Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Obat Sakit Kepala


__ADS_3

Bagi seorang pria sehat dan normal, berpuasa dalam tempo dua minggu itu tentu membuat pusing tujuh keliling. Ditambah bisa melihat istrinya, tetapi ibarat kata tidak bisa menyentuhnya. Namun, mau bagaimana lagi jika memang mereka dianjurkan untuk menunda berhubungan terlebih dahulu.


Memang Dokter Indri menyebutkan bahwa kesiapan satu pasangan dengan yang lain itu berbeda-beda. Akan tetapi, Tama pun juga tidak mau mengambil risiko. Berkaitan dengan Anaya, dia rela berpuasa. Namun, hari ini rasanya Tama begitu pening. Ditambah pekerjaan yang terkendala dan server sempat down membuat pening sang IT Engineering itu. Sehingga, ketika sore pulang, wajah Tama begitu kusut.


"Papa pulang," ucapnya begitu sampai di rumah.


Akan tetapi, wajah Tama terlihat begitu kusut. Kemeja panjang yang dia gunakan saja sampai dilipat hingga ke siku. Padahal biasanya, Tama selalu tampil rapi dan tidak pernah menggulung kemejanya.


"Halo Papa ... kok kusut sih?" tanya Anaya yang mempertahankan penampilan suaminya itu.


"Server di perusahaan tadi sempat down, Sayang ... capek banget. Pusing," keluhnya.


Padahal biasanya Tama tidak pernah mengeluhkan capek dan pusing tiap kali pulang kerja. Akan tetapi, kali ini Tama benar-benar merasa begitu pusing.


"Ya sudah, mandi dulu ya Papa ... Mama buatkan Teh hangat untuk Papa, biar fresh dan tidak pusing," balas Anaya.


Dengan menggendong Citra, Anaya pun menuju ke dapur. Menyeduh racikan teh tubruk dengan aroma melati. Sementara Tama memilih mandi dengan air dingin. Rasanya benar-benar pening, kendala utama yang sangat dihindari staf IT adalah ketika server down atau data yang tidak di-back-up. Sehingga Tama benar-benar berdiam di bawah guyuran air shower yang dingin. Hampir dua puluh menit, Tama berada di bawah shower, kemudian barulah dia turun menuju ke dapur.


"Tehnya Papa," ucap Anaya.


"Makasih My Love," ucap Tama yang memilih untuk di meja makan dan kemudian mencecap teh dari cangkir.


"Musuh besarnya staf IT itu kalau server down ya Mas," balas Anaya.


Tama kemudian menaruh cangkir itu di atas meja, kemudian membalas ucapan Anaya. "Benar banget Sayang. Kelihatannya tadi hosting yang overload lalu IPnya terblokir. Jadi ya sudah," balas Tama.


Setidaknya dulu Anaya pernah bekerja satu perusahaan dengan Tama dan di bagian IT Support. Sehingga sedikit banyak Anaya juga tahu berbagai kendala bagi mereka yang bekerja di bidang teknologi.


"Ya sudah, istirahat dulu saja Mas. Kelihatan kusut gitu," balas Anaya.

__ADS_1


Membiarkan Tama rileks sejenak dengan Teh beraroma Melati yang masih hangat. Sementara Anaya mengajak Citra jalan-jalan di taman kecil yang ada di depan rumahnya. Ya, sisi kanan rumahnya Anaya ubah menjadi taman kecil dan ada beberapa tumbuh yang dia tanam di sana. Berbagai aglonema, hingga bunga cantik manis, semuanya tumbuh subur di sana.


Citra yang terbiasa jalan-jalan sore bersama Papanya, kini jalan sore bersama Mama dulu. Anaya tahu ketika server down, itu adalah pekerjaan yang membuat staf IT menjadi begitu pusing.


Namun, hanya berselang sepuluh menit. Tama sudah keluar dan menyusul Anaya dan Citra. "Sini, jalan-jalan sama Papa yuk ... Mama sudah seharian ngasuh kamu, sekarang gantian Papa," balas Tama.


"Enggak apa-apa, Mas ... kamu kan pusing. Istirahat dulu saja," balas Anaya.


Akan tetapi, Tama menggelengkan kepalanya, "Parenting itu berbagi Sayang. Bagaimanapun kamu juga capek seharian mengasuh Citra," balas Tama.


Sebenarnya Anaya sama sekali tidak keberatan, tetapi karena Tama yang memaksa dan menganggap bahwa dirinya harus ikut andil dalam tumbuh kembang Citra, sehingga Anaya membiarkan saja jika Tama turut mengasuh Citra sore itu.


Sehingga sore itu dilewati Tama untuk mengajak Citra jalan-jalan sore. Pun demikian sampai malam, Tama juga yang meminta kepada Anaya untuk menidurkan Citra. Sehingga Anaya menunggu saja suaminya itu di dalam kamarnya. Anaya memilih menyelesaikan tugas resume di kuliahnya.


Hampir setengah jam berlalu, Tama keluar dari connecting door yang terhubung langsung ke kamarnya. Terlihat Tama segera menaiki ranjang, sementara Anaya masih duduk di sofa dan mengerjakan tugas kuliahnya.


"Iya sudah Sayang," balas Tama. "Kamu baru ngapain?" tanya Tama kemudian.


"Menyelesaikan tugas resume, Mas ... sebentar ya Mas," balas Anaya.


Tama menganggukkan kepalanya, tetapi pria itu sudah berbaring dan menyelimuti dirinya. Agaknya benar-benar pusing, sampai Tama sudah berbaring padahal jam masih menunjukkan kira-kira jam delapan malam.


Hampir setengah jam, Anaya menyelesaikan tugas resume, dan Tama tampak berbaring dengan memejamkan matanya dan memijiti keningnya. Mungkin benar-benar pening, sampai Tama memilih diam dan juga tidak banyak berbicara.


"Sudah tidur?" tanya Anaya kemudian.


"Belum Sayang," balas Tama.


"Pusing banget yah?" tanya Anaya lagi.

__ADS_1


"Iya ... mau obat sakit kepala, Yang ...."


Kali ini Tama mengulurkan tangannya dan meminta obat pereda sakit kepala karena memang kepalanya begitu pening. Bahkan sampai tengkuknya terasa begitu kencang. Sementara Anaya bukan turun untuk mengambilkan obat. Melainkan, Anaya justru menyusup ke dalam selimut. Bahkan dengan nakalnya, tangan Anaya menyentuh pusaka milik suaminya.


“Eh, Yang … Sayang,” ucap Tama dengan kaget dan juga bingung. Sebab, tiba-tiba Anaya melakukan semuanya itu dan tidak memberitahu terlebih dahulu kepadanya.


Tentu yang dilakukan Anaya, adalah obat pusing yang bisa membuat Tama tidur nyenyak malam ini. Bahkan Tama menengadahkan wajahnya, dan menghela nafas. Sungguh, ini adalah obat pusing yang membuat Tama langsung sembuh total.


“Oh … Sayang … Anaya,” de-sahan meluncur dari bibir Tama. Dengan mata terpejam. Sungguh, apa yang dilakukan Anaya dari balik selimut itu hanya Anaya sendiri yang tahu.


Namun, ketika Tama merasa sudah tidak mampu lagi bertahan, dia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, dan menghalau wajah Anaya dari bawah sana, hingga semburan larva pijar tumpah ruah di perutnya.


Tama terengah-engah dengan menyebut nama Anaya. “Astaga, Sayang … kamu bikin aku jantungan,” ucap Tama.


Tidak berselang lama, Tama meraih tissue yang ada di atas nakas, dan membersihkan perutnya. Pria itu kemudian menatap wajah Anaya yang bersemu merah di sana. “Nakal banget sih kamu, yang ngajarin siapa coba?” tanya Tama.


“Kan les privat darimu dulu,” balas Anaya dengan menundukkan wajahnya.


“Bisa saja. Jadi erupsi vulkanologi lagi loh,” balas Tama.


Anaya terkekeh di sana, “Udah sembuh kan pusingnya?”


“Langsung sembuh, bablas pusingnya,” balas Tama dengan bahunya yang bergidik. Pria itu bahkan tersenyum puas di sana.


“Ya sudah, kalau sudah sembuh tidur Mas Suami … kan sudah sembuh. Sebenarnya kamu pusing kerja atau pusing karena puasa?” tanya Anaya yang terlihat menelisik.


“Dua-duanya Sayang … makasih ya kejutannya yang sukses buat aku jantungan,” balas Tama dengan mendekap tubuh istrinya itu.


Jantungan tapi mantap jiwa ya Mas Tama? Wkwkwk … Kabur ….

__ADS_1


__ADS_2