Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Mempersiapkan Persalinan


__ADS_3

Hari ini akan menjadi hari di mana Tama akan mengajak Anaya untuk membeli beberapa perlengkapan untuk bayi kembarnya, mengingat persalinan juga tinggal beberapa pekan lagi. Untuk itu, kali ini Tama mengajak Anaya ke baby store dan membeli semua yang mereka butuhkan.


“Ayo Sayang … kita beli-beli untuk Twin,” ajaknya kepada istrinya itu.


“Iya Mas … tapi nanti jalannya pelan-pelan yah. Maklum kandungan kian membesar,” balas Anaya.


Tama pun menganggukkan kepalanya, “Iya Sayang … aman, pasti juga aku jagain kamu dan juga kita pelan-pelan saja. Citra kan juga sama Mama. Jadi, kita bisa lebih nyantai,” balasnya.


Kemudian Tama membantu istrinya itu untuk turun dari mobil, dan menggandengnya menuju baby store yang ada di salah pusat berbelanjaan. Lantaran bayi mereka kembar, sudah tentu yang akan dibeli mereka berdua lebih banyak.


“Belinya double ya Mas … buat baby boy dan baby girl,” sahut Anaya.


“Iya, baru pengalaman pertama belanja untuk bayi dan langsung beli untuk baby boy dan baby girl,” balas Tama dengan begitu excited.


“Dulu belinya hanya buat Citra ya Mas? Aku juga, dulu hanya beli untuk Cinta saja, itu pun masih banyak yang baru di rumah,” balas Anaya.


Tidak dipungkiri bahwa ada rasa sakit ketika membelikan perlengkapan bayi. Jika Tama mengingat sosok Cellia yang dulu menemaninya, dan Anaya yang mengingatnya bayinya, Cinta yang akhirnya tiada usai beberapa jam setelah dilahirkan. Ketika kenangan lama kembali menyeruak, ada kesesakan di dalam dada.


"Sabar ya My Love ... kali ini kita akan menyambut kebahagiaan," balas Tama.


Anaya pun tersenyum dan menatap suaminya, "Iya Mas ... semoga saja, walau jujur, aku mulai takut menjelang persalinan tiba," balasnya.


"Kita hadapi bersama-sama yah ... ada aku yang akan selalu mendampingi kamu dan menggenggam tangan kamu," balas Tama.


"Iya Mas Suami ... temeni yah," balas Anaya dengan mengapit lengan suaminya itu.


Kemudian mereka memasuki baby store itu dan terlihat memilih-milih perlengkapan untuk baby kembarnya. Jika Tama terlihat excited dengan pakaian bayi perempuan, Anaya terlihat excited dengan pakaian bayi laki-laki. Beberapa kali keduanya serius memiluh, hingga akhirnya Tama dan Anaya sama-sama tersenyum.

__ADS_1


"Kita pilih bersama," ucap Tama kemudian.


"Aku pilihin yang cowok boleh?" tanya Anaya kemudian.


"Iya, tentu saja. Kamu pilih untuk baby boy dan baby girl juga boleh kok. Nanti tinggal kita bayar," balasnya.


Akhirnya Anaya dan Tama sama-sama memilih untuk beberapa pakaian bayi mulai dari setelan untuk new born, sarung tangan dan sarung kaki, topi untuk bayi, kain bedong, dan juga personal care untuk bayi. Lantaran bayi mereka kembar Fraternal, yang dibeli keduanya memang jauh lebih banyak.


"Lucu banget ya Mas ... bisa beli untuk cowok dan cewek sekaligus. Pengen beli semuanya," ucap Anaya.


"Secukupnya saja, Yang ... kan juga bayi itu cepat tumbuhnya. Jadi ya, secukupnya saja," balas Tama.


"Iya Mas ... tidak akan berlebihan kok. Secukupnya saja. Sama beliin gendongan bayi kembar yang Twin Carrier, boleh Mas?" tanya Anaya kepada suaminya.


Memang untuk menggendong bayi kembar ada triknya dan juga harus digendong di samping kanan dan juga kiri. Untuk itu, Anaya meminta kepada suaminya untuk membelikan Twin Carrier sehingga bisa dipakai bersamaan untuk menggendong si kembar secara bersamaan.


"Navy saja Mas ... ini yah. Bagus deh ini, cuma agak mahal tuh Mas," ucap Anaya dengan mengambil gendongan khusus bayi kembar.


"Boleh Sayang ... bagus juga kok itu," balasnya.


Setelah semuanya dibeli, kemudian Tama membawa semuanya ke kasir dan juga membayarnya. Kini perlengkapan untuk baby sudah selesai, selebihnya harus menyiapkan untuk mental keduanya. Bayang-bayang kesedihan dan kehilangan berkaitan dengan persalinan setidaknya masih membekas di hati. Untuk itu, keduanya juga membutuhkan waktu untuk semakin siap menyambut kelahiran si kembar.


"Masih mau mampir?" tanya Tama yang kini sudah menenteng beberapa paper bag milik mereka yang begitu banyak.


"Dititipkan dulu saja Mas ... beliin Gelato yah," pintanya lagi.


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Oke Bumilku," balas Tama.

__ADS_1


Akhirnya, Tama menitipkan belanjaannya terlebih dahulu dan kemudian mengajak istrinya yang sedang menginginkan Gelato itu. Mumpung masih berada di pusat perbelanjaan, sehingga tidak masalah untuk membelikan gelato bagi istrinya.


"Mau rasa apa Sayang?" tanyanya.


"Strawberry Yogurt dan Caramel. Dua rasa aja Mas," balas Anaya.


Dengan senang hati, Tama pun membelikan Gelato dengan varian yang diinginkan istrinya. "Silakan Bumilku ... dimakan, dihabiskan," ucapnya.


"Makasih Papa Tama," balas Anaya dengan menerima gelato dua scope itu.


Tama tersenyum melihat Anaya yang terlihat senang waktu itu, kemudian Tama pun berbicara sesuatu kepada Anaya.


"Jadi, siap kan untuk menuju persalinan nanti?" tanya Tama.


Anaya menaruh sendok gelatonya sesaat, "Hmm, ya siap tidak siap sih Mas ... takut. Akan tetapi, aku akan menghadapinya bersama kamu. Aku takut kehilangan, aku takut bersedih, tapi ada kamu kan Mas yang akan selalu mendampingi aku kan?" tanya Anaya kemudian.


Tama pun menganggukkan kepalanya, "Iya, aku temenin. Aku akan selalu menggenggam tangan kamu nanti," balas Tama.


Seolah teringat dulu, ketika Tama selalu menggenggam tangan mendiang Cellia, sedetik pun Tama tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Walau pada akhirnya, mendiang istrinya mengeluh mengantuk dan tertidur untuk selamanya, tidak pernah bangun lagi. Memang ada sesak di dalam dada, tetapi semuanya adalah masa lalu. Kini situasinya sudah berbeda, sehingga Tama mengharapkan kali ini akan lebih baik adanya.


"Walau aku juga takut, Sayang ... tapi, aku akan kuat untuk kamu," balas Tama dengan menggenggam tangan Anaya.


"Sudah delapan bulan juga Mas ... persalinan sudah di depan mata, bisa lahir kapan saja baby twinnya," balas Anaya.


"Iya, pasti Sayang ... aku yang pasti akan selalu mendampingi kamu," balas Tama lagi.


Walau bayang-bayang persalinan tiga tahun lalu terasa sakit dan meninggalkan kepedihan mendalam. Kali ini Tama berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan juga semuanya akan berjalan dengan baik adanya.

__ADS_1


__ADS_2