
Beberapa jam berlalu, hari yang semula menjelang sore, rupanya kini sudah menjadi petang. Anaya dan Tama pun seketika sama-sama terbangun, jika Tama terbangun karena merasa sudah tidur lama, sementara Anaya terbangun karena merasa sumber ASI-nya yang penuh dan harus segera dipumping. Jika tidak, dia bisa merasakan demam dan juga nyeri peradangan ASI.
"Kenapa Sayang?" tanya Tama melihat Anaya yang bangun dan tampak mencari sesuatu.
"Mau pumping, Mas ... penuh. Seharian enggak diminum Citra juga, ada lemari es kan? Aku simpan di lemari es dulu dan nanti waktu pulang bisa dibawa," balas Anaya.
Tama tersenyum, pria itu beranjak dari tempat tidur dan mengambilkan tas pumping lengkap dengan kantong ASIP di sana, dan memberikannya kepada Anaya.
"Ini, pumping dulu ... daripada nanti bengkak," balasnya.
"Makasih Mas Suami," balas Anaya yang memulai mengeluarkan pumping elektrik di sana, dan mulai membuka kancing kemejanya, lantas memasang corong pumping ke dadanya, dan menekan beberapa tombol di pumping machine.
"Pumping dulu ... biar nyaman, kalau bengkak kan nanti bisa demam juga, Yang," ucap Tama yang sengaja mengambil duduk di depan Anaya.
"Pindah dong duduknya Mas ... malu," balas Anaya.
Tama lantas menggelengkan kepalanya, "Sini aja, mau lihat kok ... nanti kalau hamil dan menyapih ASI dulu sakit enggak Yang?" tanya Tama lagi.
__ADS_1
"Sakit Mas ... katanya temanku sih bengkak juga, tapi bisa dikurangi dikit-dikit biar tidak terlalu bengkak," balasnya.
"Sakit banget jadi cewek ya Yang ... setiap proses ada sakitnya."
Tama menyahut dan membayangkan menjadi wanita itu memberikan ASI saja harus mengalami pu-ting lecet dan bengkak, melahirkan juga sakit banget, menyapih ASI juga mengalami bengkak, bahkan masa haid saja ada yang merasakan sakit. Setiap proses yang dialami wanita penuh dengan sakit dan penderitaan.
"Aku gak akan menyakiti kamu, Yang ... setiap proses dalam hidupmu, proses biologis itu membuat kamu sakit. Jadi, aku akan jadi suami yang baik untuk kamu. Memberikan ASI sakit dan lecet, menyapih lecet, Caesar dulu juga sakit Yang?" tanya Tama kemudian.
"Sakit Mas ... di tulang belakang yang pasca di bius itu nyeri rasanya, sama jahitan di perut ini juga nyeri-nyeri gitu," balas Anaya.
"Kemungkinan besar, Mas. Tapi bisa diusahakan normal kok, tentunya dengan melihat kondisi Ibu dan janinnya. Jarak waktu ideal yang dianjurkan dokter untuk seorang ibu bisa melahirkan normal setelah caesar atau VBAC adalah minimal 2 tahun dari persalinan awal yang dilakukan dengan operasi caesar. Jarak ini direkomendasikan juga untuk waktu persalinan kembali setelah caesar maupun melahirkan normal. Jika ibu hamil setelah 1 tahun caesar atau kehamilan terjadi dalam jarak kurang dari 2 tahun, risiko kemungkinan terjadinya komplikasi akan semakin tinggi. Salah satu risiko VBAC yang paling fatal adalah ruptur uteri."
Anaya menjelaskan secara detail kepada suaminya itu. VBAC sendiri adalah Vagi-nal Birth After Caesarian. Jadi, para ibu yang semula melahirkan secara Caesar bisa berusaha untuk melahirkan secara normal dengan syarat mengatur jarak kehamilan minimal 18 bulan, hindari induksi persalinan, percaya diri jika kita bisa melahirkan secara normal, mencari Rumah Sakit dan Dokter yang mendukung VBAC, sembuhkan trauma yang dimiliki, dan dukungan suami dan keluarga.
Mendengar penjelasan Anaya, Tama menghela nafas di sana. "Kalau aku, Normal atau Caesar tidak masalah Yang ... penting kamu dan bayi kita nanti sehat. Apa pun itu hanya metode persalinan saja. Yang penting kamu dan anak-anak kita sehat," balas Tama dengan sungguh-sungguh.
Anaya tersenyum di sana, "Iya Mas ... ya doakan saja. Belum ada dedek bayinya juga kok di sini. Jadi, ya santai dulu saja."
__ADS_1
"Ya, nanti menanam benih di sini Yang ... biar segera jadi Tama atau Anaya Junior. Sudah lewat 18 bulan dari persalinan kamu yang pertama dulu kan? Jadi bisa hamil lagi," tanya Tama kemudian tangannya terulur dan meraba perut Anaya yang masih rata di sana.
Sungguh, Tama pun juga ingin memiliki buah hati dari Anaya. Sebab, rumah kian ramai dengan anak-anak rasanya semakin menyenangkan. Citra juga belajar bersosialisasi dengan adik-adiknya.
"Iya, cuma nanti rajin kontrol ya Mas ... biar tahu perkembangan bayinya. Ada Tante Indri yang menjelaskan dengan detail. Jadi, semangat untuk lihat kondisi babynya," balas Anaya.
"Iya, Sayangku ... usai pumping mau ngapain Sayang?" tanya Tama kemudian.
"Mandi saja Mas ... sudah malam soalnya. Ganti-gantian saja mandinya," balas Anaya.
"Kamu tidak mau mandi bareng aku?" tanya Tama.
Anaya menggelengkan kepalanya, "Enggak ... aku baru gak mau basah-basahan," jawabnya dengan terkekeh geli.
"Kamu bisa saja. Ya sudah, nanti kamu usai pumping mandi duluan aja, ya ... aku nanti aja, mau ngabarin keluarga kita dulu."
Berlanjut malam nanti ya Bestie ... :D
__ADS_1