
Usai dari coffee shop Tama dan Anaya segera menjemput Citra di rumah Mama Rina. Tampak Anaya datang dan langsung menggendong Citra yang saat itu tengah latihan berdiri dan seolah berjalan menapakkan kakinya dengan menggunakan baby walker. Memang begitulah Citra, putri kecil itu berkembang baik secara motorik dan sensoriknya dengan begitu baik.
"Halo Nak Cantiknya Mama ... Mama sudah pulang kuliah Nak," sapa Anaya yang langsung mencium pipi Citra yang chubby itu.
"Baru belajar berdiri-diri tuh Anaya ... mungkin tidak lama lagi Citra bisa berjalan tuh," balas Mama Rina.
"Iya Ma ... sudah waktunya untuk berjalan. Semoga tidak lama lagi Citra juga bisa berbicara ya Ma," balas Anaya.
Mama Rina pun segera menganggukkan kepalanya, "Iya ... yang penting itu distimulasi supaya anak bisa berkembang dengan baik," balasnya.
"Iya Ma ... Anaya akan melakukan yang terbaik untuk mengasuh Citra," balasnya.
Kurang lebih satu jam Anaya dan Tama di rumah Mama Rina untuk menjemput Citra, kemudian mereka berpamitan untuk pulang karena sudah malam. Sebenarnya Mama Rina meminta Tama dan Anaya untuk menginap saja, mengingat besok adalah hari Minggu. Akan tetapi, Tama memilih untuk pulang saja dan katanya ingin mengajak Anaya dan Citra ke car free day esok hari.
Begitu sampai di rumah, Anaya pun bertanya kepada suaminya itu, "Yakin besok ngajak ke car free day? Kalau aku enggak begitu suka ajak anak bayi ke keramaian, Mas. Banyak kuman atau debu yang bisa membuat anak sakit," ucap Anaya.
Tama rupanya tampak tertawa kecil di sana, "Enggak lah ... aku punya rencana sendiri sama kamu," balasnya.
"Hmm, rencana apa?" tanya Anaya kemudian.
"Hujan-hujan enaknya ngapain Sayang? Pas banget loh malam minggu malahan hujan," balas Tama kemudian.
Anaya tampak memincingkan matanya menatap suaminya yang sering kali nakal tiap kali bersamanya itu. Lantas Anaya sedikit beringsutn duduknya, menjauh dari Tama.
"Pasti modus ... takut deh," balas Anaya.
"Dimodusin yang enak-enak loh. Kenikmatannya tidak hanya satu lapis, tetapi ratusan," balas Tama dengan tertawa.
"Kamu dulu kalem dan sopan gitu, rupanya setelah hidup berdua seperti ini ya Mas," balas Anaya dengan tertawa.
"Ya, aku aslinya kan seperti itu, hanya saja kalau sama kamu beda Sayang ... jadinya terus-menerus bergejolak," jawabnya.
Tama kemudian membuka tangannya, bentuk isyarat supaya Anaya masuk ke dalam pelukannya. Rupanya Anaya pun menganggukkan kepalanya, dan segera masuk ke dalam pelukan suaminya itu.
"Hujan-hujan di luar. Seakan semesta memberi kita waktu untuk menikmati masa-masa pengantin baru," balas Tama.
Anaya hanya tersenyum saja mendengar ucapan suaminya itu. Memilih diam dan merasakan hangat dekapan suaminya.
"Jam 19.30 saja Citra juga udah bobok pules, jadi kan dia juga memberikan waktu untuk kita berdua. Pacaran halal Sayang," balasnya.
Tama lantas menelisipkan untaian rambut Anaya ke belakang telinga, dia membelai sisi wajah Anaya di sana, dan menatap istrinya itu, "Boleh malam ini Sayang?" tanyanya kepada sang istri.
"Hmm, iya," balas Anaya.
__ADS_1
"Mau aku kasih tahu les privat enggak?" tanya Tama lagi.
"Les privat yang seperti apa Mas?" tanyanya.
"Kamu yang kendalikan permainan, mau?" tanya Tama.
Anaya tampak menundukkan wajah dengan menggigit bibirnya sendiri. Malu sebenarnya untuk menjawab suaminya, tetapi dalam hubungan antara suami dan istri bukankah selayaknya memberi dan menerima?
Melihat Anaya yang hanya diam, tanpa ragu Tama mengikis jarak wajahnya, dan kemudian melabuhkan bibirnya di atas bibir Anaya. Pria itu memulai dengan ciuman sebagai menu pembuka sebelum menikmati menu utama. Lu-matan dan pagutan yang begitu lembut, Tama labuhkan di bibir Anaya. Kecupan demi kecupan, pagutan demi pagutan, hingga lu-matan demi lu-matan yang berada kala kedua bibir bertemu. Maka tidak ada lagi yang bisa Tama pikirkan selain terus memagut bibir Anaya yang semanis cotton candy itu. Seakan tidak ada hari esok untuk menikmati manisnya cotton candy yang lembut dan juga manis.
Tama menenglengkan sedikit wajahnya dan kemudian memberikan tekanan dalam ciumannya. Sapuan hangat nafas keduanya berpadu dengan kedua bibir yang saling menghisap dan saling melu-mat benar-benar candu yang membuat keduanya sama-sama tidak bisa berhenti.
Anaya memekik kala lidah Tama memberikan usapan dan membelit lidahnya. Nafasnya tertahan manakala Tama dengan perlahan, membawa satu tangan Anaya dan menyentuhkannya ke inti tubuhnya, ke pusakanya yang sudah mengeras di sana.
Sungguh, Anaya berdebar-debar karenanya. Tidak menyangka, hanya sebatas saling mencium saja pusaka suaminya sudah mengeras dengan sempurna.
Begitu lihainya Tama, tangan yang semula hanya menyentuh dari luar, rupanya Tama sengaja membawa tangan itu dan menyentuhkannya secara langsung. Nafas Anaya kian tertahan kala merasakan pusaka itu dengan tangannya. Lebih lihai, Tama mengarahkan tangan Anaya memberikan gerakan memijat naik dan turun, sampai rasanya Tama mende-sah dengan kian memejamkan matanya.
"Handle it, Sayang," ucap Tama dengan suara yang berat dan tahan.
Anaya yang bingung, hanya mengikuti instingnya saja. Menggerakkan tangannya naik dan turun, Anaya benar-benar tidak tahu bahwa hanya sekadar gerakan tangan saja membuat Tama mende-sah dan menyebutkan namanya berkali-kali.
"Oh Anaya ... Anaya ...."
Dentingan hujan di luar sana nyatanya justru membuat atmosfer di dalam kamar itu begitu hangat dan mengarah ke panas. Anaya mencoba mengikuti instingnya. Wanita itu memilih pun turun dari sofa, berlutut di lantai, dan kemudian untuk kali pertama dia memasukkan pusaka itu ke dalam rongga mulutnya. Memberikan usapan dengan lidahnya, menenggelamkan pusaka itu sepenuhnya dalam rongga mulutnya yang hangat.
"Ana ... ya ... Anaya ...."
Beberapa menit waktu itu terjadi, hingga akhirnya Tama menarik tubuh Anaya, dan mendekapnya dengan begitu erat.
"Sudah ... cukup," ucapnya dengan kembali memagut bibir Anaya dengan nafas yang memburu.
Sebagai pria sejati, Tama tak akan membiarkan istrinya memuaskannya terlalu lama. Inti dari hubungan suami istri adalah bersinergi, hingga kenikmatan yang dirasakan pun bisa dirasakan oleh kedua belah pihak.
Dengan cepat, Tama membopong tubuh Anaya dan segera menidurkan Anaya di ranjang mereka. Kini giliran Tama yang akan memberikan godaan yang sudah pasti akan membuat Anaya untuk mende-sahkan namanya.
Tama dengan cepatnya melucuti busana demi busana yang mereka mereka kenakan. Membiarkan tubuh mereka polos mutlak, lantas kini Tama memberikan godaan di buah persik milik Anaya. Memberikan cumbuan di sana, mengusapnya dengan lidahnya yang basah dan hangat, menghisapnya, bahkan menggigiti puncaknya. Sungguh, Anaya melenguh menahan gelenyar nikmat kala suaminya itu menyentuhnya.
Seakan-akan tiap kali Tama menyentuhnya, Anaya berubah menjadi kelopak bunga yang merekah. Sementara Tama adalah kumbang yang menghisap setiap nektar yang dia miliki. Anaya menahan nafas, tangannya bergerak dan meremas rambut Tama di sana.
"Mas ... Mas ...."
Suara yang dalam dan syarat akan de-sahan justru melecut semangat Tama untuk terus memberikan godaan demi godaan di tubuh istrinya. Bahkan dengan nakalnya, Tama menggigit dan menghisap sembulan buah persik itu hingga meninggalkan tanda merah pekat di sana.
__ADS_1
"Ya Tuhan ... Mas," Anaya kian kacau.
Suaminya itu memang paling jago untuk bisa membangkitkan rasa asing yang membuat Anaya hilang kendali. Belum lenyap godaan di area dadanya. Rupanya Tama kian bergerak turun dan menginvansi lembah di bawah itu. Menusuknya dengan ujung lidahnya, geliat sensual tubuh Anaya memacu Tama untuk benar-benar membuat istrinya mereguk manis percintaan keduanya.
"Nikmat, Sayang," ucap Tama dengan menarik kembali wajahnya. Melihat wajah Anaya dengan mata yang terpejam sempurna, dan liuk geliat sensual dari istrinya benar-benar pemandangan yang indah di depannya.
Tama kini merebahkan dirinya, dia menuntun tangan Anaya dan menyentuhkan ke pusakanya.
"Milikmu, you can handle it?" tanyanya.
Anaya segera menggenggam kembali pusaka itu, dan menggerakkannya naik turun. Sungguh, Tama begitu girang karena satu kali mengajari les privat kepada istriny dan sekarang istrinya sudah bisa mengendalikan permainan.
"Faster please," ucapnya dengan nada seolah memohon.
Anaya beringsut, lantas wanita itu kembali menenggelamkan pusaka itu dalam rongga mulutnya. Memberikan pijatan peristaltik dengan mulutnya. Sungguh, tindakan yang membuat Tama melenguh dan mengusapi kepala istrinya di sana.
"Oh, Anaya ... Anayaku ...," ucap Tama yang merasa melayang sekarang ini. Melayang ke angkasa, sensasi yang sungguh luar biasa.
Lantas Tama menarik wajah Anaya, dan kini Tama memposisikan Anaya untuk duduk di atasnya, "Masukkan perlahan Sayang ... gerakkan pinggulmu. Kendalikan aku sepenuhnya," perintahnya.
Anaya menghela nafas disertai dengan pekikan kala pusaka yang sudah begitu tegang itu memasuki inti sari tubuhnya. Anayav memejamkan mata, dan mencengkeram punggung Tama. Tidak tahan dengan gelenyar yang benar-benar hebat, Anaya menghela nafas dan dia menggigit punggung suaminya itu.
"Mas ... Mas," ucapnya dengan bergerak kacau mengikuti instruksi dari Tama di sana.
"Ya Sayangku ... terus Sayang. Gerakkan pinggulmu perlahan. Aku pasrah," ucap Tama kali ini dengan memejamkan matanya kian rapat.
Anaya tak kuasa menahan, dia merasakan cairan hangat yang keluar dari inti sari tubuhnya. Anaya memekik dan menggigit punggung suaminya itu.
"Maass ... Masss ...."
Pun demikian Tama yang mende-sah, dan mengusapi rambut Anaya di sana.
Kini tanpa melepas penyatuannya, Tama mengubah posisi Anaya. Merebahkannya, dan Tama mulai melakukan gerakan seduktif yang pertama begitu pelan, seolah menghunuskan bubur di bibir cawan surgawi itu, lantas menghentaknya dengan begitu dalam.
"An ... na ... ya ...," lenguhannya dengan kian memacu kian cepat dalam irama yang tidak bisa diprediksi lagi.
Gerakan menghujam dan menusuk yang kian cepat, bertambah cepat, hingga peluh keduanya bercucuran dan kian menciptakan sensasi liat dan basah di sana.
Tama sadar, ini adalah batas dari pertahannya. Pria itu membuka matanya perlahan, menatap Anaya dengan sorot mata yang penuh kabut gairah, dan kemudian menghentakkan pinggulnya dengan begitu dalam, menghujamnya dengan begitu kuat.
Oh, rasanya itu adalah aktivitas yang sangat menggairahkan. Tama menggeram, hingga dia merasakan tubuhnya benar-benar meledak kala itu. Erupsi volcano yang tidak bisa dia hindari. Tama meledah, pecah, dan tanpa sisa.
Pria itu rubuh di atas tubuh istrinya dengan tubuh yang bergetar hebat disertai dengingan di telinganya.
__ADS_1
"Anayaku ... I Love U ... I Love U."
Tidak ada kata lagi yang mampu diucapkan Tama selain kata 'i love u' bersamaan dengan erupsi volcano yang begitu hebatnya.