Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Memori Rendezvous di Bandung


__ADS_3

Agaknya kali ini setelah diyakinkan oleh Anaya dan Tama, Ayah Tendean dan Bunda Dianti berniat untuk mengisi cuti pernikahan yang diambil oleh Ayah Tendean. Mengingat lima hari jika dimanfaatkan dengan baik-baik akan bisa kian mengeratkan jalinan cinta kasih antara pasangansuami yang baru saja menikah itu.


"Tidak apa-apa, Ayah ... mengulang kenangan waktu bertemu dengan Bunda Dianti dulu tidak apa-apa," ucap Anaya yang seolah memberikan ide kepada Ayahnya.


Tampak Ayah Tendean menganggukkan kepalanya perlahan dan menatap istrinya yang duduk di hadapannya, hanya berjarak meja saja di saja.


"Bunda, apakah kita harus main lagi ke kampus kita? Mengingat masa-masa rendezvous?" tanya Ayah Tendean.


Anaya dan Tama pun mengernyitkan keningnya, "Rendezvous artinya apa Ayah? Kami anak milenial mana tahu artinya, Ayah," balas Anaya lagi.


"Rendezvous itu artinya pertemuan, Aya ... mengingat rendezvous berdua di Bandung waktu itu," balas sang Ayah.


"Oh, membuka kotak kenangan ya Ayah ... ide bagus itu. Cuma yang diingat-ingat yang indahnya saja, Ayah. Yang sedihnya tidak usah," balas Anaya lagi.


"Iya, Aya ... kami akan mengingat yang baik-baik," balas Ayah Tendean kemudian.


Kemudian Ayah Tendean menatap kepada istrinya, "Besok kita ke Bandung yah? Rendezvous berdua," ajak Ayah Tendean.


"Boleh. Nyetirnya bagaimana?" tanya Bunda Dianti.


"Aku nyetir pelan-pelan saja bisa kok," balasnya.


Anaya pun tersenyum di sana, "Disegerakan Ayah ... kalau senggang kabar-kabar ke Aya yah," balasnya.

__ADS_1


Jujur saja, Anaya merasa senang karena Ayahnya akan menyempatkan waktu untuk bisa menikmati masa indah bersama Bunda Dianti. Saling mengingat kenangan indah dan juga memupuk cinta kasih di antara keduanya.


***


Hari ini di Kota Bandung ...


Bandung atau yang akrab disebut sebagai Kota Kembang itu menjadi kota yang bersejarah untuk Ayah Tendean dan Bunda Dianti. Bagaimana tidak, pertemuan pertama keduanya terjadi di kota ini, hampir 28 tahun yang lalu.


Kala itu Tendean masih berlangsung sebagai Kakak Tingkat, dan Dianti adalah adik tingkat. Akan tetapi, keduanya justru akrab satu sama lain. Bahkan tak jarang keduanya saling berdiskusi bersama. Membahas topik-topik seputar perkuliahan, atau aspirasi mahasiswa yang menyala-nyala.


"Kita akan cek in masih nanti siang, Di ... mau mampir ke mana dulu. Ada yang ingin kamu kunjungi di Bandung ini?" tanya Ayah Tendean kepada istrinya itu.


"Ke mana ya Mas ... ke Sudirman Street yuk Mas. Masih inget enggak dulu kamu sering beliin aku apa di sana?" tanyanya.


Merasa jawaban dari suaminya benar, Bunda Dianti pun tertawa, "Benar ... seratus buat kamu," balas Bunda Dianti.


Ya, dulu ketika berjalan-jalan di Sudirman Street. Di area ini pengunjung bisa mencicipi kuliner dari Asia, Timur Tengah, hingga kuliner khas Eropa. Dulu, Ayah Tendean sering mengajak Dianti ke sini. Ada banyak olahan nasi yang unik-unik dan enak rasanya. Begitu juga dengan berbagai macam minuman yang pastinya menggugah selera.


"Aku masih ingat semuanya. Walau usiaku sudah tua, tapi ingatanku belum menua, Di," ucapnya.


"Iya, aku percaya, Mas Dean ... mahasiswa terbaik Fakultas Kedokteran pastilah mengingat semuanya," balas Dianti dengan tertawa.


Menepikan mobilnya di Jalan Sudirman. Sekarang Ayah Tendean mengajak istrinya itu untuk membeli Es Cendol dan juga Cuanki. Keduanya seolah membuka kotak kenangan yang sudah terkubur begitu lama.

__ADS_1


"Hmm, bertahun-tahun rasa Bakso Cuanki tidak berubah sama sekali," ucap Dianti dengan mengunyah Cuanki dan menyeruput kuahnya.


Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya, "Sama seperti cintamu, Di ... tak pernah berubah. Lebih dari 26 tahun, kamu masih menungguku," ucapnya.


Nyaris tersedak ketika Bunda Dianti mendengarkan itu. Akan tetapi, memang dia dulu tidak berniat untuk menyukai pria lain. Dia kadung percaya bahwa Tendean akan kembali dan meminangnya. Walau janji hanya tinggal janji.


"Enak yah? Dulu ke sini kita masih begitu muda, dan sekarang kita sudah menua," balas Ayah Tendean dengan mengamati sekelilingnya.


Memang sudah banyak berubah. Jajanan yang dulu ada di sana juga ada yang sudah tutup. Namun, masih ada beberapa makanan yang bertahan sampai saat ini. Di tempat ini para pejalan kaki bisa memilih aneka makanan dan membelinya. Tak jarang para pembeli hanya memakan makanannya di trotoar.


"Usia saja yang tua katanya. Kalau memori masih muda," balas Dianti di sana.


"Mumpung di Bandung kita mengulang memori indah dulu yah ... benar yang dikatakan Anaya, mengingat yang indah-indah biar memupuk cinta kasih di antara kita," ucap Ayah Tendean.


"Aku punya satu request boleh enggak Mas?" tanya Dianti kepada suaminya.


"Iya boleh ... ingin apa, Di?" tanyanya.


"Aku mau Mie Kocok, Mas ... mumpung di Bandung. Ingat enggak dulu kita makan Mie Kocok yang begitu hits," balas Dianti.


"Oh, aku ingat. Oke boleh. Malam nanti kalau tidak ada aral melintang yah," balasnya.


"Iya, boleh," balas Dianti.

__ADS_1


Usai menikmati kuliner di Sudirman Street, rencananya Ayah Tendean ingin mengajak Dianti untuk cek in ke hotel. Beristirahat dulu, dan nanti mereka akan lanjut menikmati wisata kuliner berdua. Memang begitulah bulan madu, istirahat dan memadu kasih di hotel, dilanjutkan dengan kulineran. Begitu saja sudah membuat keduanya merasa senang.


__ADS_2