Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Sedikit Guncangan untuk Citra


__ADS_3

Meninggalkan sejenak ceremony wisuda Anaya yang memang sudah berganti hari. Sekarang, kegiatan sehari-hari keluarga Tama dan Anaya berkembali berjalan dengan normal. Citra yang terus bersemangat dengan sekolahnya, dan juga Papa Tama yang tentu lebih semangat bekerja. Sementara Mama Anaya sekarang juga sudah diizinkan untuk menyetir mobil oleh Papa Tama, karena memang harus menjemput Citra di sekolah.


Jika berangkat, selalu Papa Tama yang mengantar Citra. Sementara ketika pulang beberapa pekan ini, yang menjemput Citra di sekolah adalah Opanya. Sekarang, setelah mendapatkan izin mengemudi dari suami tercinta, Mama Anaya sendiri yang menjemput Citra. Namun, si Kembar dititipkan sebentar di rumah Eyangnya.


Akan tetapi, kali ini Mama Anaya agak terlambat untuk menjemput Citra. Sebab, dia harus membersihkan Charel yang ketika dia hendak berangkat justru pup. Sehingga, Anaya memilih membersihkan bayinya dulu sebelum dititipkan di rumah Omanya.


Sementara itu, Citra yang menunggu di lantai satu sekarang masih beberapa kali bermain dengan teman-temannya yang juga belum dijemput. Hingga ada pasangan paruh baya yang mengamati Citra dari jauh. Pasangan paruh baya itu merasa bahwa wajah Citra tidak asing, bahkan mengingatkannya kepada seseorang. Sehingga, pasangan paruh baya itu teringat dengan cucunya yang sudah sekian tahun waktu berlalu dan ternyata gadis kecil yang wajahnya ada sedikit kemiripan dengan mendiang putrinya yang meninggal lima tahun yang lalu pun mendekat dan mengamati Citra.


"Bukankah dia cucu kita? Anaknya Tama dan Cellia?" tanya Bu Harja kepada suaminya.


"Masak sekolahnya di sini sih?"


"Ini kan salah satu Taman Kanak-Kanak terbaik," balas Bu Harja.


Berusaha mendekat hingga akhirnya Bu Harja lebih mendekat dan memanggil nama Citra di sana. "Citra ... hei, kamu Citra kan?"


Sebenarnya Citra juga tampak bingung. Sebab, orang yang memanggil namanya sekarang adalah orang yang tidak dia kenal. Akan tetapi, justru ada orang lain yang memanggil namanya.


Arshaka yang kala itu belum dijemput pun berdiri di samping Citra. "Itu ada yang panggil nama kamu loh," ucapnya.


"Iya, tapi aku gak kenal," sahut Citra lagi.


"Kalau gak kenal kenapa memanggil nama kamu?" tanya Arshaka.


Tampak Citra mengedikkan bahunya perlahan. "Entahlah, katanya Mama dan Papa jangan berbicara dengan orang asing," ucapnya.

__ADS_1


Arshaka kemudian menganggukkan kepalanya. "Ditemui aja, Cit ... aku temenin," ucapnya.


Akhirnya dua anak kecil itu mendekat dan Citra tampak mengamati siapa yang sudah memanggil namanya sekarang. Hingga akhirnya, Citra memberikan diri untuk bertanya.


"Siapa yah? Citra tidak kenal," ucap Citra.


"Aku Nenek dan Kakekmu ... Papa kamu bernama Tama kan?" balas Bu Harja di sana.


Kemudian Arshaka pun berbisik kepada Citra. "Itu, Nenekmu loh ... kenal sama Papamu," balas Arshaka.


"Citra tidak punya Nenek ... Citra punyanya Eyang, Oma, dan Opa," balasnya dengan menunjukkan wajah polosnya.


Tak hentinya mengelabui. Bu Harja itu menatap Citra lagi. "Coba siapa nama Ibumu? Nama Mamamu siapa?" tanyanya.


"Mama Anaya ... Mamanya Citra namanya Anaya," balasnya.


Usai mengatakan semua itu, pasangan paruh baya itu pergi begitu saja. Sementara Citra tampak bingung, wajah anak kecil itu terlihat cemas dengan kedua bola matanya yang sudah kelihatan berkaca-kaca.


"Apa iya, Mamaku bukan Anaya?" Citra kali ini bertanya kepada Arshaka yang masih berdiri di sampingnya.


"Tidak kok, Mama kamu adalah Tante Anaya. Aku kan mengenalnya," jawab Shaka.


Lamunan dan kebingungan Citra sirna ketika Mamanya datang untuk menjemputnya. Tampak Mama Anaya melambaikan tangannya kepada Citra. Namun, wajah Citra tampak terlihat bingung di sana.


"Citra, Mama datang ...."

__ADS_1


"Mama," balas Citra dengan begitu lirih.


"Loh, kenapa? Citra sakit yah? Kok badannya Citra dingin kayak gini? kening kamu juga berkeringat Sayang," ucap Anaya.


Citra kecil pun menggelengkan kepalanya. "Tidak Ma ... Citra mau pulang," balasnya.


Akhirnya Anaya pun mengajak Citra untuk pulang dan berpamitan dengan Arshaka yang masih belum dijemput. Citra yang biasanya ceria, sekarang tampak murung. Anaya sampai bertanya-tanya dalam hati apa yang dialami Citra hingga membuat Citra murung seperti ini.


Pun begitu sampai di rumah, Citra juga tampak bingung. Terkadang sedikit informasi saja yang didengar oleh seorang anak bisa meruntuhkan kepercayaan yang dia miliki selama ini. Pun dengan Citra. Sepanjang hari makannya pun tidak lahap dan Citra memilih tidur di siang hari setelah mengerjakan PR-nya.


Malam menjelang tidur, Citra mendatang Mama dan Papanya. Agaknya Citra butuh kejelasan sekarang. "Papa, Citra boleh bertanya?" tanyanya.


Dengan cepat Tama pun menganggukkan kepalanya. Sang Papa segera memangku Citra di pahanya. Memberikan waktu kepada putri kecilnya itu. "Boleh, Citra mau bertanya apa kepada Papa," balasnya.


"Papa, apa benar Mamanya Citra itu bukan Mama Anaya, tapi Mama Cellia?" tanya Citra.


Ini pun adalah pertanyaan polos seorang anak. Dia hanya mengulang informasi yang dia dengar siang tadi dan sekarang menanyakan secara langsung kepada Papanya.


Deg!


Debaran dari jantung yang kian bertalu-talu. Baik Tama dan Anaya sama-sama tidak tahu jika Citra sampai bertanya demikian. Terutama Anaya yang merasa sesak dadanya.


"Coba Citra ceritakan dulu," pinta Tama kepada Citra. Untuk bisa memvalidasi emosi dan isi hati seorang anak memang harus memberikan waktu kepada anak untuk bisa bercerita semuanya.


"Tadi ada yang datang ke sekolah dan mengatakan adalah Neneknya Citra. Nenek itu bilang bahwa Mamanya Citra itu bernama Cellia dan bukan Anaya," ucapnya.

__ADS_1


Tentu saja hal itu bukan hanya menjadi guncangan untuk Citra, tetapi juga untuk Tama dan Anaya. Agaknya Tama dan Anaya sudah tahu siapa yang mengatakan demikian. Di masa lalu janji tidak mengusik Citra dan Tama nyatanya hanya isapan jempol belaka. Sekarang, ada kabar yang berusaha mengikis keharmonisan keluarga itu.


__ADS_2