
Kali ini Tama agaknya tidak akan membiarkan Reyhan bebas dengan mudah, mendengar apa yang disampaikan pihak berwajib, Tama akan membuat laporan juga supaya Reyhan bisa menerima ganjarannya. Walaupun ganjaran itu harus didapat dengan mendekam di dalam jeruji besi. Tama kembali berjalan menghampiri istrinya, dan menggenggam tangannya.
“Pulangnya sebentar ya Yang … kita ke kantor kepolisian dulu,” ucap Tama.
“Ngapain Mas? Kamu tidak ditangkap karena mau berantem tadi kan?” tanya Anaya. Bahkan saking begitu khawatirnya, Anaya sampai meneteskan air matanya. Takut, jika suaminya itu turut terseret karena tadi hendak berantem dengan Reyhan.
Dengan cepat Tama menggelengkan kepalanya, pria itu justru tersenyum dan menyeka bulir air mata di wajah istrinya, “Tidak … siapa juga yang mau menangkap aku. Kita ke sana, untuk membuat laporan untuk apa yang sudah Reyhan lakukan kepada kamu selama ini. Walau terlambat, tetapi pelaku kejahatan masih bisa dituntut atas perbuatannya,” balas Tama.
Dalam sebuah tindak kekerasan, para korbanlah yang akan menderita, hidup dalam ketakutan dan juga tidak bisa lepas dari bayang masa lalu. Kali ini, Tama akan benar-benar memberikan pelajaran kepada Reyhan, supaya pria itu bisa menyesali semua kejahatan yang sudah dia lakukan kepada Anaya. Memastikan Anaya tetap aman adalah keinginan Tama sekarang ini.
"Kamu mau menuntutnya, Mas?" tanya Anaya kemudian.
"Iya, dan aku harap, jika nanti ada persidangan, kamu bisa bersaksi," balas Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Ya, aku mau," balasnya.
Kali ini Anaya sendiri juga akan membuang ketakutan yang dia alami. Daripada diintimidasi Reyhan dan juga diuntit seperti tadi, lebih baik Anaya memberikan dirinya dan mengambil langkah hukum. Lagipula, ada Tama yang akan menemani dan melindunginya, sehingga tidak ada yang perlu Anaya takutkan sekarang.
"Ya, sudah ... kita ke kantor kepolisian sekarang," ajak Tama.
Pria itu segera mengajak istrinya untuk menuju kantor kepolisian resort terdekat dan kemudian membuat laporan. Tama juga masih memiliki bukti-bukti yang dia simpan di dropbox penyimpanan filenya, itu bisa menjadi bukti digital bagaimana bejatnya Reyhan kepada Anaya selama ini. Tidak hanya itu saja, seorang teman Tama yang menjadi peretas, juga berhasil mendapatkan rekaman CCTV untuk kasus serupa di mana Reyhan juga berhasil melecehkan beberapa karyawannya yang lain. Kali ini, Tama tidak akan segan-segan memberikan ampun kepada Reyhan lagi.
Begitu sudah di kantor kepolisian, Tama mulai membuat laporan atas nama istrinya Anaya terhadap Reyhan. Di sana, Anaya juga mencerita kapan peristiwa itu terjadi, dan juga hal buruk yang dilakukan Reyhan kepadanya, termasuk kejadian di Mall barusan. Barang bukti di handphone Reyhan sudah disita oleh pihak berwajib, dan juga file yang Tama miliki juga sudah dibagikannya kepada pihak kepolisian juga.
"Baik, laporan sudah kami terima. Jika ada yang perlu ditambahkan kami akan meminta kesediaan pelapor untuk memberikan keterangan tambahan dan akan kami buat Berita Acara Pemeriksaan (BAP)," balasnya.
Lantas ada seorang polisi yang berbicara kala itu, "Pasal berlapis dong ini, kasus suap, dan kasus pelecehan seksual. Sehingga masa tahanannya akan lama," ucap salah seorang polisi.
__ADS_1
Merasa sudah cukup berada di kantor kepolisian hampir satu jam lamanya, Tama pun hendak mengajak Anaya untuk pulang. Tama tahu bahwa istrinya itu pastilah shock. Oleh karena itu, Tama ingin mengajaknya pulang dan juga menenangkan istrinya yang tengah hamil itu.
Ketika Tama dan Anaya hendak pulang dan menuju ke parkiran, rupanya mereka bertemu dengan Farhani di sana. Merasa sudah kenal dengan Tama, Farhani pun menyapa teman kuliahnya itu.
"Tama, Anaya ... kalian ngapain di sini?" tanya Farhani dengan bingung.
"Kamu sendiri ngapain di sini?" balas Tama.
"Reyhan ditangkap ... di Batam lalu, dia kabur, Tama ... tidak menyangka bahwa pihak berwajib mengejarnya sampai di Jakarta," balas Farhani kemudian.
Ya, dulu Farhani pernah bercerita bahwa kasus Reyhan sudah pernah diendus pihak berwajib. Akan tetapi, Reyhan berhasil kabur dan sekarang Reyhan kembali ke Jakarta. Sehingga kali ini, aparat akhirnya berhasil menangkap Reyhan. Barulah Tama dan Anaya tahu bahwa memang Reyhan menjadi daftar pencarian orang selama ini.
"Lalu kamu ke sini untuk?" tanya Tama kemudian.
"Sekaligus melaporkannya untuk penggelapan uang apartemenku, Tama ... mungkin sekarang waktunya untuk menuntut keadilan. Walau uangku tidak kembali, tetapi aku puas bisa menambah hukuman untuk Reyhan," balas Farhani di sana.
Farhani sekarang mengamati perut Anaya yang membuncit di sana, dan wanita itu pun tersenyum, "Wow, kamu sudah hamil yah?" tanyanya.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... 17-18 minggu, Kak," balasnya dengan mengusapi perutnya itu.
"Kelihatan hamil lima bulan yah?" tanya Farhani dengan heran.
"Kami akan memiliki baby twins," balas Tama dengan merasa bahagia.
"Ya ampun ... keren banget sih. Jangan banyak pikiran, Anaya. Untuk kasus ini, serahkan kepada Tama saja. Kamu bisa hidup tenang karena dia akan tidur di balik jeruji besi," balas Farhani.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... cuma harus bersiap untuk persidangan nanti," balasnya.
__ADS_1
"Sidang bisa diwakilkan kok. Fokus ke kehamilan kamu dulu. Nanti kalau lahiran kabar-kabar dong, biar aku bisa gendong Baby Twins," ucap Farhani.
"Iya Kak ... boleh, nanti pasti ada pembaruan di Story Whatsapp," balas Anaya.
Hingga akhirnya Farhani melanjutkan untuk membuat laporan sementara Tama mengajak istrinya itu untuk pulang. Tama menggandeng tangan istrinya itu.
"Masih takut?" tanyanya.
"Enggak ... tapi di Mall tadi aku takut banget. Aku tadi dengan sorot mata Reyhan dan menatapku begitu buas," balas Anaya dengan menghela nafas.
Tama pun mengusapi punggung tangan istrinya yang sekarang dia genggam itu, "Sekarang kita mana, My Love ... Reyhan tidak akan bisa kabur lagi. Pasal pidana berlapis akan dikenakan kepadanya. Kita aman sekarang," balas Tama.
"Iya ... semoga saja dia di dalam sana bisa memikirkan tindakannya yang buruk dan banyak merugikan banyak orang."
Tama kemudian membantu Anaya untuk masuk ke dalam mobil, setelahnya pria itu mengitari mobilnya dan juga duduk di balik kemudi.
"Sudah yah ... tenang. Kamu mau pulang atau mau beli es krim dulu untuk menenangkan diri dan juga memperbaiki mood kamu?" tanyanya.
Sekadar yang pernah Tama baca bahwa es krim ampuh untuk memberikan kebahagiaan dan memperbaiki mood dan suasana hati seseorang. Untuk itulah, Tama menawarkan kepada istrinya itu untuk membeli es krim terlebih dahulu.
"Aku sebenarnya takut ... pengen dipeluk kamu, cuma ... kalau mampir beli es krim dulu boleh?" tanyanya.
Tama pun dengan cepat menganggukkan kepalanya, "Iya ... boleh. Mau es krim atau gelato?" tanyanya kemudian.
"Gelato aja, di kedai Gelato dekat rumah aja, Mas ... jadi setelahnya kita bisa langsung pulang dan juga kasihan Citra kelamaan diasuh Mama Rina. Hanya saja, aku beruntung banget karena Citra tidak ikut kita sekarang ini."
Ya, Anaya merasa begitu lega karena saat jalan-jalan kali ini dia tidak membawa Citra turut serta. Citra aman di rumah bersama Mama Rina. Dia akan mampir ke kedai gelato terlebih dahulu untuk menenangkan diri sebentar, dan setelah akan kembali pulang.
__ADS_1