
Ada hal yang tidak pernah dilewatkan oleh Anaya dan Tama setiap kali usai bercinta. Jika, biasanya suami atau mungkin keduanya sama-sama tidur. Namun, tidak untuk Anaya dan Tama yang selalu memilih untuk mandi terlebih dahulu. Bagi mereka mandi dalam keadaan yang bersih adalah hal yang membuatnya kian nyenyak.
Sekarang tubuh mereka sudah sama-sama bersih dan keduanya tertawa berdua. Kadang ada rasa malu jika mengingat membaranya percintaan mereka berdua. Ada kalanya membuat keduanya sama-sama malu, tetapi itu adalah bentuk nyata keduanya yang merasakan indahnya nektar cinta.
"Kenapa tertawa Mas?" tanya Anaya kepada suaminya.
"Enggak, lucu saja, Sayang ... percintaan kita selalu menggelora," balas Tama.
Ya, itu adalah yang Tama rasakan. Bersama dengan Anaya, dia merasakan percintaan yang menggelora dan juga benar-benar merasakan kata nikmat yang tidak bisa terlukiskan.
"Biasanya pria akan tidur usai bercinta loh, Mas ... kamu tidak?" tanyanya.
Tama menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tahu kebutuhan wanita juga hanya sekadar bercinta, usai, dan tidur. Seakan tidak terjadi apa-apa. Wanita itu ingin disayang, dipeluk. Aku enggak mau menjadi pria yang egois, usai puas terus tidur," balasnya.
Padahal sebenarnya memang begitulah struktur tubuh pria yang ketika menggapai nikmatnya bercinta akan melepaskan hormon-hormon senyawa kimia dalam dalam otak. Banyak jenis hormon yang para pria lepaskan seperti prolaktin, vasopressin, dan oksitosin. Ketika semua hormon itu dilepaskan akan memberikan efek puas, tenang, dan juga mengantuk. Pasca berhubungan, pria mengalami fase pemulihan yang membuatnya tidak memungkinkan untuk mendapatkan kenikmatan kedua.
"Baik banget sih. Padahal di luar sana, banyak pria yang langsung tidur. Bangun pagi, dan tidak ingat apa-apa lagi," ucap Anaya.
"Ya, bagaimana lagi Sayang ... aku tidak bisa. Aku enggak mau jadi pria yang egois. Bahkan, aku berbicara sama kamu dan kalau bercinta denganku membuat tidak puas dan nikmat, bilang saja, Yang ... struktur tubuh kita berbeda, cara kita menggapai nikmat untuk berbeda. Jangan sampai satu pihak saja yang terpuaskan. Aku tidak ingin kamu termangu-mangu karena belum menggapai puncak asmara itu. Banyak perempuan tidak merasakan ketegangan atau rasa intens yang sama saat bercinta. Nah, aku tidak ingin kamu mengalaminya. Ini adalah kebutuhan kita berdua, Sayang. Jadi, mari melakukan yang terbaik," balas Tama.
__ADS_1
Mendengarkan apa yang Tama sampaikan, Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya sih Mas ... pernah aku mendengar banyak wanita tidak puas dengan suaminya sendiri. Ditinggal tidur begitu saja membuat wanita merasa tidak dicintai," balas Anaya.
Tama pun menganggukkan kepalanya, "Makanya itu, aku ingin kamu menggapai puncak itu. Benar-benar puas, dan aku pun akan merasa puas hingga bisa membawa kamu hingga ke puncak gunung itu. Kehidupan rumah tangga yang sehat juga karena memiliki kehidupan percintaan yang sehat Sayang. Saling membutuhkan, dan juga saling mengisi."
Itu yang sepenuhnya Tama sadari. Walau terkadang Tama merasakan wajahnya memerah dengan hebatnya usai bercinta dan berpeluh begitu hebat, dan Tama akui itu membuatnya ingin tidur. Namun, Tama terus berusaha untuk mengimbangi Anaya.
"Iya, bukan sekadar merasakan kenikmatan dan udah, ngorok deh," balas Anaya.
"Makanya itu Sayang ... gini kan kebutuhan afeksi kamu juga bisa terpenuhi. Wanita itu ingin dimengerti dengan pelukan, kata-kata manis, dekapan hangat. Aku akan memberikan semua itu untuk kamu," balas Tama.
Anaya tersenyum, wanita itu segera mendekap suaminya. Senang sekali, kebutuhannya akan afeksi atau kasih sayang benar-benar dipikirkan juga oleh Tama. Diperhatikan, disayangi, dan juga suaminya begitu tidak egois.
"Kalau menggila, ya kita menggila bersama, Sayang ... bukan hanya satu pihak saja. Namun, aku dan kamu harus sama-sama merasakan nikmatnya," balas Tama.
"Iya, kan cuma kita berdua yang tahu dan merasakannya. Selain itu, relaksasi terbaik untuk Busui yang repot di rumah mengurus baby. Bercinta bisa menurunkan angka kecemasan dan tingkat panik," ucap Tama.
"Bersama kamu dan ketiga buah hati kita, aku selalu bahagia kok Mas. Angkat kecemasan, pusing, bahkan stress tidak aku rasakan. Sebab, aku memiliki suami sebagai support sistem terbaikku, dan anak-anak yang memiliki senyuman yang indah yang mewarnai duniaku."
Ini adalah pengakuan yang jujur dari Anaya, bahwa memiliki Tama dan juga anak-anak adalah hal terindah untuk Anaya. Tidak ada kepenatan, karena Tama juga memberikan support yang luar biasa. Tidak ada baby blues pasca persalinan, karena Tama juga membantu Anaya, tak ragu untuk berbagi pengasuhan dan juga menemaninya.
__ADS_1
"Mau dibuatin minuman enggak?' tawar Tama kemudian.
Anaya menggelengkan kepalanya, "Enggak, dipeluk aja, Mas ... kali ini aku enggak haus kok, karena kamu sudah melegakan dahagaku," jawab Anaya.
Ya Tuhan, Tama tertawa dan gemas dengan suaminya itu. Rasanya kini Anaya begitu pintarnya untuk menggodanya dan juga mengatakan bahwa Anaya tidak lagi merasakan dahaga.
"Pinter banget sih Mama Anaya ini. Apa pun itu, aku doakan sehat selalu ya Sayang. Kamu sehat dan terus bahagia bersamaku. Aku, Citra, Charel, dan Charla selalu cinta dan sayang sama kamu," balas Tama.
Anaya menganggukkan kepalanya. Keluarga adalah segalanya. Tempat untuk bernaung, tempat untuk mencinta dan dicinta. Keluarga seperti inilah yang Anaya dulu bayangkan, dan sekarang dia miliki. Rasanya, cukup dengan cinta kasih dan kehangatan dalam keluarga. Sebab, dia tidak akan menghabiskan sepanjang waktu dan usianya bersama dengan keluarganya.
"Sekarang sudah boleh bobok Mas ... sudah malam, jaga-jaga kalau si Kembar terbangun nanti," ucap Anaya.
"Yakin boleh bobok?" tanya Tama.
"Iya, boleh kok ... kan udah ngobrol bareng. Udah dipeluk juga," balas Anaya.
Tama tersenyum di sana, "Kalau mau percintaan tubuh kita sama-sama prima di pagi hari Sayang ... dijamin seharian bakalan lebih semangat deh," balas Tama.
"Pagi itu rempong Mas ... terutama untuk ibu dengan tiga anak sepertiku," balas Anaya.
__ADS_1
"Kapan-kapan dicoba saja kalau kamu mau. Lebih mantap kalau di pagi hari, biar aku semangat bekerja."
Anaya hanya bisa tertawa, dan mencubiti pinggang suaminya. Baginya pintar sekali suaminya itu menjelaskan sesuatu untuk mencapai maksud dan tujuannya. Biarkanlah saja, yang pasti di malam hari pun bisa mereka luang untuk melakukan bounding bersama.