
Sedikit memberikan hiburan untuk istrinya, di akhir pekan ini, Tama mengajak Anaya, bersama tiga buah hatinya untuk menuju ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Ibukota. Setidaknya dengan mengajak istrinya jalan-jalan bisa mengurangi stress dan juga ada sesuatu yang ingin Tama beli untuk Anaya.
"Kita kemana Papa?" tanya Citra yang kini duduk di depan, di samping Papanya.
Sementara di kursi belakang ada Anaya dengan Charel dan Charla. Tama pun tersenyum menatap putrinya itu, "Ke Mall, Kak Citra ... belanja bulanan dan nanti Kak Citra mau beli apa, boleh," balas Papa Tama.
"Beliin boneka dong Pa," pinta Citra kepada Papanya.
"Iya boleh ... nanti Papa belikan boneka yang kecil saja buat Kak Citra yah," balas Tama.
Akan tetapi, Citra justru dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Dibelikan yang besar dong Papa," balasnya.
Anaya yang duduk di belakang mendengarkan perbincangan putrinya itu pun tersenyum, kemudian menepuk bahu Citra perlahan, "Nanti Mama yang akan belikan untuk Kak Citra. Boleh beli satu bonek yang besar," ucap Anaya.
"Yeay! Makasih Mama ... I Love U, Mama," balas Citra dengan membuat finger heart untuk Mamanya.
Begitu senangnya Citra ketika Mamanya akan membelikan satu boneka yang besar untuknya. Sementara Tama tersenyum dan terus mengemudikan mobilnya hingga sampai ke salah satu pusat perbelanjaan di Ibukota.
Kemudian Anaya dan Tama, menaruh si Kembar di dalam stroller yang ukurannya lebih besar dan juga muat untuk dua bayi. Sehingga cukup dengan satu stroller saja sudah cukup dua bayi. Sekarang, terlihat Tama yang mendorong stroller bayi, sementara Anaya menggandeng tangan Citra.
Sebenarnya ini memang tidak untuk belanja bulanan, sekadar jalan-jalan saja karena sudah lama Anaya tidak pernah keluar rumah usai melahirkan si Kembar. Oleh karena itu, Tama memang berniat memberi waktu bagi istrinya untuk shopping atau membeli sesuatu yang dia mau.
"Ma, jadi beliin Citra boneka?" tanya Citra kepada Mamanya.
"Iya, jadi ... yuk. Citra mau boneka yang mana?" tanya Mama Anaya kepada Citra.
__ADS_1
"Minnie, Ma ... Citra baru suka yang Minnie," ucapnya.
Akhirnya, Anaya mengajak Citra memasuki store boneka dan menemani Citra memilih boneka yang dia mau. Terlihat Citra kesulitan untuk memilih. Rasanya semua boneka itu lucu, hingga Anaya menjadi gemas rasanya.
"Semuanya kok lucu ya Ma ... Citra pengen semuanya," akunya dengan begitu lugunya dan lucu tentunya.
Anaya pun tersenyum, "Boneka memang semuanya lucu, Citra ... akan tetapi, belinya satu saja yah. Di rumah kan bonekanya Kak Citra juga sudah banyak. Pilih satu yang paling lucu dan menarik untuk Kak Citra," balas Anaya.
Terlihat Anaya memberitahu kepada Citra pun dengan pelan. Mengingatkan Citra bahwa memang semua boneka itu lucu, tetapi ketika membeli lebih baik membeli satu saja. Ketika, anak-anak kecil akan tantrum jika tidak mendapatkan apa yang dia mau, di sini Citra sedang belajar untuk memilih. Banyak pilihan, tetapi hanya satu yang bisa dibeli. Memilih pun harus diajarkan kepada anak sejak dini, supaya saat dewasa nanti mereka bisa membuat pilihan untuk dirinya sendiri. Tentunya, mereka siap menerima konsekuensi dari pilihannya.
"Iya Mama ... memilih salah satu ya Ma," balas Citra dengan menengadahkan wajahnya dan melihat berbagai boneka yang lucu.
"Benar Kak Citra ... jadi, pilih satu yah ... nanti Mama yang akan belikan untuk Kakak," balas Anaya.
"Makasih Mama ... adik-adik enggak dibelikan Ma?" tanya Citra kemudian.
"Nanti belikan boneka tangan Rattle saja, Kak Citra. Biar untuk menstimulasi sensoriknya," balas Anaya.
"Iya Mama, nanti Citra bantuin pilih boleh?" tanyanya.
"Tentu boleh," balas Anaya.
Setelahnya, mereka melanjutkan perjalanan dan kali ini si Papa Tama yang berbisik kepada istrinya untuk membeli pakaian dinas.
"Sayang, beli itu dong ... yang banyak," ucap Tama.
__ADS_1
Anaya pun tersenyum, "Seriusan? Beli sekarang?" tanya Anaya.
"Iya, mau aku pilihin?" tanyanya.
Dengan cepat Anaya menggelengkan kepalanya, "Enggak, malu dong Mas ... belinya gimana, nanti Citra tanya-tanya loh," balasnya.
"Aman, aku ajak Citra beli Es Krim boleh?" tanya Tama.
Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya," jawabnya.
Sebelum memasuki konter itu, Tama pun memberikan sebuat Debet Card kepada Anaya, "Nanti bayar pakai ini saja Sayang ... bawa saja. Yang kamu ingin beli, beli saja," balasnya.
Anaya pun tertawa, "Kamu tidak berubah yah, pasti nyodorin kartu," balasnya.
"Kan itu bentuk nafkah dariku, Mama ... pakai saja," balas Tama.
"Aku kan juga sudah kamu kasih banyak. Masih banyak," balas Anaya.
"Ya, enggak apa-apa. Itu kan buat kamu. Beli sekalian aja yang kamu mau," balas Tama.
"Beliin parfum boleh?" tanya Anaya kemudian.
"Boleh ... apa pun boleh. Sudah sana, Bocils biar sama Papanya. Beli yang banyak Sayang, jangan lupa yang warna hitam," balas Tama dengan berbisik kepada Anaya.
Akhirnya, Tama memilih menunggu dan membawa ketiga anaknya. Dia membiarkan Anaya untuk membeli apa yang dia mau, dan juga dengan berbelanja, shopping bisa memperbaiki mood seorang wanita. Sehingga, biarkan saja istrinya itu shopping, dan membeli apa yang dia mau.
__ADS_1