
Menyelesaikan administrasi di Rumah Sakit, Tama akhirnya kembali ke dalam kamar Anaya. Pria itu juga terkejut karena di dalam kamar itu ada Mama Rina dan Citra yang rupanya kembali datang dan mengunjungi Anaya dan si Kembar. Bahkan Citra terlihat sudah duduk manis di atas brankar di samping Mamanya.
“Hei, anak manisnya Papa … Kak Citra ke sini lagi yah?” tanya Tama yang segera memeluk Citra.
Terlihat Citra dengan kedua tangan mungilnya memeluk Papanya, wajahnya menempel dengan perut Papanya itu. “Iya Papa … kangen sama Mama dan Twins. Citra sudah bobok sama Eyang tiga malam loh,” ucapnya dengan mengangkat tiga jarinya sebagai bentuk angka tiga.
Tama pun tersenyum dan mengusapi puncak kepala Citra, “Ini Papa, Mama, dan Baby Twins mau pulang kok Kak Citra. Nanti malam bisa bobok sama Papa,” balasnya.
Citra kemudian menatap Mamanya, “Mama sama Twins yah?” tanyanya.
“Kak Citra mau bobok sama Mama?” balas Anaya.
Terlihat Citra menganggukkan kepalanya, “Iya Ma … sama baca buku,” balasnya.
“Oke … boleh,” balas Anaya.
Selang lima belas menit, Tama pun mengajak Anaya, Mama Rina, dan Citra untuk pulang ke rumah mereka. Setelah hampir empat hari di Rumah Sakit, akhirnya Anaya sudah diperbolehkan untuk pulang.
“Mau pake kursi roda Sayang?” tanya Tama.
Terlihat Anaya menggelengkan kepalanya, “Enggak … bisa jalan kok Mas, pelan-pelan saja,” balasnya.
Terlihat Anaya menggendong Charla, sementara Mama Rina menggendong Charel. Tama yang mendorong koper dan menawarkan kepada Citra apakah putrinya itu mau digendong.
“Kak Citra mau digendong Papa?” tanyanya.
"Jalan saja Papa," balasnya dengan berjalan di samping Papanya dan Tama segera menggandeng tangan mungil itu.
Mama Rina pun tersenyum, "Kak Citra sudah pintar yah ... kita pulang bawa dua baby yah," ucapnya.
__ADS_1
"Iya Eyang ... adiknya Citra langsung dua ya Yang?" tanyanya.
"Benar Kak Citra ... Tuhan baik banget kan langsung memberikan dua adik baby untuk Kak Citra," balas Mama Rina.
Citra pun menganggukkan kepalanya, "Iya Yang ... babynya jangan nangis ya Yang ... nanti Citra tidak bisa gendong."
Semuanya pun tersenyum, mungkin Citra juga memahami bahwa ketika dirinya sedang menangis pastilah Mama, Papa, atau Eyangnya selalu menggendongnya. Sehingga Citra berpikir ketika adik bayinya menangis, Citra tidak akan menggendong karena masih kecil.
Hingga akhirnya di dalam mobil, mulailah Anaya dan Mama Rina duduk di belakang dengan menggendong bayi satu-satu. Sementara di depan ada Tama dan juga Citra.
"Mama tidak ke Rumah Sakit lagi kan Pa?" tanya Citra kepada Papanya.
"Ke Rumah Sakit untuk kontrol saja, Citra ... tapi sebentar saja kok," balasnya.
"Jangan bobok di Rumah Sakit lagi ya, Pa ... Citra kangen Mama dan Papa."
Berkendara hampir 45 menit, sekarang Tama sudah membawa pulang keluarganya. Dia dengan hati-hati membukakan pintu untuk Anaya sambil menggendong Citra.
"Selamat datang di rumah kita Mama dan Adek," ucap Citra kala itu.
"Terima kasih Kak Citra," ucap Anaya.
"Bisa naik tangga?" tanya Tama lagi.
"Bisa, pelan-pelan saja," balas Anaya.
Mama Rina melihat Anaya di depannya. "Pelan-pelan Anaya ... biar digendong Tama saja," balasnya.
"Eh, tidak usah Ma ... Anaya bisa kok Ma," balasnya.
__ADS_1
"Iya, aku gendong saja," balas Tama.
Anaya dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Bisa Mas ... bisa," balasnya.
"Ya sudah, penting hati-hati."
Dengan pelan-pelan, Anaya menaiki anak tangga dan kemudian menuju ke kamar mereka. Anaya kemudian menidurkan Charla di box bayinya, sementara Mama Rina menidurkan Charel. Kedua kembar Fraternal itu tampak tertidur dengan pulas. Anaya dan Mama Rina sama-sama tersenyum di sana.
"Kalau babynya tidur, buat istirahat saja, Anaya ... Mama juga akan tinggal di sini dengan kalian. Mama harap kalian berdua tidak keberatan," balas Mama Rina.
"Tidak keberatan Ma ... justru Anaya senang dan berysukur sekali karena Mama sudah mau tinggal di sini bersama dengan kami. Anaya merasa dibantuin, Ma," balasnya.
"Syukurlah ... kalau ingin apa-apa, katakan saja kepada Mama ya Anaya. Jangan sungkan. Kamu tahu kan, bagi Mama, kamu itu sudah seperti anak Mama sendiri," ucap Mama Rina.
Anaya pun kemudian menganggukkan kepalanya, "Terima kasih banyak Mama," balasnya.
"Tentu. Terima kasih banyak ya Anaya," ucap Mama Rina yang hampir menangis menatap menantunya itu.
"Maaf kan Tama ya Anaya," ucap Mama Rina dengan menangis kali ini.
Ada sesuatu yang sudah diceritakan Tama kepada Mama Rina. Untuk itu, Mama Rina meminta maaf kepada Anaya. Meminta maaf untuk anaknya.
Anaya lantas menggelengkan kepalanya, "Tidak Mama ... ini bukan salahnya Mas Tama," ucapnya dengan meneteskan air matanya.
“Semua ini tidak akan terjadi, jika Tama tidak menandatangani kala itu,” balas Mama Rina.
“Tidak apa-apa, Ma … ini sudah menjadi takdir Anaya. Anaya sudah ikhlas,” balasnya.
Di hadapan Mama Rina, Papa Budi, dan Ayah Tendean, Tama memang mengakui kesalahannya sehingga membuat Anaya kehilangan rahimnya. Semula Tama pikir Histerektomo itu istrilah apa, tetapi ternyata itu adalah pengangkatan rahim dengan metode laparoskopi.
__ADS_1