
Tama rasanya sampai kehilangan kata-kata dengan peliknya hidup Anaya. Tama benar-benar tak mengira bahwa apa yang dialami oleh Anaya begitu peliknya. Tama mendengar semua kata demi kata yang Anaya ucapkan, Tama melihat air mata Anaya yang jatuh. Namun, di kala air mata itu terus menetes, Anaya masih berusaha untuk tersenyum. Sepenuhnya, Tama tahu bahwa itu adalah senyuman yang begitu getir. Di kala hati terasa sakit dan sesak, wajah justru masih berusaha untuk tersenyum. Tama kemudian sekilas menatap Anaya.
"Sabar ya Ay," ucap Tama.
Mungkin itu adalah satu-satunya kata yang bisa Tama ucapkan. Ya, kata 'sabar'. Menekankan pada diri sendiri untuk sabar dan menunggu. Sebab, tak selamanya cobaan akan mendatangi hidup manusia dengan bertubi-tubi. Sedikit kesabaran bisa menangkal bencana. Sedikit kesabaran bisa membuat orang untuk melihat apa makna yang sedang Tuhan sampaikan.
"Iya, Tama ... aduh, jadi nangis-nangis gini kan. Makasih banyak yah, sudah mendengar ceritaku," balas Anaya.
Tama yang melihat Anaya pun menghela nafas, dia benar-benar merasa simpati pada Anaya kali ini. Cara apa yang bisa dia lakukan untuk bisa menenangkan Anaya dan juga menghapus air mata wanita itu.
"Tuhan memberikan cobaan yang tidak melebihi akal dan kekuatan kita, saat kita menerima cobaan dari Tuhan justru kamu kian dikuatkan. Semua ada hikmahnya untuk perkara demi perkara yang terjadi dalam hidupmu," balas Tama.
"Iya ... semoga saja. Hanya saja, aku tidak bisa memahaminya. Aku terlalu sibuk untuk menyembuhkan luka di hatiku sendiri. Sampai aku lupa untuk melihat apa yang sebenarnya sedang Tuhan nyatanya. Hanya saja, di kala aku mulai stabil dan sehat secara mental, Reyhan kembali datang. Untuk apa lagi coba? Mengatakan ingin mengesahkan pernikahan. Bukankah sebagai wanita, aku ini tidak ada harganya. Mahkotaku direnggut, dinikahi di bawah tangan, dan juga menjadi seorang Ibu pun hanya bertahan beberapa jam saja," ucap Anaya sembari berde-sah karena memang luka dan duka yang dia hadapi benar-benar berat.
"Dulu dia membuang aku begitu saja, sekarang dia kembali datang. Ketika luka di hatiku nyaris saja kering, dan dia kembali datang dan menggaraminya. Bagaimana bisa seorang pria berbuat seperti itu. Seorang pria dipercaya karena ucapannya, dia yang pergi sekian lama darimu, dia yang pernah meragukan anak dalam kandunganmu, dan kemudian dia kembali datang dan meminta maaf, meminta untuk mencatatkan pernikahan secara resmi," balas Anaya.
"Sabar ya Aya ... aku tahu bahwa semua yang kamu alami sungguh berat. Aku tahu itu," balas Tama.
Rasa simpati itu datang dan tumbuh dengan sendirinya dalam hati Tama. Rasa simpati karena Tama juga pernah sama-sama kehilangan seperti Anaya. Kehilangan yang sejujurnya membuat Tama juga tidak bisa bangkit. Kakinya seolah kehilangan otot-ototnya, sekadar bangkit dan berdiri pun susah. Namun, Citra lah yang membuat Tama untuk kembali bangkit. Tidak seketika, tetapi Tama sendiri juga membutuhkan waktu untuk bangkit.
Setelah enam bulan berlalu, apakah hidup Tama sudah baik-baik saja? Belum. Ya, belum sepenuhnya baik-baik saja. Ada kalanya mimpi buruk datang, kenangan ditinggal Cellia, kenangan mengemubikan jenazah istrinya itu, dan melantunkan Yasin untuk almarhumah masih Tama lakukan. Ada hari di mana duka itu benar-benar menghantam, membuat keringat dingin mengucur begitu saja, membuat tubuh kembali lemah. Akan tetapi, ketika Tama melihat wajah Citra, dia diingatkan untuk bangkit.
__ADS_1
"Kamu sendiri, apa kamu sudah baik-baik saja sekarang Tam?" tanya Anaya kemudian.
"Ya, aku hanya mencoba bersabar dan bertahan. Jujur saja, ada kalanya aku rapuh, aku kandas, tetapi jika aku membiarkan diriku jatuh dalam lautan luka dalam, bisa-bisa lumpur hidup akan menelanku. Aku akan bangkit dan membakar kembali semangat hidupku untuk Citra. Orang tua tunggal harus memiliki ketahanan ekstra, Ay ... sama seperti kata pepatah bahwa orang tua tidak takut kehilangan nyawanya untuk anaknya, tetapi yang mereka takutkan adalah ketika mereka telah tiada dan meninggalkan anaknya seorang diri. Itu ketakutanku, Ay ... jika aku terus-menerus bersedih dan tidak memiliki harapan hidup, bagaimana dengan Citra? Dia hanya memiliki aku sebagai Papa tunggal untuknya," balas Tama.
Ungkapan dan pengakuan yang teramat sesak. Namun, begitu adanya. Tama berusaha bersabar dan bertahan itu semua adalah untuk Citra. Wajah cantik anaknya, senyuman hangat Citra, dan pegangan tangannya yang mungil, tatapan matanya yang begitu bening, seolah menjadi pelipur lara untuk Tama. Memberi Tama tambahan ekstra untuk bersabar.
"Tuh, makanya aku salut banget padamu, Tama ... kamu hebat," balas Anaya dengan terisak.
Jujur, Anaya benar-benar salut. Mungkin Tama ini adalah gambaran Papanya ketika masih muda dulu. Berusaha untuk bangkit dan menjadi single daddy di usia yang masih muda. Berusaha bersabar dan bertahan untuk putrinya tercinta, dan menapaki hidup dengan semangat yang baru. Sungguh, Anaya begitu salut dengan sosok Tama.
"Kamu bisa saja ... justru, aku yang salut banget sama kamu. Kamu bisa menahan semuanya, kehilangan bertubi-tubi dalam waktu yang relatif singkat, bahkan sekarang saja kamu harusnya masih di rumah dan istirahat, tetapi kamu sudah bela-belain untuk ke sini. Makasih banyak Anaya ... kamu adalah wanita yang baik, sangat baik untuk Citra. Terima kasih," ucapnya.
Entah berapa lama, keduanya diam sejenak. Mengurai kata-kata yang mungkin bisa mereka susun dan ucapkan kembali. Namun, masih ada linangan air mata di wajah Anaya. Air mata yang mengisyaratkan kelegaannya karena sudah bisa berbagi beban hidupnya kepada Tama.
Tama kemudian sedikit beringsut, menggeser duduk sejenak dan mendekat kepada Anaya.
"Aya, boleh aku melakukan sesuatu?" tanya Tama dengan tiba-tiba.
"Hmm, apa?" tanya Anaya dengan bingung tentunya.
Tama menghela nafas, tak bisa menjawab dan mengatakan apa yang hendak dia lakukan, tetapi dengan cepat pria itu sudah memeluk Anaya. Ya, sebuah pelukan yang direspons bingung dan kaget, sampai rasanya Anaya menjadi terkesiap karenanya.
__ADS_1
Kedua tangan Anaya pun luruh, tak bisa membalas pelukan yang Tama berikan kepadanya. Ini adalah pelukan dari orang lain, selain Ayahnya untuk kali pertama bagi Anaya dalam kurun waktu hampir satu setengah tahun ini. Anaya terisak, sementara tangan Tama yang mulai memberikan usapan di kepala Anaya. Usapan yang membelai lembut helaian rambut di kepala Anaya itu.
"Terima kasih sudah berbagi denganku ... terima kasih sudah percaya dan mempercayakan kisah pelik di hidupmu itu kepadaku ... aku harap usai ini mendung gelap dan pelangi tanpa rona itu akan lenyap dalam hidupmu. Kamu sudah melakukan yang terbaik, Aya ... kamu sudah berjuang dan bertahan dengan sangat baik."
Tama mengatakan semua kata-kata itu dengan tulus dari hatinya. Rasanya dipercaya oleh orang lain begitu menyenangkan. Sampai Tama berdoa pula untuk Anaya semoga hari yang bahagia akan segera datang dan menghampiri Anaya. Hari-hari penuh duka dan air mata akan sepenuhnya berlalu.
"Tama ... hiks ...."
Nyatanya Anaya justru kian terisak, bukan hanya karena pelukan Tama, tetapi juga setiap kata yang baru saja diucapkan Tama benar-benar terasa menyentuh hatinya. Anaya pun mengamini bahwa mendung gelap dan pelangi tanpa rona itu akan lenyap dalam hidupnya. Anaya juga ingin bahagia.
Tama masih betah memeluk Anaya, dan memberikan usapan di kepala wanita itu. Bahkan Tama memejamkan matanya. Di saat semua kata dan ucapan semangat begitu banyak terucap, maka jurus ampuh untuk turut bersimpati dalam duka orang lain adalah dengan memeluknya.
Mungkin lebih dari lima menit pelukan itu terjadi, yang mengurai pelukan itu bukan Tama atau Anaya, tetapi Citra yang terbangun dan menangis. Sehingga refleks, Tama menghela nafas berat dan mulai mengurai tangannya yang semula memeluk Anaya.
Jika tadi pelukan berdua terasa nyaman, kini justru ketika dekap hangat pelukan itu terlepas. Keduanya kembali sama-sama canggung. Anaya yang menundukkan wajahnya dan menelisipkan rambutnya ke belakang telinga. Sementara Tama yang segera berdiri untuk menggendong Citra.
"Citra sudah bangun yah?" tanya Tama yang sudah menimang Citra.
Namun, tangisan Citra belum juga reda. Bayi itu masih saja menangis. Kemudian Anaya pun berdiri dan membuka kedua tangannya.
"Sini ... Citra biar sama aku. Mungkin dia haus, aku berikan ASI dulu buat Citra yah," ucap Anaya yang tidak berani menatap wajah Tama.
__ADS_1
Tama pun menganggukkan kepalanya secara samar, "Iya ... ya sudah, aku keluar yah ... Aya, makasih banyak yah," ucap Tama dengan tiba-tiba dan menyerahkan putri kecilnya itu kepada Anaya.
Rasa simpati untuk kisah dan pengalaman terpelik bagi keduanya, menghadirkan sebuah pelukan secara spontanitas. Hanya saja, semua kembali menjadi canggung saat pelukan telah terlepas. Lantas, kemana kisah ini akan berlabuh? Benarkah perasaan yang tumbuh secara perlahan bisa menyembuhkan luka?