Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Mengantar ke Bandara


__ADS_3

Beberapa menit waktu berlalu dan Tama masih berbincang dengan Ayah Tendean di ruang tamu. Hingga akhirnya, Anaya pun hendak turun dari kamarnya, untuk menurunkan koper-koper miliknya. Akan tetapi, beberapa kopernya berukuran besar sehingga Anaya mencari Ayahnya dan berniat meminta tolong kepada Ayahnya untuk membantunya.


"Ayah, tolong bantuin Aya untuk bawa koper dong Ayah, ada koper besar itu berat banget, Aya tidak kuat," ucapnya dengan sedikit lebih keras karena memang di rumah besar hanya tinggal berdua, sehingga Anaya berbicara dengan suara yang keras supaya terdengar oleh Ayahnya.


Di bawah rupanya suara Anaya itu terdengar juga oleh Ayah Tendean dan juga Tama. Keduanya pun saling berpandangan dan terlihat Ayah Tendean hendak berdiri, tetapi Tama dengan segera menahannya. "Biar saya saja yang bantuin Dokter," ucapnya.


Lagi-lagi Tama mengambil inisiatif untuk membantu Anaya. Bahkan Tama masih mencoba untuk menggendong Citra serta dengannya. Akan tetapi, melihat kamar Anaya ada di lantai dua, Ayah Tendean kini menghadang Tama dan menghentikan langkah Papa Muda berstatus Duda itu.


"Tam, sini Citra biar ikut Opa. Berbahaya, kamu nolongin Anaya sambil gendong Citra, apalagi naik tangga," cegah Ayah Tendean.


Tama pun berhenti dan kemudian menatap putri kecilnya itu, "Citra Sayang ... Citra ikut Opa dulu yah, Papa mau nolongin Onty. Hanya sebentar, nanti Papa kembali lagi," pamitnya kepada Citra.


Hingga akhirnya Tama menyerahkan Citra ke tangan Ayah Tendean, dan Tama meminta izin kepada sang empunya rumah untuk naik ke atas. Tujuannya adalah untuk menolong Anaya tentunya. Dengan gesit, Tama menapaki anak tangga dan kemudian menuju ke kamar Anaya yang berada di lantai dua.


"Ay," sapanya begitu melihat Anaya yang hendak menuruni anak tangga.


"Eh, Tam," sapa Anaya dengan cukup terkejut. Bahkan kedua mata Anaya membelalak dengan sempurna saat menatap Tama yang sudah berada di hadapannya.


"Iya, aku sudah datang ... tadi di ruang tamu ngobrol sama Ayah kamu. Mana yang perlu dibantu, Ay?" tanya Tama dengan menatap wajah Anaya.


"Oh, itu ... masih ada di dalam kamar. Tunggu di sini saja, Tama ... aku dorong dan keluarkan koper-koperku dulu," balas Anaya.


Tampak Anaya menghela nafas dan segera masuk ke kamarnya, sementara Tama menunggu di ujung anak tangga di lantai dua. Sungkan juga rasanya mengekori Anaya dan masuk ke dalam kamarnya. Memasuki kamar wanita bukan mahramnya tentu berbahaya, dan tidak etis. Oleh karena itu, Tama memilih untuk menunggu di luar.

__ADS_1


Ada tiga koper yang dikeluarkan Anaya dari dalam kamarnya, dan kemudian Anaya menutup pintu kamarnya, "Tama, ini ... cuma yang besar ini berat banget loh," ucap Anaya.


"Sini biar aku saja yang bawa. Aku turun saja. Aku akan naik dan turun, tidak apa-apa," balas Tama.


"Aku bisa bantuin juga, Tama, kan ini juga koperku ... gak enak kalau aku cuma enak-enak turun dan kamu malahan jadi potter," balas Anaya.


"Jadi potter untuk kamu, aku tidak keberatan, Ay," balas Tama.


Sungguh, mendengar ucapan Tama barusan membuat Anaya tersipu sebenarnya, tetapi Anaya berusaha menunjukkan rasa tersipunya itu hanya di dalam hati saja. Anaya memilih menundukkan kepalanya sembari menghela nafas sepenuh dada.


"Sudah, tunggu di bawah saja," perintah Tama.


Merasa bahwa Tama sudah melarangnya, Anaya pun sampai akhirnya memilih turun ke bawah. Wanita itu ketika menuruni anak tangga juga kaget yang melihat Citra dalam gendongan Ayahnya, sampai Anaya sedikit terburu-buru berjalan dan ingin menggendong Citra.


Sungguh, Anaya begitu senang bisa bertemu Citra sekarang ini. Seharian ini memang Anaya begitu merindukan Citra, tetapi ungkapan rindu itu hanya mampu Anaya pendam di dalam hati. Tidak dia ucapkan kepada siapa pun. Ketika sore hari tiba, dan Anaya bisa bertemu dengan Citra secara tidak terduga dan tidak direncanakan sebelumnya, tentu saja Anaya merasa begitu senang.


"Iya, biasanya Onty yang nyamperin Citra setiap hari, sekarang Citra yang nyamperin Onty Kesayangannya," balas Tama.


Kali ini Tama kembali menegaskan kata Onty Kesayangan Citra. Jujur saja, Tama sangat berat mengungkapkan itu. Air muka bahkan sorot matanya berubah perlahan, tetapi Tama masih berusaha untuk tersenyum dan menatap Anaya yang kini sudah menggendong Citra. Tidak mudah mengubah sebuah kegiatan yang sudah menjadi habit, menjadi kebiasaan yang berlangsung dalam kurun waktu 10 bulan. Namun, dalam sekejap mata kebiasaan itu akan hilang.


"Masih ada Tam? Biar saya bantu yah," tawa Dokter Tendean yang ingin membantu Tama menurunkan koper milik Anaya.


"Tidak usah, Dokter ... Tama bisa. Lagipula, tinggal satu koper saja kok," balasnya.

__ADS_1


Usai menurunkan ketiga koper milik Anaya, Tama dan Ayah Tendean memasukkan koper-koper itu ke dalam bagasi mobil milik Tama, kemudian Tama juga bersiap untuk mengantarkan Anaya ke bandara.


"Penerbangan jam berapa, Dokter?" tanya Tama.


"Jam 21.00 malam ... hanya saja jam 19.00 kan sudah stand by di bandara," balas Ayah Tendean.


"Oh, iya ... benar," balas Tama.


Tidak berselang lama, Anaya juga keluar dengan menggendong Citra. Anaya masih terlihat tersenyum dan bahagia. Pun demikian dengan Citra yang beberapa menyandarkan kepalanya di dada Anaya. Mungkin Citra pun merasakan begitu kangen dengan Anaya.


"Tama, saya ikut ke bandara boleh?" tanya Dokter Tendean.


"Ya, tentu saja boleh Dokter ... saya justru senang," balas Tama.


Sore itu, Tama pun mengantarkan Anaya ke bandara dengan Dokter Tendean dan Citra yang kali ini tidak lagi duduk di carseat, tetapi Citra sekarang duduk manis dalam pangkuan Citra. Anaya sendiri ingin rasanya memberikan ASI-nya untuk kali terakhir untuk Citra, tetapi itu tidak mungkin dia lakukan karena ada Tama yang menyetir mobil dan juga ada Ayah Tendean. Situasi yang tidak aman dan nyaman karena memberikan ASI dan ada lawan jenisnya.


Namun, beberapa kali Anaya tampak memberikan usapan yang lembut di puncak kepala Citra, dan menciumi Citra berkali-kali. Sungguh, melihat Citra, menciumi Citra, dan aroma parfum floral yang begitu khas dengan Citra membuat Anaya seakan mellow di dalam hati. Sudah pasti, Anaya pun akan begitu rindu dengan Citra, karena Anaya begitu sayang kepada bayi kecil itu.


"Tuh Citra, Onty mau terbang naik pesawat," celetuk Tama dengan tiba-tiba.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... Citra mau enggak ikut Onty naik pesawat? Seusia Citra masih gratis loh, bisa digendong Onty nanti," balasnya dengan bercanda.


"Kalau Citra diajak, gimana dengan Papanya dong Onty?"

__ADS_1


Tama mengajukan pertanyaan itu, sembari melirik Anaya yang duduk di belakangnya. Entah, rasanya Tama pun juga tidak rela jika Anaya harus pergi sejauh itu. Indonesia dengan Amerika begitu jauh. Perjalanan udara saja ditempuh dalam waktu kurang lebih 21 jam, lintas benua, dan juga lintas samudera. Jika dalam masa hampir 10 bulan, Anaya selalu menemani Citra dan memberikan ASI secara eksklusif untuk Citra, dan hanya hitungan jam lagi Anaya akan pergi begitu jauh. Sementara Ayah Tendean juga bisa menerka keadaan ini seperti apa. Bagi Ayah Tendean, pertanyaan yang Tama ucapkan barusan, menyiratkan berbagai makna. Ya, ada makna tersembunyi dalam pertanyaan Tama itu. Hanya diucapkan secara bercanda dan dalam keadaan yang cukup santai, tetapi isi hati manusia siapa yang tahu? Ada kalanya sebuah perkataan lain di bibir, lain di hati. Sekarang ini, makna apa yang coba Tama sampaikan kepada Anaya tentu hanya Tama saja yang tahu, Entahlah, yang terjadi dalam beberapa jam kemudian, tidak ada orang yang tahu. Mungkinkah Tuhan akan menggariskan sesuatu yang lain? Tunggu saja.


__ADS_2