
Ketika seseorang merasa lemah, dan kemudian justru mendapatkan kekuatan di dalam setiap kelemahan yang dia hadapi adalah hal yang tidak mudah. Pun demikian dengan Anaya, jujur dia masih lemah, tetapi dia bisa melihat hikmah dari semua kejadian yang terjadi. Setidaknya, kali ini Anaya tidak sendiri, tetapi ada tangan Tama yang akan selalu menggenggam tangannya.
Di ruang tamu itu, Ayah Tendean yang semula diam pun kini turut bersuara. “Anaya tidak apa-apa Dicky … tidak usah mengkhawatirkan Anaya, karena ada Tama yang akan menjaga Anaya,” balas Ayah Tendean.
Dari sisi Ayah Tendean pun, berkali-kali Tama meminta maaf kepadanya. Jawaban yang diberikan Ayah Tendean tetap sama yaitu, dia tidak apa-apa. Justru Tama sudah membuat keputusan yang tepat untuk menyelamatkan Anaya.
"Tapi, Ten ... bukankah masih bisa dicari jalan lain tanpa mengangkat rahim?" tanya Om Dedy kepada Ayah Tendean.
"Itu jalan satu-satunya. Plasenta yang menempel di dinding rahim hampir mengenai kandung kemih, dan juga rahim Anaya sudah robek, dia melebar terlalu banyak untuk tempat Charel dan Charla. Pendarahan yang begitu hebat, juga terjadi. Jalannya memang harus Histerektomi," balas Ayah Tendean.
Sebab, ketika Tama meminta maaf itu, Ayah Tendean segera mencari tahu perihal Plasenta Akreta dan juga risiko hamil kembar. Semua yang dijelaskan oleh Dokter Indri selaras dengan artikel yang dipelajari oleh Ayah Tendean.
"Jika, aku ada di posisi Tama, aku juga akan memilih untuk menyelamatkan istriku," balas Ayah Tendean.
Seolah Ayah Tendean teringat dengan masa lalu, Ketika istrinya kalah dalam perjuangan pasca persalinan, Pendarahan hebat yang tidak bisa dibendung, akhirnya membuat mendiang Bunda Desy berpulang ke Rahmatullah untuk selamanya. Membuat Anaya menjadi piatu sejak lahirnya.
"Jadi, Anaya tidak ingin hamil lagi?" tanya Om Dedy.
"Tidak Om ... kami sudah memiliki tiga orang anak," balas Anaya.
Ya, sekiranya cukuplah dengan tiga buah hati yang akan menjadi penyejuk hati, mengasuh Citra, Charel, dan Charla dengan penuh tanggung jawab, dan berharap ketiganya bisa menjadi anak-anak yang membanggakan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Itu kamu, Anaya ... kalau suami kamu," balas Dicky lagi.
Tama yang semula diam, kali ini pun turut berbicara, "Aku tidak menginginkan anak lagi. Sudah cukup memiliki tiga anak, dan tentu kami akan sama-sama membesarkan mereka. Benar kan Sayang?"
Anaya pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya Mas ... kita besarkan Trio C bersama-sama," balas Anaya.
Namun, hanya jeda beberapa saat, kali ini giliran Om Dedy yang bersuara, "Kali ini bisa bilang begitu, bagaimana kalau si bayi sudah besar, dan kamu ingin punya anak lagi. Sudah pasti akan melakukan poligami," sahutnya.
Seolah Om Dedy menilai bahwa Tama adalah tipe suami tidak setia dan ketika menginginkan anak lagi, maka jalan berpoligami akan dia tempuh. Padahal, Tama yakin bahwa dia tidak akan melakukan hal tersebut. Tama akan teguh memegang hatinya, membuktikan bahwa dia akan setia untuk mendampingi Anaya.
"Di hadapan Anaya dan Ayah, Tama berjanji tidak akan melakukannya. Seumur hidup Tama, hanya Anaya satu-satunya wanita yang Tama cintai."
Tama mengatakan hal itu dengan sungguh-sungguh. Bukti bahwa dia tidak akan membuka celah untuk wanita lain. Biarlah Anaya dan Ayah Tendean menjadi saksi bahwa keteguhan hatinya untuk Anaya semata.
Anaya pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Ya, aku percaya Mas ... aku akan selalu percaya kepadamu," balas Anaya.
Itulah kepercayaan yang Tama dan Anaya ikrarkan. Tanpa kepercayaan sangat tidak mungkin bahwa rumah tangga mereka bisa dibina. Bukan satu atau dua tahun, tetapi menjalani kehidupan pernikahan yang berakhir hingga till jannah benar-benar membutuhkan kepercayaan dari suami dan istri.
"Sudah, kalian datang ke mari untuk menjenguk Anaya dan bayinya atau untuk menghakimi menantuku?" tanya Ayah Tendean.
Mendengar pertanyaan seperti itu, Om Dedy dan Dicky pun sama-sama menghela nafas dan menggerakkan kakinya perlahan. Tidak menyangka bahwa Ayah Tendean akan memperingatkan hal demikian.
__ADS_1
"Setidaknya harus ada garis batas di sini. Kalian mengkhawatirkan Anaya boleh, tetapi Tama yang paling berhak atas Anaya," balas Ayah Tendean.
Sekali lagi ini adalah pengakuan yang tegas dari Ayah Tendean. Ketika bersimpati, tentu saja boleh. Ketika mendukung, tentu saja boleh. Akan tetapi, jika sampai menyudutkan orang lain itu yang tidak benar. Sebab, menurut Ayah Tendean, sejak tadi Om Dedy dan Dicky seolah mencari-cari kelemahan dan juga menyudutkan Tama.
"Kenapa kamu selalu membela menantu kamu itu? Belum tentu dia bisa membahagiakan Anaya, Ten ... Anaya itu satu-satunya putri kamu loh," balas Om Dedy.
"Kebahagiaan itu tidak diukur dengan materi, Ded ... justru aku merasa putriku satu-satunya ini mendapatkan kebahagiaan bersama Tama. Mengisi hidupnya yang kosong, hingga kini penuh melimpah. Ya, bagiku justru Anaya lebih bahagia sekarang."
Itu adalah pengakuan dari Ayah Tendean yang merasa Anaya lebih bahagia bersama Tama. Serta, di titik terendah Anaya pun ada Tama di sana yang akan selalu mendukung dan juga menguatkan Anaya. Ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan materi, tetapi hanya bisa dirasakan dengan hati.
"Om Dedy tidak usah memikirkan Anaya ... Anaya bahagia kok bersama Mas Tama. Sangat bahagia malahan," balas Anaya.
Ketika Anaya mengakui bahwa dirinya sangat bahagia, Tama merasa tersentuh. Tama merasa yang dia lakukan untuk Anaya tidak banyak. Kehidupan rumah tangga mereka juga begitu sederhana. Akan tetapi, Tama merasa bangga karena dia bisa membahagiakan Anaya.
Tidak berselang lama, Om Dedy dan Dicky berpamitan. Walau di dalam hati begitu dongkol, tetapi mereka berusaha bersikap biasa saja. Namun, begitu sudah di dalam mobil, Dicky tampak mengomentari apa yang baru saja mereka alami.
"Kok bisa sih, Anaya bisa secinta itu pada Tama. Kaya banget juga enggak, statusnya juga duda sebelumnya. Bahkan melahirkan anak, Tama yang membuat Anaya jadi wanita tidak sempurna. Kenapa Anaya masih secinta itu sama Tama sih?"
Om Dedy pun menghela nafas dan menatap putranya itu, "Mungkin cinta buta," balasnya lirih.
Dicky menggelengkan kepalanya perlahan, "Bukannya lebih baik Dicky segala-galanya. Mapan, pekerjaan juga bagus sebagai Dokter, dan juga Dicky akan berusaha membahagia Anaya," balasnya.
__ADS_1
"Nasi sudah menjadi bubur, Dic ... Anaya sudah bersama Tama, lupakan dia saja," balas Om Dedy kepada putranya itu.
Om Dedy akhirnya bisa menyelami semuanya dan sampai pada satu titik bahwa lebih baik untuk melupakan Anaya. Rasanya Tama dan Anaya juga tidak akan terpisahkan satu sama lain. Lebih baik menyerah, dan mencoba membuka hati untuk orang lain.