
Rasanya baru semalam, Anaya dan Tama ke Rumah Sakit dan Dokter Indri menanyakan apakah Anaya tidak mengalami morning sickness? Rupanya pagi ini Tama yang terlelap tiba-tiba merasakan rasa mual menyeruak di dalam lambung hingga tenggorokannya. Hingga akhirnya, Tama segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya, tetapi yang keluar hanyalah air. Rasa pahit seketika menyelimuti seluruh rongga mulutnya.
Mendengar suara dari kamar mandi, Anaya pun terbangun. Wanita itu perlahan menyusul ke kamar mandi dan melihat suaminya yang tengah muntah di depan wastafel.
"Kenapa Mas?" tanyanya.
"Enggak tahu, Yang ... kamu keluar saja Sayang. Kamu tidak jijik melihatku muntah?" tanya Tama dengan merasa mual yang begitu menyeruak.
Anaya menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak jijik sama sekali kok," jawab Anaya dengan memijat tengkuk Tama di sana.
Kemudian Tama menyeka mulutnya dengan air, sekaligus membasuh wajahnya dengan air, terlihat jelas wajahnya memerah usai mual dan muntah yang begitu dahsyat sampai air mata menitik begitu saja dari sudut matanya.
Anaya pun segera mengambilkan tissue dan memberikannya kepada Tama, "Tissue Mas," ucapnya.
"Makasih Sayang," jawabnya dengan menerima tissue itu dan segera menyeka mulut dan wajahnya.
Melihat ada tissue yang menempel di kening Tama, Anaya pun segera berjinjit dan mengambil tissue di kening suaminya. Akan tetapi, saat tangan Anaya menyentuh kening suaminya, kenapa Anaya merasa suhu tubuh suaminya terasa lebih panas. Sehingga Anaya kembali menyentuh kening Tama dengan tangannya sekali lagi.
"Kamu demam loh Mas," ucapnya.
"Enggak apa-apa. Aku baik-baik saja kok Sayang," ucap Tama.
Anaya kemudian menggandeng tangan suaminya itu dan keluar dari kamar mandi. Kemudian Anaya mengambil air putih hangat untuk suaminya.
"Minum dulu, Mas," ucapnya.
"Makasih Sayang," ucapnya dengan meminum sedikit air putih hangat itu.
__ADS_1
Anaya masih menyentuh kening Tama di sana. Kali ini perasaan Anaya benar bahwa suaminya itu tengah demam. "Ke Dokter ya nanti ... periksa," ajaknya.
Tama menggelengkan kepalanya, "Enggak usah ... nanti juga sembuh kok," balasnya.
"Sembuh gimana ... demam loh. Minum penurun demam yah?" tawar Anaya lagi.
Mengiyakan ucapan istrinya, akhirnya Tama menganggukkan kepalanya saja. Dia menerima satu butir paracetamol dari istrinya untuk menurunkan demam, dan meminumnya dengan air putih hangat tadi.
"Aku khawatir kamu kenapa-napa. Semalaman kan kamu sehat-sehat saja. Sekarang kok, sakit kayak gini sih," balas Anaya.
"Enggak tahu, Yang ... mungkin ini kehamilan simpatik atau Couvade Syndrom. Kemarin Tante Indri bilang bahwa ibu yang hamil kembar akan mengalami morning sickness lebih parah. Kamunya sehat, aku yang morning sickness," jawab Tama dengan menghela nafas dan memejamkan matanya sesaat.
Kehamilan simpatik atau Couvade Syndrom adalah masalah yang terjadi pada pasangan pria dari wanita hamil yang mengalami gejala saat hamil. Memang hal ini dapat membuat seorang pria mengalami gejala berupa morning sickness berupa mual dan muntah, bisa juga mengalami sembelit, perut kembung, bahkan bisa juga mudah marah.
"Jadi, kamu kena kehamilan simpatik Mas?" tanya Anaya lagi.
"Mungkin saja Sayang," balas Tama.
"Sudah tidak usah dipikirkan. Aku tidak apa-apa kok. Yang penting kamu dan baby twins sehat selalu," ucap Tama.
"Kasihan sama kamu," balasnya.
Tama tersenyum dan menatap istrinya itu, "Tidak perlu kasihan. Aku baik-baik saja. Asal ada kamu di sisiku, aku baik-baik saja, Sayang," ucapnya.
"Yakin?"
"Iya, yakin ... sangat yakin," balasnya.
__ADS_1
Anaya tampak mengusapi kening suaminya itu. Mungkin juga efek paracetamol yang diminum hingga keringat pun keluar dengan sendirinya dan demam yang diderita Tama juga kian turun.
"Aku masih ngantuk Sayang," keluh Tama kali ini.
"Ya sudah, bobok dulu saja. Ini masih jam tiga dini hari," balasnya.
Anaya pun berdiri terlebih dahulu, mengulurkan tangannya kepada suaminya itu. "Yuk ke tempat tidur," ajaknya.
Akhirnya keduanya kembali menaiki tempat tidur, dan Tama kali ini yang menyerukkan wajahnya di dada istrinya. Rasanya sedikit dingin, sehingga dekapan hangat dari sang istri sangat dia harapkan.
"Peluk aku Sayang," pintanya dengan memejamkan matanya.
Anaya pun segera mendekap suaminya dan memberikan belaian di kepala dan rambut suaminya itu. Sungguh, Anaya merasa kasihan dengan Tama yang terlihat lemas seperti ini.
"Parfum kamu ini apa Yang?" tanya Tama kemudian.
"Aku ganti parfum kok, Mas ... bukan yang Vanilla seperti biasanya. Ini ada wangi Strawberry, Coconut Water, nuansa pantai gitu. Enggak suka yah?" tanya Anaya.
Mungkin saja, penyebab suaminya mual adalah parfumnya yang memang berubah. Sehingga Anaya pun berniat untuk mengganti lagi parfumnya jika itu membuat Tama menjadi pusing.
"Enggak ... aku suka yang ini kok. Lebih segar," balasnya. "Kamu punya berapa Yang?" tanya Tama lagi.
"Ada dua kok," jawab Anaya.
"Ya sudah ... aku bawa satu yah. Jaga-jaga kalau di kantor, aku mual. Aku tinggal cium parfum kamu. Serasa cium kamu, Sayang," balas Tama.
Anaya pun tersenyum di sana. Ada rasa geli kala wajah Tama berkali-kali menceruk di area dadanya, "Ya sudah ... buruan bobok Mas ... jangan gerak-gerak terus, geli," balas Anaya dengan menepuk lengan suaminya itu.
__ADS_1
Tama justru tersenyum, "Iya-iya ... hangat dekat sumber ASI," balasnya dengan memejamkan matanya perlahan.
Anaya hanya bisa geleng kepala dengan suaminya itu. Walau sedang tidak enak badan, bisa-bisanya berceloteh ria seperti ini. Rasanya benar, mungkin dirinya penawar mual bagi Tama. Semoga saja couvade syndrom yang dialami Tama bisa segera pulih dan tidak mengganti suaminya ketika bekerja nanti.