
Ide dari Citra supaya Opanya membelikan donat untuk anak-anak yang ada di Taman Baca pun rupanya terbilang ide yang cemerlang. Sebab, sekarang anak-anak yang jumlahnya kurang lebih ada 25 orang itu tampak begitu senang ketika Bu Dianti membukakan kotak-kotak Donat yang super enak dan manis itu. Jika bagi anak-anak yang lain, Donat terbilang biasa saja. Akan tetapi, untuk mereka yang adalah yatim piatu dan juga jauh dari orang tua, donat menjadi makanan mewah dan jarang sekali dimakan.
Dianti yang diakrab dipanggil anak-anak dengan sebutan Bunda itu, tampak membagikan donat itu satu per satu terlebih dahulu. Satu dihabiskan terlebih dulu, jika ingin nambah, barulah nambah lagi.
"Terima kasih Bunda," ucap anak-anak yang berusia antara 5 hingga 12 tahun itu.
"Sama-sama ... jangan lupa ucapkan terima kasih juga kepada Citra dan Dokter Tendean yah," balas Bunda Dianti di sana.
Akhirnya anak-anak pun serempak mengucapkan terima kasihnya, "Makasih Citra dan Dokter Tendean," ucapnya.
"Sama-sama," balas Ayah Tendean dan Citra.
Setelah itu, Bu Dianti mengambil duduk tidak jauh dari Ayah Tendean, "Makasih banget ya Mas Dean ... anak-anak suka Donat dan makanan yang manis. Nanti pasti dihabiskan, walau ini kebanyakan sih," balas Bu Dianti di sana.
"Ditaruh di lemari es saja, Di ... besok bisa dimakan lagi. Paling tidak tiga hari sudah harus habis," balas Ayah Tendean.
"Iya ... makasih banget ya Mas," balas Dianti dengan tersenyum. "Oh, iya ... Anaya tidak ikut yah? Aku penasaran, sekarang Anaya seperti apa," tanyanya yang mengaku penasaran dengan Anaya.
"Dia mengurus bayinya di rumah. Masih berusia 3 bulanan ... apalagi kembar fraternal. Jadi, tentu lebih sibuk," balas Ayah Tendean.
"Wow, kembar fraternal ... cewek dan cowok yah? Siapa namanya?" tanya Dianti dengan begitu tertarik.
"Namanya Charel dan Charla ... adik-adiknya Citra," balas Tendean.
"Wah, Trio C ... memangnya Papanya bernama huruf C ya awalannya?" tanya Dianti.
Ayah Tendean pun menggelengkan kepalanya, "Enggak ... menantuku namanya Tama Satria Yudha," balasnya.
Dianti terlihat senang mendengar cerita Ayah Tendean mengenai Anaya dan keluarganya. Pastilah Anaya memiliki suami yang hebat dan anak-anak yang menggemaskan sampai ingin rasanya bisa bertemu Anaya.
__ADS_1
"Jadi pengen ketemu Anaya dan anaknya yang kembar. Gemes," balasnya.
"Main saja ke rumah ... nanti aku jemput," jawab Tendean.
"Boleh ... kapan-kapan ya Mas," balasnya.
Ayah Tendean mengulum senyuman di wajahnya. Entah, rasanya hanya duduk dan saling mengobrol saja sudah membuat Ayah Tendean begitu senang. Seakan kenangan di masa lalu kembali terulang ketika dulu mereka sering mengobrol seperti ini di salah satu universitas yang ada di kota Bandung.
"Aneh, rasanya kayak kita waktu mahasiswa dulu ya Mas," kenang Dianti.
"Iya ... kayak pernah seperti ini sebelumnya. Rupanya saat kita masih menjadi Kakak tingkat dan adik tingkat dulu yah," balas Tendean.
"Bener ... dua dekade yang laluan yah mungkin," balasnya.
Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya, "Lebih ... Anaya saja sudah 26 tahun ... jadi pertemuan kita dulu, sudah sangat lama," balasnya.
Ya, jika dihitung dari usia Anaya yang sudah 26 tahun, sudah pasti pertemuan mereka sudah begitu jauh. Namun, seakan semuanya baru terjadi tidak begitu lama. Terlebih keduanya juga masih terlihat muda.
"Ini semua buku milik Oma, Citra ... ada banyak series dari Ensiklopedia, Dongeng, Activity Book, dan buku latihan soal," ucap Oma Dianti dengan menggandeng tangan Citra dan mempertunjukkan koleksi bukunya.
"Ada berapa buku di sini Oma? Banyak banget," balas Citra.
"Banyak ... kalau seribu judul buku mungkin ada," balasnya.
Citra tampak mengangguk-anggukkan kepalanya dan terheran-heran dengan buku yang jumlahnya begitu banyak itu. Kemudian Citra bertanya kepada Oma Dianti.
"Bukunya Oma yang nama saja?" tanyanya.
Kemudian Oma Dianti mengajak Citra ke salah satu tempat di taman baca itu dan menunjukkan sebuah buffet yang berisi buku-buku karangannya.
__ADS_1
"Nah, ini Citra ... Oma lebih sering membuat dongeng anak-anak. Bisa dari fabel, cerita binatang, atau tokohnya manusia," jelas Oma Dianti.
"Wah, Oma keren dong ... Mama pasti seneng kalau ke sini. Mama juga kuliah loh Oma," ucap Citra yang menceritakan tentang Mamanya.
"Oh, ya ... Mama Anaya kuliah apa?" tanya Oma Dianti.
"Pendidikan Anak Usia Dini, Oma ... keren kan Mama," balasnya.
Oma Dianti menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya ... hebat ya Mamanya Citra," balasnya.
Kemudian Oma Dianti memberikan bukunya yang terbaru dan beberapa judul bukunya kepada Citra sebagai buah tangan, dan meminta Citra untuk bisa membacanya.
"Dongeng dengan budi pekerti itu apa Oma?" tanya Citra.
"Ya, setelah kamu mendengar dongeng ini, Oma berharap kamu dan anak-anak Indonesia yang mendengarnya bisa memiliki karakter yang baik seperti taat kepada orang tua, tidak berbohong, rajin, dan sifat yang baik lainnya," jelas Oma Dianti dengan sesederhana mungkin kepada Citra.
"Oh, suka membantu, sayang kepada adik, dan juga mau menabung itu ya Oma," balas Citra.
"Tepat sekali ... itu Citra sudah tahu. Hebat deh," balasnya.
"Kan Mama dan Papa selalu mendongengkan untuk Citra, Oma."
Citra kemudian melihat beberapa buku di sana dan dia tertarik dengan sebuah buku yang nama penulisnya bukan Dianti melainkan Deanti.
"Dianti kan D-I-A-N-T-I kan Oma? Bukan D-E-A-N-T-I," ucap Citra dengan mengeja nama penulis di buku itu.
Opa Tendean pun turut melihat apa yang ditunjuk oleh Citra di sana. Rupanya benar bahwa di sana tertulis Deanti dan bukan Dianti.
Oma Dianti pun tersenyum di sana, "Oh iya yah ... Oma baru tahu," balasnya.
__ADS_1
Sejurus kemudian ada Opa Tendean yang melirik ke arah Dianti yang berjarak beberapa meter darinya. Mungkinkah sebenarnya rasa itu masih ada, tetapi sekian tahun lamanya tidak terungkap?