Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Cerita Citra


__ADS_3

Usai pulang dari Taman Baca Kasih Bunda, jika ada yang merasa begitu senang tentu dia adalah Citra. Bagaimana tidak senang, jika memang dia bisa bertemu dengan Oma Dianti dan juga mendapatkan beberapa buku yang ditulis Oma Dianti itu. Citra pasti akan membaca semua buku yang diberikan oleh Oma Dianti begitu sudah sampai di rumah nanti.


"Hari ini Citra senang ikut Opa?" tanya sang Opa kepada cucunya.


"Ya, ya ... Citra seneng, Opa," jawabnya dengan mangangguk-anggukkan kepalanya.


"Kapan-kapan, Opa ajak lagi mau?" 


"Iya, boleh Opa ... sebelum Citra sekolah. Katanya Papa, nanti kalau Mama sudah selesai kuliha, gantian Citra yang sekolah. Jadi, mumpung Citra belum sekolah masih bisa pergi-pergi dan main-main sama Opa," balasnya. 


Citra yang masih kecil pun bisa berpikir bahwa dirinya belum sekolah sehingga bisa menemani Opanya untuk pergi kemana-mana. Sementara, jika dirinya sudah sekolah nanti sudah pasti Citra harus sekolah dan memiliki waktu khusus hanya untuk sekolah. 


"Opa ajak buat ketemu Oma Dian lagi mau?" tanyanya. 


Gadis kecil itu pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, mau Opa ... Citra justru senang, Opa. Mau ketemu Oma Dian lagi," jawabnya. 


"Oke, kalau Opa mau ketemu Oma Dian, Opa akan mengajak Citra yah."


"Yaahh, Opa."


Dalam benak Opa Tendean agaknya jika bertemu Dianti dan dia mengajak serta Citra, membuatnya tidak terlalu sungkan. Itu pun mungkin dipengaruhi oleh umur, sehingga jika membawa Citra, setidaknya ada hal lain yang menjadi alasan tersendiri untuk Opa Tendean. Pun dengan Citra yang ramah dan ceria, dirasa si Opa sangat cocok dengan karakter Dianti yang menyukai anak-anak. 


"Opa, kapan-kapan kalau ke Taman Baca, kita belikan buku yuk buat anak-anak," ucap Citra yang kali ini berinisiatif ingin membelikan buku untuk anak-anak di sana. 


"Boleh, nanti temenin Opa ke toko buku yah ... sama beli donat, Citra ... ternyata anak-anak di sana suka donat," balas Opa Tendean. 


Citra tampak menganggukkan kepalanya, "Iya Opa, nanti belikan donat dan buku untuk teman-teman Citra."


Berkendara lebih dari setengah jam, akhirnya sekarang mereka sampai di rumah Citra. Opa Tendean membukakan pintu mobil untuk cucunya itu dan kemudian membawakan buku-buku yang diberikan oleh Dianti. Begitu turun, Citra pun memasuki rumahnya dengan perasaan senang. 


"Mama ... Papa, Citra pulang," teriaknya untuk memberitahu kepada Mama dan Papanya bahwa dia sudah datang. 


Papa Tama pun membukakan pintu dan menyambut Citra dengan menggendong putri kecilnya itu. 

__ADS_1


"Sudah pulang, putrinya Papa," balasnya. 


"Kangeeeennn Papa," balas Citra dengan membawa tangan kecilnya melingkari leher Papanya.


Tama pun tersenyum dan mencium pipi Citra di sana, "Cup! Papa juga kangen sama Kak Citra. Nak Cantiknya Papa," balasnya. 


"Tam," sapa Ayah Tendean kepada menantunya itu. 


"Masuk Ayah, silakan," balasnya. 


Memasuki rumah Tama, Ayah Tendean pun kini memilih untuk duduk di ruang tamu kemudian dia memberikan buku-buku yang diberikan Dianti untuk Citra kepada Tama. 


"Ini, Tama ... bukunya Citra," ucapnya. 


"Banyak sekali, Yah ... dari siapa saja ini?" tanya Tama melihat buku yang jumlahnya lebih dari lima. 


"Dari Oma Dian, Papa ... Oma nya Citra," balas Citra yang sekarang duduk manis di pangkuan Papanya. 


Mendengar nama Oma Dian disebut, sudah pasti bahwa Opa Tendean usai mengajak Citra untuk bertemu dengan Dianti. Tama pun mengulum senyum di bibirnya, dan menatap Ayah mertuanya itu. 


"Kurang tahu, Tam," balasnya. 


Hingga Anaya kemudian turun sendirian, karena Si Kembar sedang bobok usai minum ASI. Tampak Citra yang berdiri dari pangkuan Papanya, dan berlari menghampir Mamanya. 


"Mama," sapa Citra dengan memeluk pinggang Mamanya. 


"Iya, Sayang ... sudah pulang. Yuk, duduk, Mama peluk di sana yah," balas Anaya. 


Mereka bergabung untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu, Anaya tersenyum menatap Ayahnya yang terlihat berbeda sekarang di hadapannya. 


"Citra habis bertemu Oma Dian, Mama ... ke Taman Baca Kasih Bunda," ceritanya. 


"Oh, yah... Citra seneng enggak ke sana?" tanya Anaya. 

__ADS_1


"Senang Ma ... bukunya Oma banyak banget. Kalau mau memberikan buku, boleh banget loh, Ma. Nanti kita berikan buku-buku ke sana ya Ma," ceritanya. 


"Boleh, Sayang ... nanti kita kasihkan buku-buku ke sana yah," balas Anaya. 


"Iya Mama, Citra senang ke Taman Baca dan bertemu Oma. Citra mau punya Oma loh, Ma. Kan Mama sudah punya Papa. Eyang Rina sudah punya Eyang Budi. Opa kan harusnya punya Oma. Begitu Mama," ucapnya lagi. 


Anaya tersenyum di sana, sementara Ayah Tendean tampak senyam-senyum melihat Citra yang sedang berbicara kepada Anaya. Gemas dengan Citra yang bisa bercerita bahkan bisa mengungkapkan keinginannya. 


"Oma Dian emangnya baik? Kenalin dong sama Mama," balas Anaya. 


Citra dengan cepat menganggukkan kepalanya, "Baik kok, Ma ... banyak senyum Omanya. Lihat, Ma ... Citra diberikan banyak buku loh sama Oma Dian. Cuma ini menulis namanya Oma salah, Ma. Namanya Oma itu D-I-A-N-T-I, Dianti. Sementara di buku ini ditulis D-E-A-N-T-I, Deanti. Kan salah ya Ma," balasnya. 


Anaya dan Tama tampak tersenyum di sana. Sementara Ayah Tendean memilih diam dan membiarkan saja Citra bercerita tentang Dianti kepada Mamanya. Toh, bagi Opa Tendean, orang pertama yang seharusnya mengenal Dianti adalah Anaya. Untuk itu, memang tidak apa-apa jika Citra bercerita panjang lebar kepada Mamanya. 


"DEAN kan namanya Opa Tendean ya Ma?" tanya Citra lagi kepada Mamanya. 


Lagi-lagi Anaya tersenyum di sana, "Iya, itu namanya Opa kamu," balasnya. 


Kemudian cukup lama Citra bercerita akhirnya Citra memilih untuk tidur siang sebentar. Bahkan Citra tidak minta ditemani, dia bisa tidur sendiri. Anaya meminta Citra untuk mencuci tangan dan kaki terlebih dahulu sebelum tidur. Sementara Anaya dan Tama masih berada di ruang tamu. 


"Bagaimana Ayah, senang?" tanya Anaya kepada Ayahnya. 


"Ya, seneng, Aya ... apalagi ditemenin Citra," balasnya. 


"Temuin sendiri lah Ayah, tidak apa-apa. Anaya tulus ikhlas jika Ayah ingin menikah lagi," balasnya. 


"Setidaknya temuilah Dianti dulu, Anaya. Lihatlah dia, bagaimana penilaian dari kamu itu sangat penting untuk Ayah," balas Ayah Tendean. 


Anaya pun tersenyum di sana, "Jika dari ceritanya Citra, Oma Dian begitu baik. Anaya percaya sama Citra. Juga, tidak apa-apa jika Ayah ingin bahagia," balas Anaya. 


"Kami baru bertemu dua kali Anaya, rasanya terlalu cepat."


Setidaknya itu adalah ungkapan yang diceritakan oleh Dianti tadi ketika bertemu dengannya. Ya, usia yang kian senja lebih banyak yang dipikirkan dengan matang-matang. Lebih spesifik untuk urusan jodoh, di usia yang memang sudah tidak lagi muda. 

__ADS_1


"Sering bertemu juga boleh kok Anaya, selama masih dalam koridor aman. Saling kenal dulu, tidak apa-apa. Kalau Ayah bahagia, Anaya juga bahagia," balasnya. 


__ADS_2