
Tidak terasa hari pun berganti dengan hari, pekan berganti dengan pekan, dan hari ini menjadi hari yang sangat berbahagia untuk Tama dan juga Anaya. Pasangan yang sama-sama pernah merasakan kehilangan, sama-sama merasakan duka yang rasanya tak berkesudahan, jika tengah bersiap untuk mulai akad dan sekaligus dilanjutkan dengan resepsi yang digelar di salah satu hotel bintang lima di Jakarta.
Setelah hari-hari berselimut mendung gelap, kali ini keduanya yaitu Anaya dan Tama akan menyambut busur berwarna-warni yang akan melengkung dengan indahnya bagi mereka berdua. Bukan berlebihan, hanya saja kali ini di dalam hati keduanya sama-sama mengucapkan doa yang tertulus supaya pernikahan mereka berdua langgeng. Bisa menua bersama dan merajut renda yang bernama pernikahan.
Di depan venue pernikahan Tama sudah bersiap untuk mengucapkan akad. Papa muda beranak satu itu sudah tampil dengan mengenakan beskap berwarna putih. Ini memang bukan pengalaman pertama bagi Tama, hanya saja kali ini tetap saja Tama merasa begitu deg-degan. Ya, itu semua karena kali ini dia akan berkomitmen dan berikrar bukan hanya sekadar menikahi Anaya, tetapi lebih dari itu, Tama pun berikrar akan selalu menjaga dan membahagiakan Anaya. Sementara di hadapannya Ayah Tendean pun sudah duduk di hadapan Tama. Terlihat juga Ayah Tendean yang beberapa kali menghela nafas. Jujur saja, Ayah Tendean pun tidak menyangka bahwa hari bahagia bahwa putrinya akan dipersunting oleh seorang pria yang dia percaya.
Rupanya tidak berselang lama, Anaya sudah hadir. Wanita itu begitu cantik dan memukau dengan kebaya yang berwarna putih dan juga reroncean bunga melati yang menghiasi rambutnya, menjuntai indah di sisi bahu Anaya. Melihat kedatangan Anaya yang digandeng langsung oleh Mama Rina pun membuat Tama melirik pengantin wanitanya itu. Sungguh, dalam kurun waktu satu tahun, baru kali ini Tama melihat Anaya mengenakan pakaian dengan warna selain warna hitam. Sungguh, begitu memukaunya Anaya yang tampil laksana putri keraton mengenakan kebaya berwarna putih itu.
Bahkan di dalam hatinya, Tama pun memuji kecantikan Anaya. Pengantin wanita yang berjalan dengan menundukkan matanya dan juga ada helaan nafas di setiap langkah yang diambil Anaya kala itu. Sementara Ayah Tendean selain merasa haru, tentu juga merasa bahagia karena ini akan menjadi lembaran yang baru untuk Anaya. Langkah demi langkah yang diambil oleh Anaya sekarang mengantarkan Anaya untuk duduk bersanding dengan Tama, pria yang dipilih oleh hatinya sendiri, yaitu Tama.
Duduk di samping Tama, Anaya masih menundukkan wajahnya, dia berdoa di dalam hati semoga ikatan suci pernikahan ini akan menjadi yang terakhir bagi mereka berdua. Tidak akan lagi perpisahan. Jikalau memang berpisah, Anaya berdoa hanya maut saja yang akan memisahkan mereka berdua.
Mulailah kain berwarna putih ditudungkan di atas kepala Tama dan Anaya, dan penghulu pun berkata untuk bisa memulai akad sesaat lagi.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan, engkau Tama Yudha Satria dengan putriku Anaya Binti Tendean dengan emas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Ayah Tendean mengucapkan kalimat itu dengan menjabat tangan Tama dengan begitu erat. Berharap bahwa pria yang saat ini dia jabat tangannya akan menggenggam tangan Anaya dengan sama eratnya seperti sekarang ini.
__ADS_1
Perlahan Tama pun menarik nafas dalam-dalam, kemudian dia pun menjawab, "Saya terima nikahnya dan kawinnya Anaya binti Tendean dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat tunai."
Dengan satu tarikan nafas Tama mengucapkan akad. Kalimat yang berdiri di atas ikrar yang bukan hanya diucapkan oleh mulut, tetapi juga dengan hati.
Sah!
Begitu kata 'sah' diucapkan baik Tama dan Anaya sama-sama menghela nafas panjang. Kata sah seakan menjadi legitimasi yang mereka nanti. Tanda bahwa mereka berdua telah bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Sebuah kata yang menyatakan bahwa kini keduanya sudah sama-sama berada di dalam satu bahtera yang bernama pernikahan.
Di saat Ayahnya memulai akad, dan Tama yang menerima dan mengucapkan kata akad dengan sepenuh hati, Anaya tak kuasa untuk meneteskan air matanya. Perasaan yang mengharu biru bagi Anaya, menikah tanpa hadirnya sosok seorang Bunda, menikah setelah mengalami kesakitan yang panjang, dan juga pernikahan di bawah tangan yang terdahulu seolah berputar di dalam pikirannya. Seolah de javu, tetapi Anaya segera menenangkan dirinya bahwa kali ini pernikahanannya akan lebih kokoh. Anaya dan Tama akan berusaha untuk menjaga dan mengayuh bahtera ini seumur hidup mereka.
Pasangan berbahagia itu sama-sama tersenyum berdiri di pelaminan. Namun, karena mengingat bahwa ada Citra, memang Tama dan Anaya memilih untuk melakukan standing party di mana keduanya bisa membaur dengan tamu undangan dan juga sesekali bisa menggendong Citra.
Pasangan pengantin itu sama sekali tidak malu, karena memang Tama adalah seorang Ayah Tunggal beranak satu. Tidak peduli dengan beberapa tamu undangan yang mencibirnya.
"Konsep nikahnya aneh banget sih, masak pengantinnya gendong bayi."
"Jadi, anaknya Dokter Tendean dapat duda beranak satu yah?"
__ADS_1
"Masih muda udah menjadi duda, kasihan yah."
"Ini pesta pernikahan terunik, di mana pengantinnya sama sekali tidak malu menggendong anaknya."
Respons dari tamu undangan tentu beranekaragam. Hanya saja Anaya dan Tama sama-sama menutup telinganya sesaat. Sama-sama berbahagia di hari yang indah ini. Tamu undangan juga makin geleng kepala ketika MC (pembawa acara) mengajak para tamu undangan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk anak pengantin pria yang hari itu juga berulang tahun.
"Hadirin sekalian … hari ini bukan hanya menjadi hari berbahagia bagi kedua pengantin. Akan tetapi, menjadi hari yang bahagia untuk putri kecil mereka berdua yaitu Citra Eira Kinanthi yang pertama. Kita menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Citra yah," ucap sang MC.
Happy Birthday Citra …
Happy Birthday Dear Citra …
Happy Birthday Citra …
Dengan Tama yang menggendong Citra, di pelaminan pun ketiga sama-sama meniup lilin di atas kue ulang tahun Citra itu. Keduanya sama-sama tertawa. Mungkin ini memang pernikahan yang unik karena sekaligus menjadi acara ulang tahun bagi Citra. Akan tetapi, Tama dan Citra justru berbahagia karena memang hari ini adalah hari bahagia bagi mereka dan tentunya Citra.
Bukan hanya Anaya dan Tama yang menyatu, tetapi Citra pun kini memiliki orang tua yang utuh. Papa dan Mama yang akan menemani tumbuh kembangnya. Papa dan Mama yang akan mengenalkan dunia itu kepadanya. Citra pun mendapatkan seorang Mama baru yang mencintainya dengan kasih sayang yang tak perlu diragukan lagi.
__ADS_1