
Malam yang bergelora benar-benar dinikmati oleh Anaya dan Tama. Dalam status yang berbeda, dalam ceremony yang kian memperkukuh sebuah akad membuat keduanya sama-sama memberi dan menerima. Malam itu, keduanya sama-sama menunjukkan bentuk tersembunyinya yang tentu hanya diketahui oleh keduanya saja. Setiap anatomi tubuh yang terpampang nyata, suara de-sahan, hingga respons alamiah kala menggapai puncak asmara, semuanya terlihat dengan jelas malam itu.
Anaya sendiri yang malu-malu, akhirnya juga sedikit membuka dirinya. Walau setelah kegiatan panas bersama suaminya usai, Anaya kembali kepada dirinya yang pemalu. Tama tersenyum, usai pertempuran panas mereka untuk kali kedua itu.
"Pasti yang sekarang tidak sakit kan?" tanya Tama kali ini dengan menyeka keringat di kening Anaya.
"Lumayan, aku belum terbiasa," balas Anaya.
"Ya, nanti banyak latihan ... biar terbiasa. Practice makes perfect, Sayang. Nanti aku ajarin," sahut Tama dengan begitu percaya diri.
Bagi Tama yang pernah menjalani kehidupan rumah tangga walaupun singkat, tentu saja pria itu memiliki pengalaman. Berbeda dengan Anaya yang tidak pernah berumah tangga karena memang dia hanya ditinggalkan begitu saja. Anaya terbilang hijau, sama sekali tidak memiliki pengalaman.
"Kamu udah pro ya Mas?" tanya Anaya dengan menatap wajah suaminya itu.
"Enggak juga, biasa saja," balas Tama dengan mengelus lembut rambut Anaya.
"Lah itu mau ngajarin aku," balas Anaya.
"Jangan salah paham, Sayang ... hubungan suami dan istri itu memberi dan menerima Sayang, nanti aku ajarin kamu yang pegang kendalinya," balas Tama.
Anaya dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak mau ... mana aku bisa," balasnya.
"Kalau kamu mau belajar ya pasti bisa, Sayang ... mau yah, kapan-kapan saja. Nanti diajarin pelan-pelan," balas Tama lagi.
"Apa orang berumah tangga selalu seperti ini?" tanya Anaya kemudian.
Bukan bermaksud untuk menyudutkan Tama. Akan tetapi, gambaran seperti apa kehidupan berumah tangga dan ritual apa saja yang biasa dilakukan suami dan istri, Anaya juga belum sepenuhnya tahu.
"Ya, seperti ini Sayang ... cuma tidak setiap malam juga, nanti kamu kecapekan," balas Tama dengan sedikit tersenyum.
"Oh, berarti kan banyak kan yah yang dilakukan pasangan suami dan istri. Cuma ada kayak gininya," balas Anaya.
__ADS_1
"Iya ... ini bumbu perekat Sayang, biar cinta kita makin bersemi. Anaya, jika bukan karena kecelakaan yang menimpamu, aku bisa menjadi pria yang kali pertama menyentuhmu dong?" tanya Tama perlahan.
Anaya pun menganggukkan kepalanya secara samar, "Iya, maaf ya Mas ... aku bukan wanita yang sempurna untukmu," balas Anaya.
Menyadari sepenuhnya bahwa dirinya bukan wanita yang sempurna. Wanita yang pernah terluka dan merasa hidupnya hancur karena kehilangan mahkotanya. Untuk itu, Anaya pun meminta maaf kepada suaminya.
"Tidak perlu minta maaf, Ay ... aku juga bukan suami yang sempurna untukmu. Aku duda beranak satu, tentu kamu ingat itu bukan?" balas Tama.
"Noda yang pernah menimpaku tak mudah dihapus begitu saja, Mas ... menyisakan trauma sendiri pada diriku," aku Anaya dengan jujur.
"Kamu tidak lagi ternoda Sayang ... aku menerima kamu apa adanya, sama seperti kamu yang apa adanya menerima diriku," balas Tama.
Kali ini mata Anaya tampak berkaca-kaca, sisi lain dari seorang Tama bisa Anaya lihat sekarang. Tama benar-benar partner yang sepadan dengannya. Ingat, pasangan yang sempurna bukan mereka yang merasa dirinya paling sempurna, tetapi mereka yang menyadari kekurangannya, dan tanpa ragu menunjukkan kekurangannya kepada pasangannya. Saling menerima kekurangan. Sebab, jika hanya menerima kelebihan itu mudah, tetapi menerima kekurangan itu sangatlah sukar.
"Kok malah nangis sih?" tanya Tama dengan menghela nafas dan menyeka air mata yang keluar dari sisi wajah Anaya.
"Terharu," balasnya.
Dengan cepat Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Hmm, iya ... besok kita pulang ya Mas. Aku sudah kangen Citra," pinta Anaya kali ini.
"Jadi, cukup semalam?" tanya Tama lagi.
"Semalam dulu saja. Lain kali bisa dilanjut lagi sekalian ngajakin Citra saja. Aku enggak tenang ninggalin Nak Cantik berlama-lama," balas Anaya.
"Ya sudah ... masih bisa di rumah. Cuma besok pulang ke rumah Mama Rina dulu ya Ay ... rumah baru kita masih perlu beberapa renovasi. Jadi, tinggal bersama orang tuaku dulu yah," ucapnya Tama.
"Iya ... gak apa-apa. Kalau akhir pekan, nginep di rumah Ayah ya Mas. Kasihan Ayah juga pasti kesepian nanti," balas Anaya.
Tama pun setuju. Dia juga merasa bahwa Ayah Tendean juga akan merasa kesepian jika Anaya tidak mengunjunginya. Bagaimana pun anggota keluarga Ayah Tendean hanyalah Anaya saja.
"Iya ... kamu mau tidur sekarang?" tanya Tama kali ini kepada istrinya.
__ADS_1
"Ehm, iya ... kalau boleh," balas Anaya.
"Ya sudah, boleh ... cuma gini saja Sayang," balas Tama.
"Maksudnya, gini aja Mas? Seperti tadi?" tanya Anaya. Wanita itu merujuk kepada tidur tanpa mengenakan busana, karena memang sekarang keduanya masih sama-sama polos mutlak. Hanya selimut dari hotel itu saja mengcover tubuh keduanya.
"Iya, gini saja ... aku peluk nanti," balas Tama.
"Dingin loh Mas ... kalau nanti aku masuk angin?" tanya Anaya.
"Malahan hangat, enggak akan masuk angin. Makin erat pelukannya makin hangat," balas Tama.
Anaya menggelengkan kepalanya dan menatap suaminya itu, "Cuma aku takut, Mas ... waktu aku tidur jangan ngapa-ngapain aku ya Mas. Aku trauma, sungguh," aku Anaya kali ini.
Semua itu Anaya katakan karena memang dulu Anaya kehilangan mahkotanya kala dirinya tertidur. Efek obat tidur yang dicampurkan dalam minumannya membuat Anaya terbangun dengan rasa perih di pangkal paha dan juga percikan noda merah di sprei hotel yang kala itu dia tempati.
Menyadari bahwa mungkin saja trauma Anaya kembali datang, Tama segera menganggukkan kepalanya, "Iya ... enggak akan. Palingan juga cuma peluk dan cium kamu saja. Boleh kan?" tanyanya.
"Iya ... yang lain jangan yah. Trauma itu bisa datang kapan saja, jadi ya aku mencoba mengatakannya kepada kamu," balas Anaya.
"Mau tidak berobat?" tanya Tama.
Trauma bisa disembuhkan, Tama justru berniat untuk mengajak Anaya ke konselor atau psikiater yang bisa menolong Anaya lepas dari masa lalu yang begitu menyakitkan untuknya.
"Enggak usah," balas Tama dengan menggelengkan kepalanya. "Ada kamu dan Citra, aku akan bisa sembuh. Cuma kan trauma ada sisa di hati dan kadang kala bisa memercik lagi. Jadi, ya ... harus lebih hati-hati," sahutnya.
"Baiklah Sayang ... terus ingatkan aku. Jika kamu merasa tidak nyaman bilang kepadaku secara langsung lagi," pinta Tama kali ini.
"Iya, pasti. Semakin terlihat kan Mas betapa tidak sempurnanya aku," sahut Anaya.
Tama pun segera menggelengkan kepalanya, "Tidak Sayang ... aku justru senang kamu terbuka kepadaku, menunjukkan kelemahanmu. Namun, percayalah aku akan berusaha menguatkanmu. Terima kasih sudah percaya kepadaku," balas Tama.
__ADS_1