
Keluar dari ruangan Dokter Indri, Tama tidak ragu untuk menggandeng tangan istrinya itu. Merasa begitu lega karena dijelaskan langsung oleh ahlinya dan tentunya sangat detail. Bahkan untuk hubungan suami dan istri juga dijelaskan oleh Dokter Indri sehingga membuat keduanya sama-sama yakin untuk melakukan kedepannya. Tidak gegabah juga kala ingin berhubungan.
"Sudah lega kan?" tanya Tama kepada istrinya itu.
"Sudah, Mas ... untung kita juga belum berhubungan ya Mas. Aku sendiri sih masih takut," jawab Anaya.
Ya, secara hati rasanya Anaya juga merasa masih takut. Agaknya sekarang, usai kuret membutuhkan persiapan mental untuk kembali melakukan hubungan suami istri. Untunglah, keduanya dalam delapan hari ini memang tidak menyentuh sama sekali. Hanya saja, memang ada kalanya Tama yang mencium Anaya dan saling memeluk. Agaknya Tama memang seseorang yang memiliki bahasa kasih berupa sering memeluk dan mencium pasangan. Hanya saja, Anaya memang membatasi diri, supaya Tama tidak sampai tergugah hasratnya.
"Iya, untung banget. Padahal niatnya usai ini, aku mau minta jatah, ternyata harus puasa lagi," balas Tama dengan tersenyum di sana. Tidak dipungkiri bahwa Tama sudah merencanakan strategi bahwa usai dari Rumah Sakit, mumpung Citra masih berada di rumah Mama Rina, dia ingin me time sejenak dengan Anaya.
"Sudah aku tebak," balas Anaya.
"Cuma, ya kamu sembuh dulu saja, Sayang ... tidak usah menghiraukan aku. Kamu perlu waktu kan, jadi tidak usah terburu-buru," balas Tama.
Anaya menoleh sekilas menatap wajah Tama, setidaknya Anaya tahu pasti pria merasa pusing karena hasratnya tidak tersalurkan. Sementara dirinya sendiri juga masih dalam fase pemulihan, sehingga memang Anaya membutuhkan waktu untuk kembali memadu kasih bersama Tama. Namun, Anaya juga melihat bahwa Tama begitu sabar dan pengertian kepadanya.
"Maaf ya Mas ... jadi puasa panjang," ucapnya.
"Enggak apa-apa Sayang. Kalau sudah kan, bisa minta tiap hari," balas Tama.
Anaya yang mendengarkan jawaban Tama sontak menggelengkan kepalanya, "Ishhs, mana aku kuat coba kalau tiap hari. Tulangku bisa rontok semua," balasnya dengan memincingkan matanya kepada Tama.
Setelahnya, keduanya terus berjalan di koridor Rumah Sakit dan menuju ke parkiran untuk mengambil mobil. Saat mereka, berjalan bersama ada seseorang yang memanggil nama Anaya, sehingga memang Anaya dan Tama sama-sama berhenti.
"Anaya ...."
Merasa dirinya dipanggil Anaya pun menoleh dan mencari ke sumber suara. Ketika Anaya menoleh, rupanya ada Dicky yang berjalan ke arahnya.
"Dicky," ucap Anaya dengan lirih.
Tama yang melihat Dicky berjalan ke arah Anaya hanya bisa menatapnya saja. Mungkinkah pria itu akan datang dan tiba-tiba memeluk Anaya seperti dulu. Jika iya, Tama akan menghalaunya. Tama tidak suka jika Dicky memeluk Anaya dengan sembarangan.
"Hei, Anaya ... dari mana?" tanya Dicky kepada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Dari Poli Kandungan," jawab Anaya.
Mendengar nama poli kandungan, sontak saja Dicky melirik ke bagian perut Anaya. Namun, perut yang dia lihat itu masih rata. Jadi, mungkin saja masih kehamilan awal.
"Oh ... sudah hamil yah?" tanya Dicky lagi.
"Enggak, konsultasi dulu," balas Anaya.
Menurut Anaya, tidak perlu dia menjelaskan panjang lebar kepada Dicky. Detail urusannya di poli kandungan cukup dirinya dan Tama yang tahu.
Kemudian Dicky melirik saja kepada Tama, dan juga seolah tidak berniat untuk mengajak bicara Tama. Sehingga memang Tama pun merasa cuek saja. Toh, Tama juga merasa tidak ada hubungannya dengan dirinya.
"Aku baru saja mutasi ke sini Anaya ... jadi sekarang aku tinggal di Jakarta. Boleh dong main ke rumah kamu?"
Akan tetapi, Anaya tampak tersenyum, "Aku sekarang sudah bersuami, Dicky. Suamikulah rumahku ... jadi memang tidak elok kan kamu datang ke tempat suamiku," balas Anaya.
Walau Anaya menjawabnya tersenyum, tersirat penolakan yang halus dari Anaya. Tama yang mendengarkannya pun merasa bangga karena Anaya menolaknya dengan halus. Tidak perlu mengucapkan perkataan kasar, tetapi Tama yakin bahwa kalimat itu sarat dengan penolakan.
Mendengar penolakan Anaya, Dicky tampak tertawa di sini. "Oh, aku sampai lupa, kalau sahabatku dari kecil ini sudah bersuami. Aku berpikir kamu masih Anaya sahabatku," balas Dicky.
Kemudian Anaya menganggukkan kepalanya, dan berpamitan dengan Dicky. Sementara Tama hanya diam saja. Tidak berniat juga terlibat dalam obrolan dengan sahabatnya Anaya itu.
"Mas, marah?" tanya Anaya kemudian.
"Biasa saja, Sayang," balas Tama.
Anaya bertanya demikian memang apakah suaminya itu marah kepadanya. Mengingat Dicky yang juga sama sekali tidak mengajaknya bicara. Jujur saja, ada perasaan tidak nyaman di dalam diri Anaya. Tama yang diam, membuat Anaya merasa bersalah.
"Mau beli sesuatu Mas? Biar aku yang traktir," ucap Anaya kemudian. Mungkin saja bisa membuat perasaan suaminya itu menjadi lebih baik.
"Enggak ... kan kita sebelum ke sini juga sudah makan," jawabnya.
Begitu telah sampai di parkiran. Tama juga bersikap seperti biasanya, membukakan pintu untuk Anaya, barulah kemudian Tama mengitari mobil dan menempati kursi di belakang kemudi.
__ADS_1
"Mas, yakin enggak marah kan?" tanya Anaya lagi kepada suaminya.
Tama menggelengkan kepalanya, "Enggak Sayang ... kan juga pertemuan itu tidak direncanakan. Aku enggak marah kok," jawabnya.
"Cuma kok sejak tadi diam saja," sahut Anaya.
"Lha mau apa Sayang? Kan di sana aku juga digambar mati, tidak diajak ngobrol. Jadi, ya sudah lah. Mau apa lagi coba?" balas Tama.
Benar yang disampaikan Tama, bahwa memang ketika di sana, Tama tidak diajak berbicara oleh Dicky. Jadi, memang Tama cuek saja. Tidak ingin terlibat juga dalam pembicaraan itu.
"Maaf yah Mas," ucap Anaya lagi meminta maaf.
"Iya, My Love ...."
Kini Anaya yang berinisiatif untuk menggenggam tangan Tama di sana. Menelisipkan jari-jarinya di setiap sela ruas jari milik suaminya itu. Menggenggam tangan itu dengan kuat.
"Aku tadi tidak bohong loh Mas Suami ... kamu adalah rumahku, dan aku juga jelas-jelas menegaskan tidak elok dia akan sering main ke rumah. Jadi, jangan jealous yah. Bagaimana pun kamu adalah rumah tempatku pulang," ucap Anaya dengan tulus.
"Iya Sayang ... enggak jealous kok," balasnya.
" ..., tapi marah? Sebal?" tanya Anaya.
"Ya, sebel aja Sayang ... terlalu percaya diri," balas Tama.
Anaya kemudian tersenyum, "Sudah yah sebelnya. Nanti kalau sebel terus, aku yang sedih," balas Anaya.
Memberanikan diri Anaya sedikit bergerak dan menyambar bibir Tama dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir suaminya itu.
Chup!
"I Love U Mas Suami," ucap Anaya dengan tersenyum dan menundukkan wajahnya karena dia sebenarnya malu.
Tama menghela nafas dan menatap istrinya itu, "Jangan cium-cium Sayang ... sebagai pria yang sudah puasa delapan hari. Satu ciuman itu bahaya loh," jawabnya.
__ADS_1
Dengan cepat Anaya menggelengkan kepalanya, "Sabar ... tahan."
Tama kembali tersenyum. Kendati demikian dia memang senang kala Anaya mengecupnya. Walau kecupan itu bisa membuat dirinya seolah terbangunkan. Namun, hilang sudah rasa sebalnya karena Anaya yang berani mengecupnya.