Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Calon Menantu Baru?


__ADS_3

Sudah seharian Anaya mengasuh Citra dan memberikan ASI secara langsung atau direct-breastfeeding. Yaitu dengan memberikan ASI langsung dari payu-dara sang Ibu. Direct-breastfeeding sendiri memang sangat disarankan, terutama pada bulan-bulan pertama setelah bayi lahir. Bagi seorang Ibu, memberikan ASI secara langsung bisa mengembalikan rahim ke ukuran semula serta menurunkan risiko kanker payudara setelah melahirkan, membakar kalori lebih banyak, mengurangi risiko kanker ovarium, dan menghindari penyakit diabetes. Sementara untuk bayi, meminum ASI tentu membantu meningkatkan kesehatan sistem pencernaan, bayi tidak mudah terinfeksi virus, dan juga menyusui menjadi kegiatan bonding yang menyenangkan untuk Ibu dan bayi.


Sayangnya untuk Anaya dan Citra, bonding yang terjadi justru ada kalanya menimbulkan rasa sesak dan perih di dada. Sama seperti siang ini, Anaya yang sedang duduk di sofa dan memberikan ASI untuk Citra. Tampak Anaya yang menatap Citra dengan sorot mata yang sendu, tangan bergerak dan memberikan usapan di rambut Citra yang hitam, dan kemudian sesekali dia membiarkan jari telunjuknya digenggam oleh Citra.


"Kamu masih kecil, tetapi kamu minum ASI-nya kuat banget ya Citra ... Onty saja sampai heran kok kamu minum ASI banyak," gumamnya lirih.


Sedikit senyuman pun terbit di wajah Anaya, wanita itu kembali mengusapi kepala Citra dengan lembut. Jujur saja, kemarin saat kali pertama memberikan ASI secara langsung kepada Citra, rasanya sangat geli saat bibir dan mulut Citra melakukan gerakan peristaltik alami menghisap punyanya untuk mendapatkan ASI. Perutnya seolah digelitik, dan juga rasanya begitu haru. Andai saja, bayinya sendiri yang menyusu kepadanya, pasti perasaannya kian tak terhingga.


"Pelan-pelan saja minumnya Citra, ASI-nya Onty buat kamu kok. Bahkan malam hari saja, tiap dua jam sekali Onty kebangun untuk melakukan pumping. Biar malam harinya, Citra bisa minum ASIP yah. Sehat-sehat ya Citra," ucap Anaya.


Itu adalah ucapan yang tulus dari Anaya, baru dua hari, tetapi Anaya sudah merasa menyayangi Citra dan terus berharap supaya Citra tumbuh sehat. Perasaan yang aneh, Citra memang bukan darah dagingnya sendiri, tetapi rasanya Anaya sudah menyayangi Citra.


Sampai akhirnya, pintu di kamar Citra terbuka, terlihat Mama Rina yang masuk ke dalam kamar Citra. “Baru ngapain, Anaya?” tanya Mama Rina.


“Ini … baru meng-ASI-hi Citra, Tante … ada apa?” tanya Anaya.


“Enggak … mau ajakin Anaya ke Posyandu untuk menimbang berat badannya saja. Sudah hampir tiga minggu kan, berat badannya naik atau tidak,” balas Mama Rina.


“Posyandunya jauh tidak Tante?” tanya Anaya lagi.


“Enggak … dekat kok. Hanya beberapa rumah dari sini saja sudah Posyandu. Anaya tunggu di rumah saja, Tante cuma jalan kaki kok,” balas Mama Rina.


Beberapa saat Anaya diam, tetapi kenapa rasanya dia juga ingin tahu kegiatan di Posyandu itu seperti apa. Rasanya tertarik dan Anaya justru ingin ikut Mama Rina untuk ke Posyandu.


“Tante, Anaya boleh ikut enggak? Cuma pengen lihat saja sih, kegiatan di Posyandu itu apa saja,” balasnya.


“Boleh … cuma jalan kaki enggak kecapekan kan?” tanya Mama Rina.


“Enggaklah Tante … jalan kaki malahan sehat kok,” balas Anaya.

__ADS_1


“Ya sudah … lima belas menit lagi kita ke Posyandu yah. Nih, Onty Anaya mau ikutin Citra ke Posyandu. Mau lihat Citra ditimbang berat badannya,” ucap Mama Rina.


“Emangnya dulu Citra lahirnya berapa kilogram, Tante?” tanya Anaya.


“Berapa yah … kelihatannya 3,3 kilogram dan panjangnya 49 centimeter. Lumayan besar sih,” balas Mama Rina.


Anaya menganggukkan kepalanya secara samar, “Oh … besar juga ya Tante, babynya Anaya kecil banget … kurang dari 2 kilogram. Kulitnya merah, dan suaranya lirih,” balas Anaya.


Sebatas menceritakan kondisi bayinya saja membuat mata Anaya kembali berkaca-kaca. Anaya sampai memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan hatinya sendiri. Menghela nafas untuk mensuplai paru-parunya dengan oksigen.


“Kamu beri nama siapa, An?” tanya Mama Rina.


Anaya menghela nafas panjang, barulah dia menjawab pertanyaan Mama Rina, “Namanya Cinta, Tante … hanya itu hanya Anaya pikirkan karena dia adalah cintanya Anaya,” ucapnya dengan suara yang sudah terasa bergetar.


Mama Rina mengusapi bahu Anaya, “Sabar … kuat yah. Tama pun kalau bisa berbicara dan bercerita pasti perasaannya sama seperti kamu. Hanya saja, memang Tama tidak pernah bercerita. Hanya di pagi hari, Tante tahu kalau mata Tama sembab dan ada kantung mata, sudah pasti Tama tidak bisa tertidur, selalu terjaga karena mengingat almarhumah,” balas Mama Rina.


Di bibir, Anaya bisa mengucapkan semuanya itu, tetapi di dalam hatinya Anaya masih saja terluka. Begitu pilu sebenarnya kisah hidupnya. Hanya saja, Anaya yakin dengan sedikit kesabaran bisa mengubah semua pilu dan sendu menjadi kebahagiaan dalam hidupnya. Biarkanlah hidup terus berjalan, dan Anaya akan berusaha menjalani semampunya.


“Ya sudah, kita ke Posyandu yuk, An … biar cepat pulang. Cuma menimbang saja kok,” ucap Mama Rina.


Terlihat Mama Rina menggendong Citra, dan kemudian Anaya mengekori Mama Rina dari belakangnya. Terlihat Anaya membawakan Buku KIA berwarna pink magenta di tangannya yang sudah disiapkan oleh Mama Rina.


“Pakai stroller saja Tante … biar Anaya yang dorong,” ucapnya dengan menunjuk stroller baby yang ada di bawah.


“Boleh … biar tinggal mendorong saja,” balas Mama Rina.


Anaya pun menaruh baby Citra ke dalam stroller dengan perlahan, kemudian dia berjalan dengan mendorong stroller baby itu pelan-pelan, mengikuti Mama Rina berjalan menuju ke Posyandu. Begitu keluar dari pintu gerbang, ada beberapa tetangga yang tampak menyapa Mama Rina dan menatap kepada Anaya.


“Mau kemana Bu Rina?” sapa seorang tetangga yang rumahnya ada di samping rumah Mama Rina.

__ADS_1


“Mau ke Posyandu, Bu … mau menimbangkan berat badan cucu,” balas Mama Rina.


“Calon menantu baru ya Bu? Cocok jadi Mamanya Citra,” balas tetangga itu lagi.


Tampak Mama Rina tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Oh … dia Ibu Susunya Citra, sekalian mau ikut ke Posyandu untuk lihat Citra ditimbang. Baik Bu, duluan yah,” balas Mama Rina dengan kembali berjalan menuju ke Posyandu.


Begitu tiba di Posyandu, Buku KIA milik Citra pun dikumpulkan, kemudian ada pendataan yang dilakukan petugas Posyandu seperti nama lengkap bayi, imunisasi yang sudah didapat, dan nama orang tua. Setelah itu, mengantri menunggu sampai giliran Citra. Terlihat Anaya yang melihat anak-anak ditimbang berat badannya, diukur tinggi badannya, dan juga pemberian vitamin A untuk anak-anak berusia 6 bulan ke atas.


“Anak Citra,” sebut petugas posyandu.


“Iya,” sahut Mama Rina.


Segera Mama Rina menggendong Citra, dan menidurkannya ke timbangan bayi yang ada di Posyandu itu. Mama Rina melihat jarum di timbangan baby yang bergerak ke arah kanan itu.


“4 kilogram yah Bu … naik 7 ons sejak dilahirkan,” ucap petugas Posyandu itu.


“Iya,” balas Mama Rina.


“Minumnya ASI atau Formula ini?” tanya petugas Posyandu lagi.


“Minumnya ASI,” balas Mama Rina.


Kemudian petugas Posyandu yang usianya menjelang paruh baya itu menatap kepada Anaya yang berdiri di belakang Mama Rina dengan memegangi stroller milik Citra.


“Calon menantunya ya Bu Rina? Mas Tama sudah akan menikah lagi?” tanyanya.


Dengan cepat Mama Rina menggelengkan kepalanya, “Ini Ibu ASI-nya Citra … walau tidak memiliki Ibu kandung, Citra memiliki Ibu ASI yang akan memberikan ASI untuknya,” jawab Mama Rina.


Mungkin pekerjaan menjadi Ibu ASI itu terdengar tabu. Akan tetapi, memang ada orang-orang yang menjadi Ibu Susu bahkan menjadi donor ASI untuk bayi yang lain. Mama Rina pun menjawab dengan jujur karena tidak ingin Anaya merasa tidak nyaman karena dianggap sebagai calon menantunya.

__ADS_1


__ADS_2