
"Tama tidak bisa memberikannya sekarang. Tama tidak mau ada keributan perihal harta lagi di kemudian hari. Jadi, Tama akan lakukan semuanya di depan notaris. Sekaligus Tama akan buat wasiat terbuka bahwa 50% penjualan rumah akan diakuisisi oleh orang tua mendiang Cellia. Di lain waktu, jika Ayah dan Bunda masih berani mengusik Citra, maka Tama akan melupakan semua ikatan yang pernah ada di antara kita. Tama akan melakukan tuntutan."
Dengan begitu tegas Tama mengucapkan semuanya itu. Sebab, memang Tama tidak membagi hasil pembelian rumah karena memang rumah itu dia yang membelinya dan ada tambahan uang dari Mama Rina dan Papa Budi.
"Keterlaluan kamu Tama," sahut Bunda Rina.
Tama menggelengkan kepalanya perlahan, "Keterlaluan mana Bunda dengan mereka yang tidak pernah menjalin silaturahmi bahkan di ulang tahun Citra saja, Kakek dan Neneknya tidak datang dan sekarang meminta pembagian hasil gono-gini. Terlihat jelas siapa yang lebih keterlaluan bukan?"
Di mata Tama, mantan mertuanya itu sudah begitu keterlaluan. Mereka yang tidak pernah menjalin silaturahmi, di ulang tahun Citra saja mereka tidak datang, dan sekarang datang justru meminta harta warisan. Sungguh, Tama sendiri agaknya sudah hilang kesabaran.
"Jangan pernah menggunakan Citra sebagai umpan, karena faktanya sejak Cellia tiada, tidak pernah Kakek dan Neneknya mengurus Citra. Jangan pernah menggunakan Citra sebagai ancaman, karena Ayah dan Bunda berpikir Tama lemah. Tama membagi hasil rumah itu juga karena Tama masih menghormati Ayah dan Bunda."
Ayah Harja dan Bunda Rini hanya diam. Keduanya seolah dibuka kartu AS-nya oleh Tama. Akan tetapi, bukankah rasanya seperti demikian, selalu menggunakan Citra untuk mengancam Tama.
"Di kemudian hari, jika Ayah dan Bunda mengusik Tama dan Citra lagi, Tama benar-benar akan melupakan semua ikatan ini."
Anaya yang berdiri di belakang Tama agaknya tahu bahwa suaminya itu benar-benar marah. Rasanya ingin menenangkan suaminya. Akan tetapi, Tama masih saja berbicara mengeluarkan uneg-unegnya.
"Silakan Ayah dan Bunda pergi dulu. Tama akan urus ke Notaris. Usai ini jangan pernah menjadikan Citra sebagai ancaman. Tama memiliki bukti nyata dan saksi bahwa Tamalah yang sejak awal mengurus Citra sendiri. Jatuh bangunnya Tama hanya keluarga Tama yang tahu. Bahkan usai Tama menikah, Tama juga tidak abai dengan Citra. Ketika istri Tama sakit saja, Anaya tetap memprioritas Citra. Silakan pergi."
Kali ini Tama berbicara dengan tegas. Hingga akhirnya Ayah Harja dan Bunda Rini pergi dari rumah milik Papa Budi dan Mama Rina. Begitu keduanya sudah pergi, Tama yang memilih langsung duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Sabar Tama," ucap Mama Rina.
"Benar ... sabar Mas," balas Anaya.
__ADS_1
Sementara Papa Budi hanya bisa geleng-geleng kepala saja. "Bisa-bisanya mereka datang dan meminta pembagian warisan. Lalu, apakah perhiasan milik Cellia akan kamu berikan? Tidakkah Citra memiliki hak atas itu?" tanya Ayah Budi.
Tama perlahan menghela nafas dan kembali berbicara, "Biarkan saja, Pa ... untuk Citra nanti biar semua milik Tama akan menjadi milik Citra."
"Perhiasan itu kamu yang membelikan atau bagaimana?" tanya Papa Budi lagi.
"Beberapa ada yang milik Cellia. Beberapa ada Tama yang belikan. Biarkan saja, Pa," balas Tama kemudian.
Tama sedang berada di fase tidak ingin pusing. Lebih baik memberikannya dengan syarat bahwa keluarga itu tidak akan mengusik lagi Citra. Tama sepenuhnya sadar, saat ini titik kelemahannya adalah Citra.
"Maaf ya Anaya ... aku akan bekerja keras lagi dan nanti aku akan tinggalkan juga warisan untukmu," ucap Tama sembari melirik Anaya yang duduk di sampingnya.
Anaya menggelengkan kepalanya, "Aku tidak menginginkan warisanmu. Aku ingin kamu sehat, berumur panjang, kita bisa bahagia bersama, menciptakan kebahagiaan untuk keluarga kecil kita."
"Tidak apa-apa, Mas. Kita bisa berjuang bersama. Mengumpulkan semuanya dari awal. Percaya saja, hasil dari kerja keras lebih berkah," balas Anaya.
Terlihat Papa Budi dan Mama Rina menganggukkan kepalanya, "Makasih Anaya ... jangan salah sangka yah. Nanti Tama pasti juga akan mewariskan sesuatu untukmu," balas Papa Budi.
"Tidak Pa ... tidak usah. Anaya sudah bahagia dengan mendampingi Mas Tama saja. Anaya tidak pernah mempermasalahkan perihal uang," balas Anaya dengan sungguh-sungguh.
Untuk kekayaan yang bukan miliknya, Anaya tidak ingin silau bahkan menginginkan milik orang lain. Bahkan, untuk kekayaan Ayahnya sendiri saja, Anaya tidak pernah meminta. Dia hanya menerima apa yang Ayahnya berikan kepadanya.
"Ya sudah, sini Citra ikut Eyang dulu. Kalian menenangkan diri saja di kamar," ucap Mama Rina.
Dengan cepat Mama Rina meminta Citra dari gendongan Anaya. Menurut Mama Rina, Tama masih terlihat begitu emosi. Jadi, biarkanlah Anaya yang akan menenangkan suaminya itu.
__ADS_1
"Yuk Citra ikut Eyang yah ... Mama dan Papa biar istirahat sebentar di kamar," balas Mama Rina.
Anaya kemudian mengajak Tama untuk naik ke kamar dulu. Sungguh, peristiwa yang tidak mengenakan. Baru juga mereka datang dari rumah dan sudah diminta pembagian harta gono-gini. Sudah pasti Tama menjadi begitu kesal.
"Sabar ya Mas," ucap Anaya kemudian.
Sekarang keduanya sama-sama duduk di sudut sofa yang berada di dalam kamar Tama. Tama masih diam, dan sesekali mengusapi wajahnya. Tama masih dalam keadaan tidak percaya, tetapi ini nyata. Ya, mantan mertuanya datang dan meminta harta warisan.
"Aku benar-benar marah sebenarnya Sayang," ucap Tama dengan menghela nafas dan memejamkan matanya perlahan.
"Aku tahu Mas," balas Anaya.
"Seolah-olah mereka menyudutkan aku dan aku akan menghabiskan hartaku untuk kamu. Padahal sejak menikah, aku belum membelikan apa-apa untukmu," ucap Tama.
"Kamu sudah membelikan rumah itu, Mas ... rumah yang kita tinggali bersama. Itu saja sudah cukup," balas Anaya.
"Perhiasan dan sebagainya bahkan aku belum membelikannya," sahut Tama.
"Sudah, di mas kawin darimu ada seperangkat perhiasan. Itu saja sudah cukup," balas Anaya lagi.
"Tidak begitu juga Sayang. Aku juga ingin membahagiakanmu dengan penghasilanku. Maaf yah, aku dalam beberapa bulan harus menabung dan memulihkan tabunganku lagi karena untuk gono-gini itu aku ambil sepenuhnya dari tabunganku. Maaf harus membawamu dalam masa sulit ini," ucap Tama.
Akan tetapi Anaya menggelengkan kepalanya, "Yang nama suami istri memang harus melewati semua masa bersama Mas. Aku akan terus mendampingimu. Susah dan sehat, sehat dan sakit, kita lalui bersama."
Tama menghela nafas di sana. Sungguh, tak bisa berkata-kata lagi. Baginya Anaya terlalu baik dan bahkan bisa memahami dirinya. Wanita yang tidak mengejar hartanya. Namun, Anaya adalah wanita yang dengan tulus mengatakan ingin mendampinginya di semua masa yang ada.
__ADS_1