
Di dalam kelasnya, Anaya bisa fokus. Mungkin juga karena suka dengan mata kuliahnya dan cara dosennya mengajarnya, sampai rasa kantuk yang semula dirasakan oleh Anaya pun perlahan hilang. Terlebih di kala Khaira menjelaskan aspek penting dalam perkembangan anak usia dini, agaknya banyak hal yang harus Anaya catat supaya dia tidak lupa.
"Menurut Anda, apa sebenarnya manfaat utama mempelajari psikologi perkembangan anak?" tanya Khaira kepada mahasiswanya.
Sebagai Dosen Khaira menunjuk beberapa mahasiswa untuk memberikan jawaban, hingga akhirnya Khaira pun menunjuk Anaya yang duduk tidak jauh darinya.
"Menurut Anda apa Anaya?" tanya Khaira secara langsung.
"Kalau menurut saya, ilmu psikologi ini fokus pada perilaku dan cara berpikir anak, mulai dari masih di dalam kandungan, hingga beranjak dewasa. Jadi manfaatnya adalah untuk mendukung tumbuh kembang anak," jawab Anaya dengan yakin.
"Ya, tepat sekali ... memang tujuannya adalah mendukung tumbuh kembang anak," balas Khaira dengan tersenyum kepada Anaya.
"Sekarang saya jelaskan aspek penting dalam perkembangan anak usia dini. Pertama adalah perkembangan, perkembangan ini mencakup perkembangan fisik, kognitif, dan sosial-emosional. Kalau perkembangan fisik tentu Anda bisa mengamati langsung bayi yang lahir hingga perlahan bisa tengkurap, bisa duduk, bisa merangkak, berdiri, berjalan, dan berjalan, itu adalah perkembangan fisik. Perkembangan kognitis juga bisa dilihat dari penalaran dan bahasa. Sementara perkembangan sosial dan emosional ini sering dikaitkan dengan kecenderungan anak ketika melakukan aktivitas secara berkelompok, misalnya bermain bersama teman-teman sebayanya. Aktivitas semacam ini menjadi salah satu bagian perkembangan sosial Si Kecil. Sementara itu, perkembangan emosionalnya mencakup perasaan yang dimiliki anak dan cara mengungkapkannya.
Rasa takut, percaya, bangga, humor, percaya diri, bahkan persahabatan, menjadi bagian perkembangan sosial-emosional."
Apa yang dijelaskan Khaira sekarang agaknya mengulik Anaya, sebab perkembangan Emosi dan sosial itu tidak terlihat. Sehingga Anaya pun mengangkat tangan dan bertanya kepada Dosennya.
"Bu Khaira, bagaimana caranya orang tua bisa tahu emosi anak? Sebab biasanya anak sukar mengungkapkannya?" tanyanya.
Sebelum menjawab, Khaira rupanya kembali tersenyum, "Pertanyaan yang bagus yah. Cara bisa mengenalkan emosi kepada anak, dari senang, sedih, bahagia, bahkan marah pun harus dikenalkan kepada anak. Setelah anak memahami apa itu emosi dan perasaannya, kita orang tua bisa memvalidasinya. Misal anak kecewa, kita tanya apa yang membuat dia kecewa. Misalnya, anak ingin es krim, tetapi terlalu banyak es krim bisa membuat batuk, sehingga orang tua melarang anak makan es krim, di sana anak kecewa, menangis hingga tantrum. Biasanya orang tua mengalah jika anak menangis, tetapi coba beri waktu dia untuk menangis, merasakan kecewa karena tidak boleh makan es krim, dan setelah tenang beri tahu baik-baik. "Nak, es krim banyak gulanya, nanti kalau kamu makan banyak bisa batuk. Kalau batuk sakit tidak? Kamu suka makanan yang manis kan? Yuk, Mama potongkan buah di rumah." Seperti itu cara memvalidasi emosi anak," jelas Khaira.
Wah, Anaya benar-benar mendapatkan ilmu baru. Tidak dipungkiri semakin hari Citra juga kian bertumbuh nanti, sehingga memang tips dan trik seperti ini perlu dia tahu untuk bisa mengetahui keinginan Citra dan memvalidasi emosinya.
"Terima kasih Bu Khaira," balas Anaya.
Seperti inilah yang selalu Anaya suka. Dia datang kuliah dengan gelas yang kosong, dan Dosennya mengisi gelas kosong itu dengan air yang penuh, bahkan meluap. Membuat Anaya selalu semangat mengikuti kuliah Psikologi Perkembangan Anak.
__ADS_1
Usai mata kuliah selesai, Khaira pun juga seolah berbicara sebentar dengan Anaya. "Si baby di rumah baru ada masalah dengan emosinya yah?" tanyanya.
"Belum juga sih Bu ... hanya saja saya harus bersiap nanti," balasnya.
Khaira pun tersenyum, "Mengasuh anak itu tricky sih. Cuma seru kok. Jangan bosen untuk menemani tumbuh kembangnya, dan memvalidasi emosinya. Bisa dia menangis lama, tertawa lama, dan itu bagian dari perkembangan emosinya," jelas Khaira lagi.
"Benar Bu ... lagipula, saya kuliah untuk membekali diri sendiri. Untuk bisa mengasuh Citra dengan baik lagi," balasnya.
"Namanya Citra yah? Sudah berapa tahun?"
"Akan dua tahun, Bu," jawab Anaya.
"Sudah waktunya punya adik itu karena sudah mau lepas ASI. Anak saya selisih tiga tahun, jadi Kakak dan Adiknya jaraknya tidak jauh. Cuma, yang sulung cewek dan yang bungsu cowok," balas Khaira.
"Tambah lagi satu Bu Khaira, kan masih muda," balas Anaya dengan tertawa.
Khaira pun juga tertawa, "Tidak ah, dua anak cukup. Aku doakan Citra segera punya adik yah. Baiklah, duluan ya Anaya ... Suami sudah jemput," pamit Khaira kemudian.
"Iya Bu," balasnya.
"Oh, mungkin sudah datang suami kamu," balas Khaira.
Anaya menganggukkan kepalanya, dan benar di parkiran fakultas suaminya sudah datang. Pun demikian suami Dosennya itu juga sudah datang.
"Bu Khaira, saya duluan yah ... Mas Tama sudah menjemput," pamitnya dengan menundukkan badannya sedikit.
"Iya, hati-hati yah," balas Khaira dengan melambaikan tangannya kepada mahasiswinya itu.
__ADS_1
Anaya berjalan ke mobil milik suaminya, dan segera masuk, "Mas," sapanya dengan tersenyum.
"Iya Sayang ... gimana kuliahnya?" tanya Tama.
"Seru ... yuk, ke Benhil, Mas. Udah pengen beli Soto Mie dan Bopet Mini," balasnya.
Tama tertawa di sana, "Kamu kayak baru ngidam aja sih Yang ... yuk, let's go to Benhil," balas Tama.
Tanpa menunggu waktu lama, Tama melajukan mobilnya menuju Bendungan Hilir atau yang biasa disingkat Benhil. Di sana Anaya segera mengajak suaminya untuk membeli Soto Mie yang terkenal dari rumah makan di sana.
"Soto Mienya dua, Pak," pesan Tama kepada penjual di sana.
Tidak menunggu lama dua mangkok Soto Mie dengan daging pun sudah disajikan dan kedunya menikmatinya bersama. Tama tersenyum melihat istrinya yang terlihat menikmati Soto Mie-nya itu.
"Enak?" tanya Tama.
"Iya, enak ... cuma mencium aromanya saja sudah kenyang deh Mas ... nanti kalau enggak habis gimana?" tanya Anaya kemudian.
"Baru dimakan sedikit loh, tadi katanya pengen ... dimakan dulu yah," balas Tama.
Sampai akhirnya Anaya hanya kuat memakan separuh saja. Dia berkata sudah begitu kenyang. Ingin makan dan menghabiskan, tetapi perutnya sudah cukup rasanya.
"Cuma cium aromanya sudah kenyang," ucap Anaya lagi.
"Ishs, jangan-jangan kamu ngidam Sayang ... kalau benar, seneng deh, buah cinta udah bertumbuh berarti," balas Tama.
Anaya menunduk dan melihat perutnya yang masih rata, "Masak sih? Kenapa enggak mual?" tanya Anaya kemudian.
__ADS_1
"Tidak semua orang hamil muda itu mual dan muntah kok, Yang ... mau apa lagi usai ini? Bopet kan? Yuk, aku beliin buat kamu," balas Tama.
Semula Anaya yang sudah merasa kenyang, melihat jajanan khas Minang, dia pun terlihat ingin membeli, tetapi dia hanya membeli 1 pcs setiap variannya saja, takut hanya ingin beli dan mencicipi sedikti dan akhirnya tidak kemakan. Akhirnya cukup beli secukupnya saja.