Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Tantrum Tengah Malam


__ADS_3

Begitu telah sampai di rumah, Tama segera meminumkan obat untuk Citra. Setelah itu, Tama juga menggantikan pakaian Citra dengan pakaian yang tidak membuatnya gerah. Tangan Tama mengusap-usap kening Citra perlahan dan menyuarakan sebuah lagu anak-anak untuk putri kecilnya.


My little baby, not feeling well?


You have a fever, Daddy can tell


Rest little baby, i’ll care for you


You’ll get well soon, I’ll make sure you do


Dengan lirih Tama menyuarakan lagu yang berisi bahwa sebagai Ayah dia akan menjaga bayinya yang sedang tidak enak badan. Seorang Ayah yang akan memastikan bahwa bayi kecilnya akan segera lekas sembuh.


“Sudah minum obat ya Citra … lekas sembuh ya Sayangnya Papa. Semoga nyeri di gusi bisa segera sembuh dan Citra tidak demam lagi yah. Ini karena Citra akan bertumbuh. Nanti kalau gigi kamu sudah lengkap, pelan-pelan Citra bisa berbicara nih sama Papa,” ucap Tama yang mengajak sounding bayinya itu.


“Aaa … yaaa … aaaa,” teriak Citra sembari berguling di tempat tidur Tama. Seolah bayi kecil itu ingin ikut berbicara dan memberikan jawaban kepada Papanya yang sedang mengajaknya berbicara.


“Citra mau bicara apa sama Papa? Sini, cerita sini sama Papa. Yang penting Citra jangan rewel lagi yah … jujur saja Sayang, kalau kamu rewel, Papa bingung harus melakukan apa. Sebentar yah … Papa ambil buku dulu yah buat Citra. Nih Sayang … bukunya lucu … gambarnya bayi yang giginya dua. Nanti Citra juga akan tumbuh giginya seperti ini,” ucap Tama yang merupakan sedang menunjukkan gambar dari sebuah buku kepada Citra.


Citra sendiri ketika melihat buku itu pun segera menepuk-nepuk buku yang dibuat dari kain itu. Seolah sedang membuka-buka halamannya. Dengan banyak menghasilkan ludah sampai mengenai dagunya, Citra pun bersuara mengeluarkan suara dan oceh khas bayi.


“Iya … nih judulnya Hoam. Aku bangun … aku mandi … aku bermain … ibu memasak … ayah pulang … kami makan … kami membaca buku … kami tidur … hoam.”


Tama membacakan buku anak yang memang edukatif dan membuat orang tua bisa kian dekat dengan anak. Terlihat Citra yang ternyata juga menaruh perhatian pada buku dan juga suara Papanya. Kemudian Tama menyentuh lagi kening Citra, syukurlah demam Si Kecil itu perlahan sudah turun. Tama kemudian menggendong Citra, dan meredupkan lampu di kamarnya.

__ADS_1


“Sekarang bobok yuk Sayang … Papa gendong yah,” ucapnya dengan menggendong Citra dan mengusapi kepala putrinya itu dengan begitu lembut.


“Sabar ya Citra … orang dewasa ketika tumbuh gigi saja sakit, apalagi kamu. Cuma, Papa yakin Citra kuat yah … nanti kalau sudah keluar biji giginya, sudah nyaman. Citra jadi nanti lucu dan cantik nanti kalau memiliki gigi,” ucap Tama lagi.


Hampir setengah jam menggendong Citra, akhirnya bayi kecilnya itu bisa tertidur. Tama segera menidurkan Citra di tempat tidur bersamanya, Tama juga memasang penghalang di tempat tidur sehingga sisi yang ditempati Citra layaknya box bayi dan tidak akan membuat Citra jatuh. Sebab, ada kalanya Tama untuk tidur dengan Citra di dalam kamarnya.


“Sudah malam Citra … bobok dulu yah. Papa akan jagain kamu di sini. Semoga sudah sehat dan besok kembali ceria ya Cantiknya Papa,” ucap Tama.


Papa tunggal itu pun mulai berbaring di samping Citra, tentu ada rasa harap-harap cemas karena takut jikalau nanti tengah malam Citra bisa demam lagi. Sebab, anak yang tumbuh gigi pun demamnya bisa naik turun. Lagipula, ini juga menjadi pengalaman pertama bagi Tama merawat Citra yang sedang fase tumbuh gigi.


Papa muda itu tersenyum menatap wajah Citra yang tertidur. Rasanya Tama begitu sayang kepada putri kecilnya itu, sembari terus memberikan usapan di kening Citra. Hingga akhirnya Tama pun turut terlelap di samping Citra, dan tangannya yang menggenggam tangan mungil itu.


Rasanya baru saja Citra terlelap dan Tama juga ikut tidur, tetapi bayi kecil itu sudah bangun dan menangis lagi. Tama pun mau tidak mau turut terbangun dan segera menggendong Citra.


Suka duka menjadi orang tua tunggal memang seperti ini. Lagipula Tama memang bukan dari kalangan kaya raya yang bisa menggaji babysitter untuk anaknya. Membiarkan anaknya bersama babysitter, sementara orang tuanya bisa tidur dengan nyaman sepanjang malam. Tama, memang memiliki gaji dua digit setiap bulannya, tetapi pria itu lebih memilih menabung, mencukupi kebutuhan Citra karena ketika memiliki bayi kebutuhannya tidak bisa ditunda seperti diapers, makanan MPASInya, dan berbagai personal care untuk bayi, dan juga untuk memberikan gaji untuk Anaya setiap bulannya. Walau Anaya sudah bilang tidak meminta, tetapi Tama tetap memberikan apa yang menjadi hak Anaya.


"Skin to skin sama Papa ya Sayang ... biar suhu tubuh kita sama. Uhm, kasihan anak Papa yang baru demam," ucapnya.


Sekarang Tama memilih duduk, membuka kancing kemeja rumahan yang dia kenakan, dan melakukan skin to skin dengan Citra. Skin to skin memang merupakan salah satu metode yang disarankan untuk menurunkan demam anak. Membiarkan kulit bersentuhan dengan kulit, untuk menyamakan suhu tubuh. Kenapa Tama tidak memberikan obat penurun demam lagi? Sebab, belum ada empat jam dari pemberian obat pertama usai periksa tadi.


Sebab pemberian Paracetamol yang melebihi dosis, justru bisa menimbulkan efek samping seperti lemas, memar-memar di kulit, mata dan kulit menjadi kekuningan, urine berwarna keruh, feses kehitaman, dan berbagai efek samping yang lainnya. Sehingga, kali ini yang dilakukan Tama adalah melakukan skin to skin dengan Citra.


Namun, agaknya Citra masih menangis. Bertepatan dengan Citra yang menangis, rupanya ada pesan yang masuk di tengah malam, Tama pun meraih handphonenya yang tergeletak di atas nakas.

__ADS_1


"Anaya mengirim pesan jam segini?" tanyanya sendiri sembari mengusap layar handphonenya.


Ternyata benar, Anayalah yang mengirimkan pesan kepada Tama. Yang isinya demikian.


[From: Anaya]


[Tama, sorry malam-malam ngirimin kamu pesan.]


[Katanya Mama Rina tadi, Citra rewel yah? Gimana, masih rewel enggak Citranya?]


[Aku kepikiran Citra.]


Di pesan itu tertera jam 23.56, artinya memang nyaris tengah malam. Maka, Tama pun juga segera membalas pesan itu.


[To: Anaya]


[Iya ... rewel nih, Citra.]


[Tadi sudah minum paracetamol, cuma sekarang demam lagi.]


[Anaknya mau tumbuh gigi ini]


Tama pun segera mengirimkan pesan itu kepada Anaya. Setelahnya, Tama segera menaruh kembali handphonenya dan kemudian kembali mengusapi kepala Citra. Dalam hatinya, Tama berharap bahwa Citra segera sembuh dan bisa tidur. Tidak masalah dengan tidur duduk dan pangkuannya, yang penting demam yang dialami Citra bisa turun dan kemudian keduanya bisa sama-sama beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2