
Melahirkan kembar memang berisiko tinggi mengalami pendarahan. Hal ini disebabkan karena luasnya area plasenta dan menyebabkan rahim membesar terlalu banyak. Selain itu, ada bagian plasenta yang menempel di dinding rahim Anaya, sehingga usai bayinya dikeluarkan, Dokter menginstruksikan untuk melakukan transfusi darah.
Lantaran kondisi Anaya yang belum stabil, maka Inisiasi Menyusui Dini belum bisa dilakukan. Si kembar memang begitu sehat, tangisan keduanya menggema di dalam ruang operasi itu dan kemudian keduanya di berikan sinar terlebih dahulu dan juga disuntikan Vitamin K yang membantu proses pembekuan darah dan mencegah pendarahan yang bisa terjadi pada bayi. Bayi yang baru lahir memiliki jumlah vitamin K yang sedikit dalam tubuh mereka, karena itulah perlu diberikan suntikan vitamin K.
Tama kini memilih fokus dengan Anaya yang terbaring lemah di atas brankar, dengan air mata yang terus berlinangan.
"Pandanganku mengabur, Mas," ucap Anaya dengan matanya yang terasa sayu dan begitu berat.
Tama menggelengkan kepalanya, "Tidak Sayang ... sehat yah, kuat yah," balasnya.
Anaya mengulas senyuman tipis di wajahnya, "Titip Citra dan Si Kembar ya Mas," ucapnya lirih.
Dengan cepat Tama menggelengkan kepalanya, sungguh hatinya terasa sesak seperti ini. Tidak menyangka bahwa perkataan seperti ini akan diucapkan oleh Anaya. Peristiwa buruk di hari persalinan benar-benar menjadi momok yang mengerikan untuk Tama. Bayang-bayang kepedihan dan takut kehilangan membuat Tama merasa begitu sesak. Genggaman tangan Tama di tangan Anaya begitu kuat. Berkali-kali Tama mengecupi punggung tangan Anaya itu.
"Jangan berbicara begitu Sayang ... kamu akan baik-baik saja," balas Tama dengan dada yang begitu sesak.
Air mata Anaya di sana terus berlinang. Yang dia rasakan sekarang tubuhnya benar-benar ringan, mungkin seringan kapas, dan juga pandangannya yang mulai kabur. Juga air mata yang berlinangan dengan sendirinya, seakan air mata itu tidak bisa dihentikan, terus-menerus berderai.
Sementara di luar sana, Ayah Tendean pun juga merasa begitu harap-harap cemas. Ini sudah tiga jam sejak Anaya masuk ke dalam ruang operasi dan belum ada tanda-tanda bahwa operasi telah selesai, sementara di ruang operasi yang lain, pasien yang melahirkan sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
Ayah Tendean berjalan mondar-mandir di depan ruangan operasi dan terus berdoa semoga proses operasi kali ini baik adanya. Namun, rasa cemas tidak bisa diusir begitu saja. Hingga Ayah Tendean pun mengusapi wajahnya dengan kasar, karena begitu cemas.
"Ya Tuhan, lancarkanlah operasi putri hamba satu-satunya ... berikan kelancaran dan keselamatan untuk Anaya dan bayinya. Semoga semuanya diridhoi oleh Tuhan dan ada keselamatan untuk Anaya," gumam Ayah Tendean di dalam hatinya.
__ADS_1
Sampai akhirnya, menit demi menit berlalu, ada dua bayi yang dikeluarkan dari ruang operasi itu dan dipindahkan ke inkubator untuk masa observasi pada bayi. Ayah Tendean hanya menduga bahwa bayi laki-laki dan perempuan itu adalah bayinya Anaya dan Tama, tetapi kenapa belum ada tanda-tanda bahwa operasi akan berhenti.
"Apakah ini bayinya Anaya dan Tama?" tanya Ayah Tendean.
Perawat itu pun menganggukkan kepalanya, "Benar ... bayi ini adalah bayinya Nyonya Anaya. Keduanya sehat," jawabnya.
Air mata Ayah Tendean berlinang seketika, tidak menyangka dua cucunya sudah bisa dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Kedua bayi yang begitu sehat dan kulitnya kemerah-merahan. Kembar fraternal dengan wajah yang juga sepenuhnya berbeda.
"Lalu, bagaimana dengan ibunya? Anak saya?" tanya Ayah Tendean lagi.
"Nyonya Anaya masih ditangani karena mengalami pendarahan," jawab perawat itu.
Seketika, lutut Ayah Tendean terasa begitu lemas. Tidak mengira bahwa Anaya akan mengalami pendarahan usai melahirkan. Kebahagiaan kala melihat si Kembar, tergantikan lagi dengan kecemasan. Sungguh cemas, tetapi Ayah Tendean juga tidak tahu bagaimana kondisi di dalam.
"Tolong anak saya," pinta Ayah Tendean.
Ayah Tendean benar-benar terduduk lemas seiring dengan box bayi berisi dua cucunya yang dipindahkan ke dalam ruang perawatan bayi. Jika di luar saja, Ayah Tendean begitu lemas dan cemas, bagaimana dengan Tama yang ada di dalam ruang operasi. Sudah pasti Tama juga cemas dan melihat Anaya yang terbaring lemah sekarang tidak bisa dibayangkan oleh Ayah Tendean.
"Tolonglah Anaya Ya Tuhan ... pulihkan dan sembuhkanlah Anaya," ucap Ayah Tendean dengan memejamkan kedua matanya.
Sementara di dalam sana, Tama terus mengajak Anaya berbicara supaya Anaya bisa terus sadar. Kondisi yang turun, pendarahan, dan efek obat bius memang membuat mata menjadi semakin berat dan rasa kantuk hinggap. Akan tetapi, Tama berusaha untuk bisa menahan Anaya.
"Kamu harus kuat, My Love ... Citra di rumah menunggu Mamanya. Si Kembar juga yang mau minum ASI dan digendong Mamanya yang cantik ini," ucap Tama.
__ADS_1
Senyuman tipis di bibir Anaya yang berbalut dengan derai air matanya yang terus mengalir. "Maafkan aku ya Mas," ucap Anaya dengan lirih.
Tama dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu minta maaf ... kuat yah. Aku pun sangat membutuhkan kamu, Sayang," balasnya.
Kondisi yang terbilang kritis dan berbagai kemungkinan baik itu buruk atau baik bisa sama-sama terjadi. Setelahnya, hampir empat jam berlalu, akhirnya Anaya baru selesai ditangani.
"Masa kritis sudah berlalu," ucap Dokter Bedah di sana.
Ah, perasaan Tama begitu lega. Air matanya sebagai seorang pria berlinang begitu lega. Tidak ada kabar yang lebih baik selain mendengarkan bahwa masa kritis sudah berlalu. Semoga Anaya akan pulih dengan sempurna.
"Pendarahannya dan plasenta yang menempel di dindin rahim berhasil ditangani dengan baik. Pasien akan dipindahkan ke kamar perawatan intensif," jelas sang Dokter lagi.
"Alhamdulillah, terima kasih Dokter," ucap Tama dengan suaranya yang bergetar dan air matanya yang berderai.
Dia pikir, momok terburuk di ruang bersalin akan kembali terjadi. Ditambah kondisi Anaya yang benar-benar turun. Akan tetapi, kali ini Tuhan begitu berbaik hati kepadanya. Pendarahan dan plasenta yang menempel di dinding rahim bisa ditangani dengan baik.
"Puji syukur kepada Tuhan," ucap Dokter Indri dengan tersenyum.
Di dalam hatinya Dokter Indri bisa merasa lega karena dia sendiri yang menangani persalinan keponakannya. Selama empat jam berada di dalam ruang operasi, ternyata mendapatkan hasil yang baik.
"Anaya masih akan diobservasi selama enam jam, Tama. Apakah nanti dia akan mual, muntah, dan sebagainya karena bius epidural yang diberikan. Selamat yah ... kalian menjadi orang tua bagi si kembar," ucap Dokter Indri.
"Terima kasih Tante," balas Tama. "Apakah memungkinkan pasien akan tertidur?" tanya Tama kemudian.
__ADS_1
"Iya, pengaruh dari obat bius. Jangan khawatir Tante dan tim Dokter sudah bekerja keras kali ini. Mungkin Anaya akan tertidur satu hingga dua jam, pantau terus ya," pinta Dokter Indri.
Sudah pasti Tama akan memantau Anaya, tidak akan meninggalkan Anaya seorang diri. Jika, kondisi Anaya benar-benar stabil barulah Tama bisa merasa tenang. Jika tidak, keresahan masih melingkupi hatinya.