Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Memikirkan Saran dari Anak


__ADS_3

Agaknya apa yang dikatakan Anaya dan juga Tama membuat Ayah Tendean berpikir. Memang dalam 26 tahun terakhir, Ayah Tendean sama sekali tidak berpikir untuk menikah. Hidupnya fokus untuk bekerja dan juga untuk membesarkan Anaya. Ayah Tendean ingin walaupun tidak memiliki Bunda, tetapi kasih sayang yang dia berikan itu akan selalu cukup untuk Anaya.


Dulu, memang orang tua Ayah Tendean sendiri memberikan restu baginya untuk menikah lagi. Mengingat bahwa usianya dulu masih muda, dan Anaya yang masih bayi juga membutuhkan sosok Ibu. Nyatanya Ayah Tendean tidak goyah, dia tetap berdiri pada keputusannya untuk menduda.


Kini, Ayah Tendean tampak duduk di taman yang ada di serambi rumah Anaya bersama menantunya yaitu Tama. Kedua pria itu tampak saling mengobrol bersama.


"Ayah tampak kepikiran yah?" tanya Tama terlebih dahulu kepada Ayah mertuanya itu.


Ayah Tendean pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya ... rasanya aneh ketika mendengar Anaya menyuruh Ayah menikah. Ini menjadi kali pertama dalam 26 tahun. Sebelumnya Anaya tidak pernah mengatakan hal ini. Jadi, sebagai Ayah ... justru membuat bertanya-tanya," balasnya.


Tama kemudian tersenyum di sana. "Itu karena sekarang Anaya merasa sudah dewasa, Ayah ... merasa ingin ada sosok yang menggenggam tangan Ayah melewati hari-hari tua. Berbagi kasih dengan orang yang dicintai oleh Ayah," balas Tama.


Lantas Ayah Tendean pun tertawa sesaat dan menghela nafas panjang, "Jatuh cinta yang seperti apa, Ayah sudah lupa, Tama ... setelah kehilangan Bunda Desy rasanya Ayah menutup hati dan fokus untuk membesarkan Anaya. Satu-satunya harta Ayah yang berharga adalah Anaya. Dia dunia Ayah, yang membuat Ayah bisa bertahan dan juga membuat Ayah kuat," balasnya.


"Tidak mudah menjalani hidup sebagai seorang duda, Ayah ... satu tahun bagi Tama dulu saja rasanya begitu panjang. Namun, ketika Anaya datang dan mengasuh Citra, hati Tama tersentuh. Dipertemukan lagi dengan wanita yang mencintai Tama di masa lalu dan bertemu kembali sebagai Ibu Susu itu rasanya aneh. Namun, Tama yakin perasaan itu muncul lebih besar dari yang bisa Tama bayangkan," balasnya.


Rasanya memang aneh, dulu Anaya adalah pacar Tama, walau tidak lama. Kemudian putus, dan dipertemukan kembali dalam kondisi yang sepenuhnya berbeda. Ada kecanggungan yang besar, tetapi seiring berjalannya waktu perasaan Tama juga tumbuh makin besar untuk Anaya.


"Iya, itu bisa terjadi. Kalau buat Ayah, kelihatannya Ayah sudah terlampau tua, Tam ... di atas kepala lima. Hasrat seperti yang kamu ucapkan itu juga tidak pernah muncul dalam 26 tahun ini. Entahlah, Ayah jadi kepikiran dengan apa yang baru saja Anaya sampaikan," balas Ayah Tendean lagi.


"Apa Bunda Desy itu cinta pertama Ayah?" tanya Tama kemudian.


Ayah Tendean kemudian tersenyum di sana, "Bukan cinta pertama Ayah ... dulu, waktu SMA Ayah pernah jatuh cinta pada seorang gadis. Sebatas suka saja, pacaran pada akhirnya cuma begitu lulus Ayah pindah ke Jakarta dan dia tetap di Jawa. Di Jakarta, Ayah bertemu dengan Bundanya Anaya, jatuh cinta dan akhirnya kamu menikah. Sayangnya, usia pernikahan kami hanya bertahan 2,5 tahun saja. Usai itu beliau tiada, dan Ayah menjadi duda sampai sekarang."


Bersama Tama, Ayah Tendean bahkan bisa bercerita bagaimana masa lalunya dulu. Cinta pertama di SMA, dan pertemuan dengan Bunda Desy, serta usia pernikahan yang hanya berjalan 2,5 tahun saja.

__ADS_1


"Mungkin ada trauma pada diri Ayah ... takut ditinggal dan juga takut kehilangan. Sehingga Ayah menduda lebih dari seperempat abad. Dulu, Neneknya Anaya juga menyuruh Ayah untuk menikah mumpung masih muda, tetapi Ayah sibuk mengejar karir dan juga mengasuh Anaya. Tenggelam dalam dua kesibukan itu, sampai akhirnya di sinilah Ayah ... sama seperti yang kamu lihat," balas Ayah Tendean lagi.


"Tidak usah diambil hati Ayah ... jangan membebani diri. Toh, kami sebagai seorang anak juga berdoa dan berharap Ayah bahagia. Jika ada yang menemani Ayah kan itu jauh lebih baik," balas Tama.


"Malahan jadi curhat sama kamu," balas Ayah Tendean.


"Tidak apa-apa Ayah ... Tama justru senang bisa mendengarkan cerita Ayah. Setidaknya dulu, kita pernah sama-sama kehilangan dan juga menduda," balas Tama.


"Kalau kamu mantan duda, dan Ayah duda abadi mungkin," balasnya.


Keduanya pun lantas tertawa bersama. Ayah mertua dan menantu bisa saling curhat dan juga saling tertawa bersama. Tawa keduanya pun membuat Anaya turun dari kamar dan menghampiri Ayahnya dan suaminya itu.


"Seru banget ngobrolin apa sih?" tanya Anaya.


Anaya di sana pun tertawa, "Mas Tama yang mantan duda dan Ayah yang duda abadi yah?" tanyanya.


"Iya, Ayah itu kepikiran kenapa kamu menyuruh Ayah menikah lagi. Ini menjadi kali pertama bagi kamu menyuruh Ayah menikah lagi. Jadi, Ayah curhat nih sama Tama," balas Ayah Tendean.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Anaya berkata begitu karena Anaya sayang kepada Ayah ... berdua lebih baik Ayah. Menikmati hari-hari bersama. Kalau memang ada calonnya nanti, kenalkan sama Anaya dulu ya Yah," balas Anaya lagi.


"Belum ada calonnya, Aya ... tidak semudah itu juga. Setelah 26 tahun, mungkinkah hasrat itu masih ada."


Tama kemudian menatap Ayah mertuanya, "Akan muncul dengan sendirinya Ayah ... terlebih sistem reproduksi pria itu tidak mengenal usia. Pasti nanti akan muncul," balas Tama.


Setidaknya Tama memberitahukan bahwa sistem reproduksi dan hasrat akan kebutuhan biologis bagi seorang pria tidak mengenal usia, sehingga bisa kembali berhasrat. Berbeda dengan wanita yang ketika dia sudah di masa menopause akan menurun keinginannya akan kebutuhan biologis.

__ADS_1


"Ah, kamu bisa saja, Tam," balas Ayah Tendean dengan tertawa.


"Serius Ayah ... makin tua makin perkasa," balasnya.


Anaya yang ada di sana pun sampai geleng kepala mendengarkan obrolan dua pria dengan dua generasi itu. Sampai Anaya kembali bersuara.


"Ish, obrolan mulai absurd, sana Ayah sama Mas Tama ke warung kopi saja. Sapa tahu sambil minum kopi terus dapat pencerahan," balasnya.


Ayah Tendean kemudian tertawa, "Enggak usah ... suami kamu ini memang kok."


Menjeda sejenak obrolan mereka, kemudian Ayah Tendean bertanya kepada Anaya, "Aya, minggu depan boleh enggak Ayah mengajak Citra ke Ragunan? Tadi Citra bilang ingin ke kebun binatang," ucapnya.


"Boleh saja Ayah ... hanya berdua sama Ayah?" tanya Anaya lagi.


"Iya, kan Citra sudah besar ... bisa berjalan sendiri, cuma ke Ragunan dan makan bersama saja kok. Boleh tidak?"


Anaya dan Tama pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, boleh Ayah ... hati-hati yah," balas Anaya.


"Tentu ... makasih yah," balas Ayah Tendean.


Tama kemudian melirik Ayah mertuanya itu, "Sapa tahu ketemu jodoh yang membangkitkan hasrat di sana ya Ayah," sahut Tama.


"Ya, doakan saja ... Ayah juga tidak mau gegabah. Dulu Ayah pernah kehilangan, dan sekarang Ayah sudah tua. Harus lebih berhati-hati. Menikah di usia senja juga banyak yang harus dipikirkan," balas Ayah Tendean.


Ya, apa yang disampaikan Ayah Tendean itu benar. Bahkan menikah di usia senja dengan segala problematikanya itu tidak muda dan harus lebih berhati-hati. Ayah Tendean tidak ingin gegabah, tetapi memang harus selektif, jika memang dia harus menikah, maka harus dengan wanita yang tepat, wanita yang bisa menyayangi Anaya dan juga menyayangi ketiga cucunya.

__ADS_1


__ADS_2