
"Jadi, Mamanya Citra itu yang mana Papa? Mama Cellia atau Mama Anaya. Kenapa, Citra hanya tahu Mama Anaya saja?"
Sekarang tampak Citra benar-benar bertanya kepada Mama dan Papanya. Seakan dia meminta penjelasan untuk apa yang baru saja dia dengar. Selama ini, yang Citra lihat sebagai seorang Mama adalah Anaya, dan Citra tidak tahu mengenai sosok Mama yang lain bernama Cellia.
"Itu penting untuk Citra?" tanya Papa Tama perlahan.
Hingga akhirnya, Citra menganggukkan kepalanya perlahan. "Hanya ingin tahu saja, Pa," balasnya.
Dengan menghela nafas yang terasa begitu berat, kemudian Tama menanyakan kepada Citra perlahan. "Namun, Citra harus janji yah? Bahwa ketika Papa dan Mama bercerita nanti, Citra bisa menerima semuanya yah? Tidak marah lagi yah?" Kali ini Tama meminta Citra untuk bisa menerima semuanya yang terjadi. Ada kalanya apa yang terjadi di masa lalu tidak bisa diterima. Terlebih untuk anak kecil seusia Citra, di mana dia sangat membutuhkan kepercayaan supaya dia memiliki pegangan dan tidak terombang-ambing dengan berbagai informasi baru yang baru saja dia dengar.
"Iya, Papa," balas Citra.
"Baiklah, dengarkanlah Papa bercerita. Yang dikatakan Nenek itu benar, Citra. Mamanya Citra itu bernama Cellia." ucap Tama.
Pria itu kemudian berdiri dan menunjukkan satu foto dirinya dengan Cellia. Foto yang tersimpan lama di dalam laci mejanya. Sekarang, Tama menunjukkan itu kepada Citra.
"Dia adalah Mama Cellia, Mama kandungnya Citra. Seorang Mama yang sudah melahirkan Citra. Cantik kan? Mirip seperti Citra. Namanya Citra juga yang memberikan adalah Mama Cellia loh. Citra Eira Kinanthi ... nama yang bagus bukan? Nama kamu yang bagus itu adalah kenang-kenangan dari Mama Cellia," ucap Tama.
Sebenarnya tidak mudah juga bagi seorang Tama untuk menceritakan semuanya yang telah berlalu. Apalagi di sampingnya ada Anaya yang turut mendengarkan. Sehingga, Tama harus memiliki kalimat yang tepat, supaya Anaya juga tidak tersinggung. Dia juga harus menjaga hati Anaya. Sebab, Tama tahu dengan perubahan sikap Citra dan juga pertanyaan Citra sekarang saja sudah membuat Anaya sedih.
"Mama Cellia di mana sekarang Pa?" tanya Citra lagi.
Ada senyuman samar di wajah Tama. Sang Papa menghela nafasnya sesaat dan kemudian menjawab pertanyaan dari Citra. "Tuhan lebih sayang kepada Mama Cellia. Ketika Mama Cellia melahirkan kamu, Mama berpulang kepada Tuhan. Sekarang Mama Cellia ada di surga sana. Dia menyayangi Citra juga," jelas Tama.
"Lalu, Mama Anaya?" tanyanya dengan kedua bola matanya yang menatap Mama Anaya.
__ADS_1
"Ketika Mama Cellia sudah tiada, meninggalkan Papa dan Citra, ada Mama Anaya yang menyayangi Citra dan memberikan ASI-nya untuk Citra. Oleh karena itu, Papa memutuskan untuk menikah dengan Mama Anaya. Dengan Air Susu Ibu yang dimiliki oleh Mama Anaya, Citra bisa bertumbuh sehat, kuat, dan pintar seperti ini," jelas Tama kemudian.
"Citra berarti tidak bisa bertemu dengan Mama Cellia?" tanyanya.
"Tidak bisa ... hanya ada pemakamannya. Kalau Citra ingin datang dan sekadar menabur bunga saja bisa. Mama sudah bersama dengan Tuhan di surga," jelas Tama lagi.
Kali ini, memang Anaya tidak turut meng intervensi. Dia lebih memilih untuk memberikan waktu kepada Tama, sebagai Papa kandung Citra untuk menjelaskan dan menceritakan semuanya. Hanya satu keyakinan Anaya, bahwa satu omongan yang mencoba mencerai-beraikan keluarganya tidak akan berhasil. Sebab, keluarga ini benar-benar didasarkan pada cinta kasih antar anggota keluarganya.
Wajah Citra pun masih menunjukkan kebingungan. Hingga akhirnya, Citra bertanya lagi kepada Papanya. "Hanya bisa lihat fotonya ya Pa?" tanyanya.
"Iya ... jadi Citra itu adalah anak yang spesial karena Citra memiliki dua Mama. Ada Mama Cellia yang melahirkan Citra, dan ada Mama Anaya yang mengasuh, merawat, dan membesarkan Citra. Kedua Mama yang sama sayangnya kepada Citra," ucap Tama.
Mendengarkan apa yang baru saja disampaikan oleh Papanya. Rupanya Citra pun menangis. "Jadi, Papa tidak bohong kan? Kan Papa dan Mama selama ini selalu mengajari Citra untuk berkata jujur, tidak boleh berbohong," ucapnya.
"Papa sudah bercerita dengan jujur. Kenapa Papa belum bercerita? Sebab, kamu masih kecil, Sayang ... Papa ingin aku fokus sekolah, bermain, menjaga adik-adik dan melakukan apa pun yang kamu sukai. Sekarang, Papa bertanya kepada Citra. Mama Anaya baik tidak?" tanyanya.
"Mama Anaya baik," jawabnya.
"Citra bisa merasakan tidak Mama Anaya sayang kepada Citra?" tanya Papa Tama lagi.
"Ii ... iya, Mama sayang Citra," balasnya dengan sesegukan kini.
"Lalu, kenapa sekarang Citra menangis?" tanya sang Papa lagi.
Citra pun mendekat ke arah Mamanya. "Maa ... maafkan Citra, Ma. Citra sayang Mama Anaya," ucapnya.
__ADS_1
Sekarang tampak Anaya membuka kedua tangannya, mengisyaratkan kepada Citra untuk masuk ke dalam pelukannya. Citra pun menghambur ke dalam pelukan Mamanya.
"Citra sayang Mama," ucap Citra dengan menangis di dada Mamanya.
Pun dengan Anaya yang sekarang meneteskan air matanya. Ya, hatinya tersentuh dengan apa yang baru saja Citra ungkapkan. Benar, dirinya bukan ibu yang melahirkan Citra. Namun, untuk Anaya, Citra benar-benar adalah dunianya. Anaya menyayangi Citra dengan cinta yang tulus. Bahkan dulu, Anaya tidak berharap dan mengharap bisa menjadi ibu sambung untuk Citra.
"Mama juga sayang banget sama Citra," balas Anaya dengan bibirnya yang bergetar karena dia pun menangis sekarang.
"Maafkan Citra ya Ma," ucap Citra lagi.
"Tidak apa-apa Nak Cantiknya Mama ... boleh tidak Mama berbicara kepada Citra?" tanya Anaya kemudian.
Citra pun menganggukkan kepalanya. Gadis kecil itu menarik wajahnya dari dada Mamanya, kemudian menatap Mamanya. "Iya Mama," jawabnya.
"Lain kali, jika ada orang yang tidak Citra kenal dengan baik dan berbicara yang tidak-tidak tentang Citra, tentang keluarga kita, jangan mudah percaya yah. Citra punya Papa dan Mama sebagai orang tua Citra, orang tua yang akan selalu menyayangi dan berbicara jujur kepada Citra. Jadi, Citra boleh tanya apa pun kepada Mama dan Papa. Jika memang nanti Mama tidak bisa menjawab, sudah pasti ada Papa yang bisa menjawab. Bisa Sayang?" tanya Anaya.
Citra pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya Mama ... dengan orang asing kan Ma?" tanyanya.
"Iya, orang yang tidak Citra kenal dengan baik. Seperti sekarang Citra bisa bertanya apa pun dan Papa menjawabnya. Sudah lega?" tanya Anaya kemudian.
"Iya Mama," jawabnya.
Kemudian Tama dan Anaya pun memeluk Citra bersamaan. "Mama dan Papa sayang Citra," ucap Mama Anaya dan Papa Tama bersamaan.
"Citra juga sayang Mama dan Papa. Juga sayang Mama Cellia," ucapnya.
__ADS_1
"Iya, tentu," balas Tama.
Sekarang tidak ada lagi yang mereka sembunyikan dari Citra. Siapa Mama kandung Citra sudah Papa Tama ceritakan dengan jelas. Tama memang tidak berbohong kepada Citra. Hanya saja, Tama tidak ingin anaknya tumbuh menjadi anak yang minder dan kehilangan sosok Mama kandungnya. Justru Tama menjaga mental Citra dan memastikan putrinya itu sehat dan bahagia, serta dia bertumbuh sesuai dengan usianya.