
Di tempat yang berbeda ....
Ketika Anaya, Tama, dan Citra melakukan survei untuk mencari sekolah baru, tampak Bunda Dianti dan Ayah Tendean menikmati masa mengasuh cucu untuk kali pertama. Jika Ayah Tendean kadang kala bermain dengan Citra, tetapi di rumah dengan bayi-bayi kecil baru kali ini. Pun dengan Bunda Dianti yang menjadi pengalaman kali pertama mengasuh cucu di rumah.
"Lucu banget ya Mas ... keajaiban Tuhan yah, keduanya kembar, tapi bisa berbeda. Jenis kelaminnya berbeda, wajahnya pun berbeda, tidak sama. Cuma bagian mata dan bibirnya yang sama," ucap Bunda Dianti mengamati kedua cucunya itu.
"Iya, memang Charla dan Charel ini lucu kok. Yang Charel ini lebih banyak seperti Anaya yah ... kalau Charla itu dominan Tama," ucap Ayah Tendean.
Tampak Bunda Dianti tersenyum dan mengamati wajah cucu-cucunya itu. Benarkah bahwa Charel mirip Mamanya, sementara Charla mirip Papanya. Hingga beberapa kali Bunda Dianti mengamati keduanya bergantian.
"Ya, ada wajahnya Mama dan Papanya sih. Cuma bener, setuju ... Charel ini dominan wajahnya Anaya," balas Bunda Dianti.
"Benar kan? Waktu bayinya itu, aku berkata dalam hati loh kok yang Charel ini mirip banget dengan Anaya sewaktu bayi. Mirip banget," balas Ayah Tendean.
Bunda Dianti pun tertawa, dan menepuk lengan suaminya itu. "Jadi, nostalgia dengan masa kecilnya Anaya ya Mas Dean ... lucu banget yah jadinya," balasnya.
"Iya, Bunda ... rasanya itu seperti baru kemarin memiliki Anaya yang masih bayi dan banyak nangisnya. Anaya yang menangis kalau melihat teman-temannya yang punya Bunda, sekarang anakku itu sudah menjadi Mama untuk tiga orang anaknya. Cepat sekali waktu berlalu," cerita Ayah Tendean.
Sementara, Bunda Dianti tampak tersenyum kepada suaminya itu. "Waktu memang begitu Mas Dean ... terkadang dia bergerak cepat dan seakan meninggalkan kita di belakang. Namun, ada kalanya waktu juga membenamkan kita dan seolah-olah hari-hari yang kita jalani hanya berjalan di tempatnya."
Tampak Ayah Tendean menghela nafas panjang dan kemudian menatap kepada Dianti di sana, "Seperti kita berdua ya Nda ... sama-sama menunggu, dan ketika waktu sudah mempertemukan, kita bisa berumahtangga seperti ini. Lucu yah, walau kita sudah tidak lagi muda," balasnya.
"Kamu masih muda, Mas ... mungkin ketika usiamu 60 tahun nanti, kamu masih kelihatan muda kok," balas Bunda Dianti.
"Ah, kamu bisa saja sih, Di ... kamu juga masih muda, Bunda Dian ... masih begitu cantik di mataku," balas Ayah Tendean.
Pasangan yang sudah paruh baya itu sama-sama tertawa. Lantaran tertawa cukup keras, Charel yang tidur pun terbangun dan menangis di sana.
__ADS_1
Oek ... Oek ....
"Charel kebangun yah? Pasti karena Oma dan Opa ketawanya terlalu keras yah? Jadinya Charel terbangun. Cup ... cup ... cup."
Bunda Dianti dengan cepat segera menggendong Charel. Sangat lucu rasanya melihat ekspresi bayi yang menangis dan bibirnya yang melengkung turun, dan wajahnya memerah. Kemudian Bunda Dianti meminta tolong kepada suaminya untuk menghangatkan ASIP yang memang diberikan oleh Anaya dan sekarang disimpan di lemari es.
"Mas Dean, minta tolong hangatkan ASIP dulu yah. Sama seperti tadi yang dikasih tahu Anaya. Bisa kan?" tanyanya.
Ayah Tendean pun menganggukkan kepala dan segera menghangatkan ASIP dengan penghangat ASIP, setelahnya menyerahkan dodot kepada Bunda Dianti.
"Ini diminumkan dulu. Ya ampun, nangisnya sampai kayak gini," balas Ayah Tendean.
Tidak berselang lama gantian Charla yang terbangun dan kali ini dia tidak menangis. Sehingga, Ayah Tendean cukup menggendongnya saja. Setelah itu, kedua bayi itu duduk dan bermain dengan mainan rattle sembari tummy time. Terlihat Bunda Dianti mengajak bicara kedua cucunya itu. Sebab, berbicara pun menjadi stimulasi penting dari orang tua kepada bayi untuk memberikan stimulasi di indera pendengarannya.
"Ini rattle ... boneka tangannya bisa berbunyi yah. Coba, Charel dan Charla tahu enggak warna apa aja ini. Ada merah muda, biru, dan oranye. Wah, lucu yah."
Sementara Ayah Tendean yang melihat istrinya terlihat menikmati waktu untuk mengasuh Charel dan Charla tampak begitu senang. Semua itu karena Bunda Dianti termasuk orang yang komunikatif dengan anak kecil, dengan bayi.
Bunda Dianti pun tertawa. Rasanya sangat tidak mungkin memiliki bayi di usianya sekarang. 47 tahun, di mana sistem reproduksinya sudah menurun dan bayang-bayang menopause sudah mengintip di depan mata.
"Apa mungkin, Mas? Sudah 47 tahun ... sudah hampir kepala lima," balas Bunda Dianti.
"Apa mau cek up dulu ke Dokter Kandungan, sapa tahu nanti bisa dapat solusi," balas Ayah Tendean.
Kemudian Bunda Dianti menggelengkan kepalanya. "Gak usah, lagipula kita juga tanpa target untuk keturunan kan Mas? Sudah memiliki Anaya dan Tama, selain itu sudah memiliki tiga cucu. Sudah banyak," balas Bunda Dianti.
Tidak ingin memaksa istrinya, akhirnya Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya. "Iya, hanya saja perempuan ketika masih menstruasi seharusnya masih bisa hamil, Nda ... karena sistem reproduksinya kan seperti itu," balas Ayah Tendean lagi.
__ADS_1
Lagi-lagi Bunda Dianti menggelengkan kepalanya. Di usianya yang sekarang rasanya juga dia tidak ingin banyak berharap. Usia kian bertambah dan mengingat bahwa usianya juga tidak lagi muda.
Ketika Ayah Tendean dan Bunda Dianti sambil mengobrol rupanya Charla melempar rattle dan mengenai kaki Opanya. Kemudian Bunda Dianti berbicara kepada suaminya. "Tuh, diajakin Charla main ... Opanya ngobrol terus ya Nak?"
Ayah Tendean terkekeh geli dan kemudian beringsut, sekarang si Opa memangku cucunya itu dan sembari mengajak bicara sembari menyanyikan lagu cicak-cicak di dinding. Sekadar dinyanyikan Opanya, rupanya Charla dan Charel begitu senang dan tertawa-tawa.
"Ngasuh cucu itu menyenangkan yah Mas," ucap Bunda Dianti kemudian.
"Dulu dengan anak-anak di Panti Asuhan apa tidak menyenangkan, Nda?" tanyanya.
"Ya, menyenangkan ... semua bayi itu menyenangkan, Mas. Lucu dan menggemaskan," balas Bunda Dianti.
Ayah Tendean menganggukkan kepalanya perlahan. "Benar Nda, mungkin karena alasan itulah aku betah menjadi Duda untuk seperempat abad lamanya," balasnya.
"Jadi Duda Seperempat Abad bangga ya Mas?" tanya Bunda Dianti.
Ayah Tendean lagi-lagi tertawa, "Iya, bangga ... karena aku bisa menjalani semuanya dengan baik dan tidak pernah affair dengan siapa pun. Aku bisa mengantar Anaya memasuki kehidupan berumahtangga dengan pria yang tepat untuknya. Anak perempuan itu adalah milik Ayahnya sampai dia berumahtangga, jadi aku bangga dengan diriku bisa menjalani seperempat abad menduda dengan menjadi ayah, bunda, dan sahabat untuk Anaya."
Ya, itu adalah suara hati Ayah Tendean. Begitu bangga dan mensyukuri untuk waktu 25 tahun yang dia jalani dalam masa menduda. Kadang kesepian, kelelahan, tapi mengingat putrinya yang membutuhkannya, Ayah Tendean selalu bangkit dan menjalani beberapa peran dalam mengasuh tumbuh kembang Anaya. Lega, ketika putri satu-satunya sudah memasuki kehidupan rumah tangga dengan pria yang mencintainya.
***
Dear Pembaca Setia,
Novel Mas Duda Mencari Ibu Susu akan tamat bulan ini yah ... jangan khawatir karena dilanjutkan dengan ceritanya Ayah Tendean di cerita yang baru dengan judul Duda Seperempat Abad.
Kita bertemu bulan depan di buku baru yah. :D
__ADS_1
Love U,
Kirana^^