Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Bagaimanapun Restu Anak yang Utama


__ADS_3

Kian bertambahnya usia pun, Anaya juga semakin berpikiran dengan terbuka. Bahkan Anaya tidak keberatan jika Ayahnya sering-sering bertemu dengan Oma Dianti. Tentu Anaya memberikan syarat dan ketentuan yang berlaku yaitu dalam Koridor aman. Koridor aman yang dimaksudkan oleh Anaya tentunya tidak merugikan kedua belah pihak, menjaga hasrat, dan juga membina hubungan yang positif.


"Saling mengenal dulu Ayah," ucap Anaya.


"Kalau kenal sih sudah lama Anaya, dia dulu adik tingkatnya Ayah di Fakultas. Cuma kami juga berpisah lama. Jeda waktu yang panjang tentunya membuat Ayah juga tidak tahu banyak perihal Dianti. Yang sebatas Ayah tahu dia menyukai anak-anak dan juga menjadi penulis buku anak,” cerita Ayah Tendean lagi.


Terlihat dengan jelas bahwa Ayah Tendean juga tidak ingin menyembunyikan apa pun dari Anaya. Dia akan terbuka. Sebab, yang dipikirkan oleh Ayah Tendean adalah kecocokan dan juga restu dari Anaya. Jika, dirinya tidak terbuka lebih dahulu, sudah pasti akan susah bagi Anaya untuk mengenal Dianti itu.


"Ya, sama dengan Anaya waktu berpisah dengan Mas Tama dulu, Ayah ... hanya dua tahun sih, tapi itu lama. Dalam dua tahun saja, sudah begitu banyak yang berubah. Mas Tama yang ternyata menjadi duda dan mencari ibu susu dan kemudian, Anaya yang terkena kemalangan. Lebih-lebih Ayah dan Oma Dianti yang berpisah dua dekade lamanya. Sudah pasti begitu banyak lika-liku yang terjadi dalam hidup kelian berdua. Walau, Anaya tahu bahwa Ayah merasa sepi," balasnya.


"Tidak Anaya ... memiliki kamu di hidup Ayah, tidak pernah membuat hidup Ayah menjadi sepi. Justru Ayah bersyukur, jika tidak ada kamu, entahlah ... apa mungkin Ayah bisa bertahan. Hidup Ayah pasti terasa begitu monoton," balas Ayah Tendean.


Anaya pun terkekeh geli di sana, "Jika tidak ada Anaya, mungkin Ayah sudah menikah lagi sejak dulu," balasnya dengan tertawa.


"Bisa juga yah Aya ... kan kita tidak pernah tahu. Namun, keputusan Ayah untuk merawat kamu seorang diri, tidak Ayah sesali. Justru aku begitu bangga bisa membesarkanmu di sela-sela kesibukan Ayah sebagai tenaga medis," ucap Ayah Tendean.

__ADS_1


Ya, bagi seorang pria yang sudah begitu lama menduda, sangat tidak mudah untuk bisa mengasuh anak seorang diri. Perlu keteguhan hati, terlebih dengan gejolak hormon dan hasrat seorang pria yang sering kali tidak bisa dielakkan. Namun, Ayah Tendean menjadi bukti nyata bahwa dia bisa bertahan menduda selama 26 tahun lamanya.


"Ayah itu mungkin akan menjadi duda terlama, Ayah ... 26 tahun, mungkin itu adalah separuh dari usia Ayah saat ini, Ayah habiskan untuk menduda. Terima kasih Ayah ... pasti Ayah berpikir bahwa ibu tiri itu kejam dan tidak sayang ke Aya yah? Jadi, Ayah tidak mau menikah lagi," balas Anaya.


Ayah Tendean pun tertawa, "Tidak juga ... mungkin juga waktu itu, Ayah terlalu sibuk dengan membesarkan kamu dan juga mengejar karir Ayah. Sehingga Ayah tidak memikirkan hal yang lain lagi."


"Mas Tama ... gimana kalau Ayah menikah lagi?" tanya Anaya kemudian karena sejak tadi suaminya itu hanya sebatas menjadi pendengar saja.


"Ya, kalau aku sih boleh saja ... yang penting Ayah bahagia, dan kamu sebagai putri tunggalnya juga memberikan restu untuk Ayah. Itu yang paling utama, Sayang," balas Tama.


Tampak Anaya menganggukkan kepalanya. Bahkan untuk hal yang sangat penting dalam hidup Ayahnya, Tama menyebutkan bahwa yang penting Ayah mertuanya itu bahagia dan juga Anaya bisa memberikan restunya.


Ya, melihat dari ekspresi dan raut muka Ayahnya, agaknya memang ada cinta lama yang belum usai. Pertemuan kembali yang akhirnya bisa memercikkan kembali api cinta di dalam dada. Semoga saja, kali ini Ayah Tendean akan bahagia dan till jannah, tidak ada rasa kehilangan lagi.


"Makasih Anaya ... dulu waktu kecil, Ayah gendong-gendong kamu, mengasuh kamu, dan sekarang begitu kamu sudah besar, kamu bisa menjadi teman bagi Ayah untuk sharing dan bertukar pendapat. Terima kasih yah," balas Ayah Tendean.

__ADS_1


"Sama-sama Ayah ... justru Anaya sih sangat senang jika Ayah bisa terbuka dengan Anaya. Percayalah Ayah, di dunia ini Anaya akan menjadi orang pertama yang akan mendukung Ayah. Anaya adalah orang pertama yang berharap bahwa Ayah akan bahagia," jawabnya dengan penuh keyakinan.


Ya, Anaya sudah memberikan lampu hijau dan juga dia berharap bahwa Ayahnya akan bahagia. Mungkin waktunya memang terlambat, tetapi tidak ada salahnya untuk bahagia, dan membahagiakan diri sendiri.


"Benar Ayah ... jika Anaya adalah orang pertama, maka Tama adalah orang kedua, dan Citra, Charel, dan Charla akan menjadi orang ketiga dan seterusnya yang berharap Ayah akan bahagia," balas Tama.


"Makasih Tam ... kamu ini bisa saja. Kalau Ayah menikah lagi, keluarga besan dari Mama dan Papa kamu malu tidak yah, kalau besannya menikah lagi?" tanya Ayah Tendean.


"Kenapa malu Ayah? Justru Mama dan Papa juga akan senang jika Ayah juga berbahagia dan memiliki pasangan. Mama dan Papa adalah orang tua dengan pikiran yang terbuka, Ayah," balasnya.


Ayah Tendean kemudian tertawa dan setelahnya, menatap Anaya. Kali ini Ayah Tendean akan berbicara dengan serius kepada Anaya.


"Anaya, Anak Ayah ... Ayah tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Hanya saja, jika Ayah menikah lagi, Ayah memohon restu dari kamu. Untuk waktunya kapan, Ayah tidak tahu ... hanya saja, Ayah memohon restu dulu dari kamu," ucap Ayah Tendean.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia pindah tempat duduk dan kemudian memeluk Ayahnya, "Tentu Ayah ... kalau sudah istri, Ayah akan tetap sayang sama Anaya kan?" tanyanya.

__ADS_1


Ayah Tendean pun memeluk putrinya itu, "Tentu Aya ... selamanya Ayah akan selalu sayang sama kamu. Menikah lagi bukan berarti membuat Ayah tidak cinta sama kamu. Hanya saja, sekarang sudah ada Tama, suami kamu yang pastinya akan selalu menyayangi dan mencintai kamu," balas Ayah Tendean.


Ya, itu adalah fakta, bahwa ketika seorang anak sudah menikah. Akan ada suaminya yang akan menyayangi dan mencintainya. Pun Ayah Tendean yang berkata bahwa dia akan selalu sayang kepada Anaya. Menikah lagi bukan menjadi halangan baginya untuk tidak sayang kepada putri semata wayangnya itu.


__ADS_2