Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Keluarga Baru


__ADS_3

Sebenarnya mengajak Anaya ke Posyandu rasanya bukan keputusan yang tepat. Tama baru saja menjadi duda, belum ada tiga minggu. Sementara kini ada wanita muda yang terlihat sayang dengan Citra. Oleh karena itu, para tetangga pun berpikir bahwa Anaya adalah calon menantu bagi keluarga Mama Rina dan Papa Budi.


“Maaf ya Anaya, jika berbagai pertanyaan dari tetangga tadi membuat kamu tidak nyaman,” ucap Mama Rina.


Sebagai seorang Ibu, tentu Mama Rina tahu bahwa Anaya menunjukkan wajah yang tidak nyaman saat tetangga berkata bahwa dirinya adalah calon menantu. Bahkan ada yang berbisik-bisik bahwa si Mas Duda akan segera menikah kembali. Ada kalanya, image menjadi duda pun tidak baik. Jika ada kedekatan dengan seorang wanita akan dianggap sebagai wanitanya atau calon istrinya, atau sebatas wanita bayaran saja. Padahal, Mama Rina sepenuhnya tahu bahwa Tama masih mencintai Cellia. Tama masih dalam suasana berduka, dan tidak mudah melupakan Cellia begitu saja.


Sementara bagi Anaya sendiri, Mama Rina juga tidak tahu bagaimana latar belakang wanita yang menjadi Ibu Susu bagi Citra. Yang Mama Rina tahu bahwa Anaya juga terlihat masih sangat kehilangan bayinya sendiri.


“Tidak apa-apa, Tante … ya karena mengurangi ucapan tetangga saja, Anaya tidak ingin membuat gosip yang tidak mau dan merusak nama Tama. Image duda pun di lingkungan juga tidak baik, Tante … terlebih di sejumlah novel online di mana penulisnya selalu menggambarkan duda yang me-sum dan haus belaian. Padahal tidak semua duda seperti itu. Justru pria jika terluka itu biasanya akan membekas dengan begitu dalam karena pria biasanya suka memendam sesuatu sendiri,” jawab Anaya.


Mendengar apa yang baru saja Anaya sampaikan, agaknya Mama Rina menjadi lega. Rupanya Anaya memiliki alasan tersendiri kenapa dirinya menolak untuk dijemput Tama. Rupanya Anaya pun memikirkan nama dan reputasi Tama. Terlalu dekat dengan seorang duda yang baru saja ditinggal istrinya tentu tidak baik.


“Syukurlah, Anaya … tadi, Tante pikir kamu merasa tidak nyaman,” balasnya.


“Anaya baik-baik saja, Tante … lagipula, tujuan Anaya ke sini kan untuk bekerja dan memberikan ASI untuk Citra. Selain itu, Anaya juga menginginkan mental yang lebih sehat dan stabil, Tante … jujur saja, dua hari ini Anaya merasa terbantu dengan adanya Citra. Merasa lebih tenang dan kesedihan Anaya teralihkan. Hanya saja di malam hari, rasanya ya masih saja sedih. Anaya seolah benci dengan malam hari,” ucapnya.


Anaya kali ini berbicara dengan jujur. Dia menginginkan kesehatan bagi mentalnya. Menginginkan kestabilan dalam hidup yang akan kembali, mungkin saja caranya melalui memberikan ASI dan mengasuh Citra. Secara materi, Anaya sangat berkecukupan. Ayahnya yang adalah seorang Dokter bisa memberikan apa saja untuknya. Akan tetapi, Anaya ingin memulihkan mentalnya yang sehat dan stabil. Justru jika bisa, Anaya ingin menatap masa depan dengan harapan yang baru.


“Jika Tama bisa bercerita dengan Tante, pastilah Tama akan merasakan demikian … hanya saja Tama memendamnya sendiri,” balas Mama Rina.

__ADS_1


“Cuma, Tama kelihatan kuat banget kalau sudah bersama Citra. Dia juga kelihatan sayang banget sama Citra,” balasnya.


“Mungkin Citra ini mengingatkan Tama pada mendingan istrinya, jadi ya seperti itu adanya. Hanya saja, Tante memang pernah bicara kepada Tama supaya dirinya kuat … untuk Citra. Bagaimana pun Citra membutuhkan Papanya. Memang baru dua pekan berjalan, Tante yakin duka itu masih sangat dalam. Hanya saja, Tante yakin bahwa Tama membutuhkan waktu. Seiring dengan berjalannya waktu, semuanya itu akan membaik.”


Harapan dari seorang Mama Rina untuk Tama. Tak mudah menghapus duka dan menenangkan hati. Namun, perlahan-lahan waktu akan memulihkan semuanya. Entah itu, berapa bulan yang dibutuhkan atau berapa tahun yang pasti Mama Rina yakin bahwa putranya akan segera pulih.


“Sejak menikah, Tama tinggal di sini juga ya Tante?” tanya Anaya dengan tiba-tiba.


“Tidak … Tama sudah memiliki rumah sendiri sejak menikah. Hanya saja usai kepergian istrinya, Tante meminta kepada Tama untuk pulang lagi ke rumah. Di sini kan Tante bisa mengasuh Citra. Makanya, Tante itu berdoa semoga Tuhan menganugerahi Tante dengan kesehatan dan umur panjang, supaya Tante bisa mengasuh Citra,” ucap Mama Rina.


“Amin … Anaya juga berdoa buat Tante. Wah, seneng banget Anaya bisa ngobrol seperti ini dengan Tante … rasanya Anaya kayak memiliki seorang Ibu gitu,” balasnya.


“Ibu tiada saat melahirkan Anaya … kisahnya Ayah itu mirip seperti Tama, Tante. Sama-sama kehilangan istri saat melahirkan bayi. Makanya sejak kecil, Anaya hanya mendapatkan kasih sayang Ayah saja. Tanpa pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu,” cerita Anaya.


Mendengarkan cerita dari Anaya, Mama Rina sudah berkaca-kaca. Mungkinkah Citra nanti akan tumbuh besar tanpa mengenal kasih sayang dari Ibunya. Mengingat tidak ada momen atau kenangan berharga dengan sang Ibu.


“Lalu, Ayah tidak menikah lagi?” tanya Mama Rina.


“Enggak … katanya Ayah hanya bisa mencintai satu orang wanita dan itu adalah Ibu. Tidak bisa menggantikan posisi Ibu di dalam hati Ayah. Selain itu, Ayah juga sibuk menjadi Dokter dan melayani masyarakat. Jadi, ya Ayah mengabdikan hidupnya untuk dua hal pertama membesarkan Anaya ya walaupun dengan babysitter, dan juga untuk melayani masyarakat,” cerita Anaya lagi.

__ADS_1


“Kamu boleh memanggil Tante, Mama kalau mau Anaya … Tante tidak keberatan,” balas Mama Rina.


Sungguh, rasanya hati Mama Rina pun terketuk usai mendengar cerita Anaya. Terbayang akankah cucunya yaitu Citra juga akan tumbuh tanpa pernah merasakan kasih sayang seorang Mama. Membayangkan semua itu saja membuat dada Mama Rina terasa begitu sesak rasanya.


“Benarkah? Boleh?” tanya Anaya.


Ada anggukan kepala dari Mama Rina, “Boleh … tidak apa-apa,” balasnya.


“Mm … maa … mama,” ucap Anaya.


Sebatas mengucapkan kata Mama saja bibir Anaya sudah bergetar, air matanya berlinang begitu saja. Tidak mengira di rumah Tama, dia justru mendapatkan keluarga baru. Mendapatkan perhatian dan kebaikan hati dari Tante Rina, mendapatkan Citra yang seolah justru menjadi pelipur laranya. Mama Rina mendekat dan memeluk Anaya, “Iya … panggil Mama saja tidak apa-apa. Yang kuat ya Anaya … kamu adalah wanita yang hebat. Wanita yang kuat. Mama yakin bahwa akan segera terbit pelangi sehabis hujan. Pelangi yang membusur dengan sempurna dan memancarkan pesona warnanya dalam hidupmu,” ucap Mama Rina.


Anaya menangis sampai sesegukan di dalam pelukan Mama Rina, “Amin … terima kasih, Ma … terima kasih. Ya Tuhan, tidak pernah Anaya berpikir bisa memanggil seseorang dengan sebutan Mama,” ucapnya dengan tergugu.


“Sama-sama Citra … terima kasih juga kamu sudah berbaik hati dan memberikan ASI untuk Citra. Mama mewakili Tama mengucapkan terima kasih kepadamu,” ucap Mama Rina.


“Anaya ikhlas kok, Ma … Anaya ikhlas memberikan ASI untuk Citra. Jika, setiap tetes ASI yang Anaya miliki itu bermanfaat untuk Citra, tentu Anaya akan sangat bahagia dan bersyukur,” balasnya dengan sepenuh hati.


Rasa sungguh haru bisa mendapatkan keluarga baru di tengah duka yang masih menyelimuti hati. Akan tetapi, itulah takdir yang seolah sudah digariskan oleh sang Khalik. Dia memiliki beribu macam cara untuk mengisi hidup manusia, tidak selamanya mendung bergelayut tebal, tidak selamanya pula tertawa ria. Akan ada di masa, di tengah isakan dan gugu pilu manusia, justru ada secercah harapan yang sengaja sang Khalik goreskan dalam lembar demi lembar kisah hidup manusia.

__ADS_1


__ADS_2