
Tentu saja, wajah Tama menjadi masam sekarang. Itu semua karena ada pria yang katanya adalah sahabat masa kecil Anaya yang berprofesi sebagai Dokter dan menanyakan benarkah Anaya sudah menikah. Jujur saja, profesi sebagai seorang Dokter adalah profesi yang mulia. Mereka bisa menyembuh yang sakit, tak jarang Dokter adalah pahlawan bagi kemanusiaan. Sementara Tama yang adalah seorang staf IT merasa insecure dan sebal karenanya.
"Sudah dong ... masak mau marah terus," ucap Anaya sekarang.
Dari sini Anaya belajar satu hal bahwa menenangkan suaminya yang tengah sebal dan cemburu membuatnya harus bersabar. Ini juga kali pertama seorang Tama menunjukkan kecemburuannya.
"Kamu pernah suka kepada si Dokter itu?" tanya Tama kemudian.
"Enggak lah ... aku menganggap Dicky itu hanya sebagai sahabat saja. Sahabat sewaktu kecil," balas Anaya.
"Serius?" tanya Tama kemudian.
"Iya serius."
"Padahal dia Dokter, cakep, mapan juga, dan yang pasti dia single. Aku sangat tahu Yang ... aku tidak ada apa-apanya dengan dia. Hanya seorang staf IT biasa dan juga aku sadar diri, aku adalah seorang duda beranak satu," balasnya.
Anaya kian mengeratkan pelukannya di tubuh suaminya itu, "Siapa yang peduli dengan semuanya itu. Aku tidak peduli. Dalam hidupku, aku pernah dua kali jatuh hati pada seorang pria," ucap Anaya dengan tiba-tiba.
Mendengar ucapan Anaya, tentu saja Tama ingin tahu siapa pria yang membuat Anaya sampai jatuh hati. Benarkah salah satu di antara kesempatan dua kali itu adalah dirinya, mengingat bahwa dulu Anaya lah yang menembaknya, mengatakan cinta kepadanya. Lalu, siapakah yang kedua? Reyhan kah? atau Dicky?
"Mau tahu, kepada siapa saja aku pernah jatuh hati?" tanya Anaya kemudian.
"Hmm, iya," sahut Tama dengan singkat.
"Dalam hidupku ... aku dua kali merasakan jatuh hati. Yang pertama pada Tama Satria Yudha yang berusia 24 tahun, Tama seorang Staf IT yang begitu pintar dan bisa diandalkan. Yang kedua pada Tama Satria Yudha yang berusia 28 tahun, Tama sebagai seorang figur Papa yang sangat hebat untuk bayi kecilnya," jawab Anaya.
Apa yang Anaya ucapkan adalah sebuah fakta. Ya, dalam hidupnya, Anaya merasakan dua kali jatuh hati dan itu pada sosok yang sama, Tama. Walau begitu banyak perubahan dalam diri Tama, tetapi nyatanya sosok Tama tetaplah mempesona di matanya.
__ADS_1
"Mana mungkin," sahut Tama.
"Serius ... aku mengatakan yang sebenarnya. Dua kali aku merasakan jatuh hati, dan itu pada sosok pria yang sama. Kamu ... hanya kamu Mas, pria yang bisa membuatku jatuh hati," balas Anaya dengan sangat yakin.
"Walau pun aku bukan Dokter?" tanya Tama.
"Iya."
"Walau aku duda beranak satu?"
"Iya."
Walau tidak ada prestige dalam hidupku?"
"Iya."
Seutas senyuman pun terbit di wajah Tama. Tidak menyangka bahwa Anaya akan mengucapkan semua itu. Sungguh, itu adalah pengakuan yang begitu berarti bagi Tama. Di saat dia merasa sebal dan juga merasa tidak ada apa-apa dari Dicky yang berprofesi sebagai seorang Dokter, tetapi Anaya sekali lagi membuktikan bahwa dia jatuh hati dua kali hanya kepadanya.
"Bagaimana bisa?" tanya Tama kemudian.
"Aku juga tidak tahu, Mas ... dulu saat kamu masih menjadi rekan kerjaku, aku jatuh hati dengan seorang IT Engineering yang muda, semangat, dan pintar. Mungkin itulah yang membuat aku sampai rela menembakmu waktu itu. Kemudian aku kembali jatuh hati pada sosok Single Daddy yang hebat, yang bisa mengurus Citra dengan sangat baik. Seorang Papa dengan status duda yang sopan, tidak seperti duda me-sum dan haus belaian seperti yang banyak diceritakan di berbagai novel sekarang," balas Anaya.
"Dalam empat tahun, kamu menjelma dengan pria dewasa dan bisa bangkit saat benar-benar terpuruk. Dalam empat tahun, kamu berubah menjadi sosok Ayah yang hebat untuk Citra. Mungkin aku jatuh hati lagi karena itu," balas Anaya kemudian.
Kini Tama sedikit menarik tangan Anaya, supaya istrinya itu berpindah tempat. Sejak tadi Anaya yang sudah memeluk dan mendekapnya. Kini, Tama yang ingin memeluk Anaya. Ya, tidak perlu banyak bicara, Tama segera memeluk Anaya dan mendekap tubuh istrinya itu dengan begitu erat.
"Makasih Sayangku," ucap Tama dengan menghela nafasnya. Rasanya begitu lega usai mendengar pengakuan dari Anaya.
__ADS_1
"Jujur, aku tidak suka kala Dicky bertanya banyak hal. Namun, aku memilih diam karena bukan ranahku untuk ikut campur. Hanya saja, aku merasa tidak layak bersaing dengan seorang Dokter, Yang," balas Tama kemudian.
"Tidak perlu bersaing, Mas ... toh itu hanya perkataanku di waktu aku masih kecil. Buktinya setelah aku dewasa, aku juga jatuh cintanya sama kamu. Hanya ucapan anak kecil saja," balas Anaya kemudian.
"Aku cemburu ... sebagai seorang suami tentu saja aku cemburu," balasnya.
Anaya tersenyum di sana, "Cemburu tidak apa-apa. Cemburu kan tanda cinta. Hanya saja janga terlalu berlebihan. Kadang apa yang terjadi di luar sana kan tidak benar. Percayai pasangan masing-masing," balas Anaya.
"Iya ... cuma juga sebel saja. Terutama saat Dicky peluk-peluk kamu. Gak sopan banget sih meluk istri orang begitu saja," gerutunya kali ini.
"Mungkin dia mengiranya aku masih lajang, Mas ... dia tidak tahu bahwa begitu banyak yang sudah ku alami dalam hidup. Semua yang pahit sudah ku cecap rasanya," balasnya.
"Dulu hidupmu pahit, aku akan memberi penawarnya. Aku akan ubah menjadi manis. Cuma kalau ada masalah kayak gini kan kita menjadi lebih kuat lagi," balas Tama kemudian.
"Iya ... penting sih cemburu enggak apa-apa. Hanya saja jangan cemburu buta. Dengarkan penjelasan dari pasangan juga. Kan gak enak kalau ngambekan terlalu lama," balas Anaya.
Tama kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya ... gak akan ngambek terlalu lama. Lagipula, mana bisa aku ngambek lama-lama sama Istriku ini. I Love U My Love," balas Tama.
Bukan senang, Anaya justru memanyunkan bibirnya di sana, "Jangan My Love ... gak suka," sahutnya.
"Iya-iya ... ganti saja deh kalau begitu. I Love U Anayaku," balas Tama kemudian.
Tampak Anaya tersenyum di sana, "I Love U too Mas Tamaku," jawabnya.
Anaya sedikit mengurai pelukannya dan menatap wajah Tama di sana, "Sudah yah ... sudah beres masalah kita yah. Percayai aku, perasaanku ini sama. Aku jatuh cinta berkali-kali dan itu kepada kamu," ucap Anaya dengan sungguh-sungguh.
"Makasih Anayaku ... aku pun jatuh hati kepadamu dan menjadikanmu pelabuhan terakhir di hidup. Bukan singgah untuk sesaat, tetapi kamulah pelabuhan terakhir di dalam hidupku."
__ADS_1