Papa bacakan yah ... bukunya judulnya Sayang," ucap Tama.
Buku berwarna hitam dan putih tanpa dialog itu memang sengaja dibuat untuk menstimulasi indera penglihatan anak, dan memicu orang tua untuk berkreasi dalam mengintepretasikan gambar dalam bahasa yang sederhana kepada anak. Dengan demikian, bounding dengan anak menggunakan buku pun rasanya begitu menyenangkan.
Setiap kali Tama bercerita, tampak Citra yang tersenyum di sana. Bahkan Citra membalas dengan celotehan-celotehan khas bayi yang begitu khas. Sampai rasanya, Tama merasa gemas karenanya. Akan tetapi, waktu Tama dan Citra terjeda dengan kedatangan Anaya. Rupanya Citra langsung mendekat ke arah Mama.
"Ama ... ma," ucapnya.
"Iya Nak Cantik ... ini Mama," sahut Anaya. Lantas Anaya menatap suaminya itu, "Baru ngapain nih Papa sama Nak Cantik?" tanyanya.
"Baru baca buku ... eh, Mama malahan datang," balasnya.
Anaya pun tersenyum di sana, "Maaf ... kalian berdua baru me time berdua yah?" tanyanya.
"Iya ... me time sama Nak Cantiknya Papa," balas Tama.
"Mas, ini kita di suruh main ke rumah Ayah tuh," ucap Anaya kemudian yang memberitahukan kepada suaminya bahwa mereka diminta untuk main ke rumah Ayah Tendean.
"Hmm, tumben ... ada apa emangnya Yang?" tanya Tama di sana.
"Teman lamanya Ayah datang ... Dokter juga, hanya saja bertugas di Surabaya. Namanya Om Dedy, dia datang dengan putranya yang sekarang juga menjadi Dokter namanya Dicky," cerita Anaya kepada suaminya itu.
__ADS_1
"Ya sudah ... siap-siap saja Sayang. Kita ke sana sebentar," balas Tama.
Anaya dan Citra pun bersiap, walau hanya ke rumah Ayahnya, tetapi Anaya memilih memakai kemeja supaya lebih sopan karena ada sahabat Ayahnya yang datang berkunjung.
Begitu sudah sampai di rumah Ayah Tendean, rupanya Om Dedy dan putranya sudah terlebih dahulu tiba di sana. Mereka pun memberikan salam dengan berjabat tangan dengan Om Dedy, hingga akhirnya seorang pemuda yang tampan dan berusia kurang lebih 29 tahun tampak berdiri ketika Anaya datang.
"Anaya," sapanya dengan tanpa ragu memeluk Anaya begitu saja.
Sontak saja, Tama menyipitkan kedua matanya melihat seorang pemuda yang tiba-tiba memeluk Anaya tanpa izin itu. Bagaimana pun Anaya adalah istrinya dan Tama sangat tidak suka jika ada pria lain yang memeluk Anaya.
"Bagaimana kabarmu Anaya? Sudah berapa sepuluh tahun yah kita tidak bertemu," ucap pemuda tampan yang berprofesi sebagai Dokter itu.
Anaya hanya menganggukkan kepalanya, lantas dia menoleh kepada Tama yang berdiri sedikit di belakangnya. "Eh, kenalin ini suami aku, Kak ... namanya Mas Tama ..., dan Mas Tama ini Kak Dicky," ucapnya.
"Tama."
"Dicky."
"Kenalin, dia suaminya Anaya," ucap Ayah Tendean.
"Loh, Anaya sudah menikah yah? Kirain masih lajang. Tiwas Om itu mau melamar kamu untuk Dicky. Kan Om dan Ayah kamu itu sahabatan sejak lama, jadi kalau anak-anaknya saling menikah kan bagus. Wah, kamu kalah cepat Dic," ucap Om Dedy.
Mendengar bahwa Om Dedy itu datang untuk melamar Anaya, jujur saja telinga Tama menjadi panas rasanya. Namun, Tama merasa harus mengendalikan emosinya. Menahan bara api di dadanya.
"Iya Pa ... harusnya Dicky datang lebih cepat. Tidak mengira Anaya sudah menikah," balasnya.
Lantas Anaya hanya tersenyum di sana. Tidak ingin merespons ucapan dari Om Dedy dan Dicky. Sebab, dia tahu bahwa Tama walau diam dan senyum-senyum seperti biasanya, pastilah suaminya itu merasa cemburu.
"Kalau aku sih tidak berniat menjodohkan Anaya, biar dia menentukan sendiri jodohnya, dan Tama adalah pria yang tepat untuk mendampingi Aya," balas Ayah Tendean.
__ADS_1
Ketika Ayah Tendean mengatakan Tama adalah pria yang tepat untuk mendampingi Anaya, jujur saja hati Tama dibesarkan di sana. Hingga Tama memilih untuk tenang. Menunjukkan kecemburuan di depan umum, juga tidak ada gunanaya.
"Wah, saya kalah kualifikasi berarti ya Om ... padahal saya kira, saya bisa mendampingi Anaya yah?" tanya Dicky lagi.
"Sudah menikah berapa lama An?" tanya Dicky.
"Baru saja ... sebulanan," jawabnya.
"Lah, baru saja dong ... lalu, dia putrimu?" tanya Dicky.
"Iya, dia anakku. Anak kami," balas Anaya.
Tampak Om Dedy menatap Anaya di sana. Jika menikah baru sebulan, apakah anak yang sekarang dipangku Tama adalah anak yang lahir di luar nikah. Atau keduanya memiliki anak dulu baru menikah.
Tama lagi-lagi memilih diam. Bagaimana pun Om Dedy dan Dicky adalah sahabat untuk Ayah Tendean dan sahabat lama untuk Anaya. Jadi, dia akan menyerahkan semuanya kepada Anaya saja. Sekarang cukup dia menenangkan dirinya dan menyembunyikan rasa cemburu di dalam hatinya dengan Dicky yang tampak suka pada istrinya itu.
***
Dear My Bestie,
Author punya cerita baru yang disusun berdasarkan kisah nyata nih. Dukung juga karya Author yang berjudul Muara Kasih Ibu Tunggal. Cerita ini disertakan dalam event Pengembangan Diri Single Mom yang tangguh. Kiranya Bestie semua bisa mendukung yah. Jangan lupa masukkan ke dalam rak dan ikuti kisah Ervita di sana.
Dalam Muara Kasih Ibu Tunggal, Author akan menyoroti problematika seorang wanita yang hamil di luar nikah tanpa ada pria yang mau bertanggung jawab. Ada kalanya keadaan memaksa kita untuk kuat. Pendekatan secara psikologis juga akan disajikan di sana.
Yuk, serbu yukkk ... :D
Love U All,
__ADS_1
Kirana