Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Definisi Suami Gentleman


__ADS_3

Usai perjalanan mengarungi samudra cinta yang benar-benar memiliki kenikmatan berlapis-lapis hingga ratusan itu, Tama dan Anaya memilih untuk membersihkan dirinya. Terlebih bagi Anaya yang sampai mengeluarkan ASI dengan begitu derasnya, dia merasakan tubuhnya begitu lengket. Bahkan Tama sudah keluar dari kamar terlebih dahulu, tetapi Anaya masih terus membersihkan tubuhnya.


"Tidak usah lama-lama loh, My Love ... nanti pilek kalau mandi malam-malam," pesan Tama kepada istrinya itu ketika dia hendak keluar dari kamar makan.


"Hmm, iya Mas," balasnya.


Tubuh yang memang lengket dan bau ASI membuat Anaya harus mandi malam-malam, dan setelahnya barulah Anaya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang rambut yang sedikit basah. Akan tetapi, ketika Anaya melihat kamarnya, dia mencari-cari di mana suaminya itu berada, di setiap sudut kamar tidak ada Tama di sana. Akhirnya, Anaya memilih duduk di depan cermin rias dan hendak mengeringkan rambutnya yang basah terlebih dahulu.


Baru saja, Anaya hendak menyisir dan mengeringkan rambutnya, sang suami sudah masuk ke dalam kamar dan membuatkan Anaya coklat hangat.


"Sayang, diminum dulu. Aku buatkan coklat hangat. Biar habis ini tidur kamu nyenyak," ucap Tama dengan menyerahkan secangkir coklat hangat itu.


Anaya pun mengulurkan tangannya dan menerima secangkir coklat hangat itu, "Makasih Mas Suami, perhatian banget sih," ucapnya dengan menyunggingkan senyuman di wajahnya.


Sedikit meminum coklat hangat itu, kemudian Anaya naik ke ranjang perlahan. Pun Tama yang


Yang menyusul istrinya untuk menaiki ranjang dengan pelan-pelan.


Bukan sekadar naik, tetapi Tama duduk berhimpitan dengan istrinya. Dia mengamati wajah Anaya yang natural, tanpa make up. Hanya mengaplikasikan serum dan krim wajah saja yang dilakukan Anaya, juga rambut yang masih sedikit basah karena malam-malam Anaya justru mandi keramas.


"Rambut kamu masih basah, My Love ... kalau bobok dengan kondisi rambut yang basah, nanti kamu bisa pilek loh," ucap Tama. "Sini aku keringkan," imbuhnya lagi yang kemudian mengambil handuk kecil dan mengambil hairdryer yang ada di laci yang ada di meja rias. Hairdryer kecil yang bisa langsung dipakai tanpa perlu dicolokkan. Perlahan-lahan, Tama mulai mengeringkan rambut istrinya itu. Seolah pria itu menggunakan jari-jarinya begitu lihai untuk menyisir rambut Anaya dan juga setelahnya menyisirinya dengan sisir rambut hingga rambut Anaya benar-benar kering.


"Nah, gini ... jadinya Mama Anaya enggak pilek, sambil diminum coklatnya ... rileks. Ibu menyusui harus rileks, gak boleh stress. Urusan mengeringkan rambut biar suamikmu saja," balas Tama.


Anaya pun terkekeh geli. Namun, dia merasakan hatinya yang menjadi begitu hangat karena Tama adalah suami yang super perhatian. Tama memperlakukannya dengan begitu lembut.


"Makasih Papa Tama ... perhatian banget sih," balas Anaya.


"Sama-sama, My Love," balas Tama.


Setelah rambut Anaya benar-benar kering, Tama mengembalikan handuk ke dalam kamar mandi, kemudian dia menyimpan hair dryer kembali dan barulah dia kembali duduk berhimpitan dengan Anaya dan merangkul bahu istrinya itu.

__ADS_1


"Mas, boleh tanya?" tanya Anaya ketika suaminya sudah duduk di sampingnya.


"Boleh ... mau tanya apa?" balas Tama.


"Sudah sembuh Post Natal Traumatic-nya?"


"Ya kan gak bisa langsung sembuh Sayang ... butuh waktu. Jadi, kayak otakku itu kalau lihat darah jadi keingat waktu kamu pendarahan dulu. Semua memori waktu kamu melahirkan itu masih kesimpan semua di memori otakku. Maaf yah, melahirkan Charel dan Charla sesakit ini," ucap Tama dengan merasa bersalah kepada Anaya.


Dengan cepat Anaya menggelengkan kepalanya, "Enggak apa-apa, semua Ibu juga akan berjuang untuk melahirkan anak-anaknya. Meregang nyawa pun mereka tidak keberatan," balas Anaya lagi.


"Luar biasa banget yah ... seorang Ibu. Pantas saja di lagu anak-anak disebutkan kalau kasih Ibu itu sepanjang masa, ya itu benar karena memang sangat luar biasa berjuang dengan darah dan air mata," balas Tama dengan menghela nafas dan teringat dengan lagu anak-anak yang sering dia nyanyikan dulu.


Anaya beringsut dan menatap suaminya itu, "Mulai sekarang, jangan ditahan-tahan ya Mas ... jika memang berhubungan suami istri bisa menjadi pengalihan untuk sembuh, lakukan saja ... toh, aku juga sudah sepenuhnya sehat, tidak sakit lagi," balas Anaya.


"Iya ... beneran boleh?" tanya Tama.


"Boleh ... aku justru merasa insecure dan sakit hati, merasa tertolak sama suami sendiri. Aku ingin bisa memuaskan ladang batin kamu. Namun, selalu kamu tolak. Sakit loh Mas," aku Anaya dengan jujur.


Tama menganggukkan kepalanya perlahan dan kian memeluk Anaya dengan erat, "Maaf yah ... aku tidak bermaksud untuk menolak kamu. Cuma, aku memang harus membereskan hati dan otakku dulu. Sekarang, aku gak akan menolak kamu lagi. Terima kasih ya My Love ... hadiah tadi sangat indah," ucap Tama dengan jujur.


"Maaf yah ... tadi udah bikin ASI-nya keluar banyak," ucap Tama yang juga merasa bersalah. Sebab, ini juga pengalaman pertamanya bercinta dan kemudian berakhir dengan keluarnya ASI milik istrinya dengan sendirinya. Sebelumnya, Tama tidak pernah merasakan pengalaman seperti ini.


"Kan kamu gigit, kamu hisap itu jadi stimulasi ke area ini Mas ... jadinya mancur deh," balas Anaya dengan memanyunkan bibirnya.


"Kangen Sayang ... sama persiapan menjelang persalinan, ada mungkin yah empat bulan tidak bergumul dengan kamu. Puasa terlamaku setelah menikah sama kamu," aku Tama.


"Dulu bisa puasa satu tahun, Mas ... apa enggak nyut-nyutan tuh dulu?" tanyanya.


"Ya, mau gimana lagi ... tidak ada untuk menyalurkan hasratku, Yang. Jadi, menunggu mimpi saja, asal sudah keluar dan basah, ya sudah. Sudah sembuh pusingnya," balas Tama.


Anaya beringsut dan menatap wajah suaminya itu, "Kasihan banget sih ... padahal aku pernah baca katanya pria kalau tidak keluar gitu bisa pusing loh Mas. Berarti kamu hebat dong karena bisa menahan satu tahun dan hanya menunggu mimpi. Lagian mimpi juga tidak setiap hari kan?" tanyanya.

__ADS_1


"Enggak lah ... belum tentu seminggu satu kali, Yang," aku Tama dengan tertawa.


Anaya mengusap sisi wajah suaminya, "Kamu pria yang lembut ... baik ... tanggung jawab. Doaku nanti kalau dewasa Charel akan tumbuh seperti kamu, memiliki karakter yang baik seperti kamu," ucap Anaya.


"Amin ... semoga saja. Lebih baik dari Papanya juga lebih bagus," balas Tama.


Anaya menganggukkan kepalanya perlahan, dan kembali beringsut kali ini, dia hendak menghabiskan minuman cokelat itu dan kemudian hendak turun dan mengembalikan cangkir kotor itu ke dapur.


"Mau ke mana?" tanya Tama dengan cepat.


"Mau ke dapur dulu, cuma nyuci cangkir ini saja kok."


Tama segera turun dari ranjangnya lagi, "Sini, biar saku saja Sayang ... kamu istirahat saja."


Tama mengambil cangkir di tangan Anaya kemudian pria itu kembali keluar dari kamar. Tidak masalah untuk melayani istrinya karena Tama tahu seharian penuh Anaya juga sudah mengasuh tiga anaknya di rumah. Pekerjaan menjadi Ibu rumah tangga itu justru tidak ada waktu jeda. Tidak ada waktu libur. Di saat para suami libur bekerja di akhir pekan, para Ibu tidak mengenal libur. Jika bisa bergantian dengan istri dan memberikan perhatian bagi sang istri, justru itu akan sangat baik.


Usai kembali ke kamar, Tama kembali tersenyum dan berbaring di sisi Anaya, "Mau bobok sekarang atau nanti Sayang? Sudah malam," ucapnya.


Anaya pun segera berbaring, mengambil posisi favoritnya, yaitu menyandarkan kepalanya di antara lengan dan dada suaminya itu. Tangannya melingkari pinggang Tama, dan menghirupi aroma woody yang lembut dan menenangkan dari tubuh Tama.


“Mas,” panggil Anaya kepada suaminya itu.


“Hmm, iya Sayang,” balas Tama.


"I Love U ... aku cinta kamu, Sangat! Terima kasih sudah menjadi sosok suami yang selalu mengisi kekuranganku, menguatkan aku di titik terendahku, dan bersikap sangat lembut kepadaku. Kamu itu definisi Suami Gentleman deh," ucap Anaya.


"I Love U too, My Love ... aku hanya berusaha menjadi pendampingmu, Sayang. Mendampingi di kala susah dan senang, di kala sehat dan sakit. Mendampingi ketika kita ada di titik terendah dan bangkit bersama-sama. Itulah arti yang sebenarnya dari seorang pasangan hidup. Selalu dampingi aku dan menualah bersamaku ya Sayang," balas Tama.


"Kalau aku sudah tua, apa kamu masih tertarik sama aku Mas?" tanya Anaya kemudian.


Tama sedikit tertawa di sana, "Selalu tertarik, nanti kalau aku puber kedua siap-siap saja aku ajak olahraga malam terus-menerus," goda Tama.

__ADS_1


Anaya pun turut terkekeh geli di sana, "Apa aku masih kuat Mas? Sekarang saja sudah lemes," balasnya.


"Sekuat kamu saja Sayang ... aku yang handle juga tidak masalah. Intinya siap-siap saja. Kamu mau muda, mau tua, aku selalu butuh kamu. Anayaku," balas Tama dengan mendekap tubuh istrinya.


__ADS_2