
Pernikahan Anaya dan Tama dikonsep langsung oleh Ayah Tendean. Hingga kurang lebih jam 14.00, seluruh rangkaian acara telah selesai. Tujuan Ayah Tendean memilih akad di pagi hari dan dilanjutkan dengan resepsi tentu supaya kedua pengantin itu sama-sama memiliki waktu untuk istirahat di malam hari. Jika kebanyakan orang memilih menggelar resepsi di malam hari, tetapi tidak bagi Ayah Tendean yang memilih resepsi berlangsung di siang hari.
"Akhirnya selesai juga. Sekarang kalian bisa istirahat," ucap Ayah Tendean yang tampak lega dan bahagia karena bisa menikahkan putrinya dengan pria yang baik di mata Ayah Tendean.
"Citra bagaimana Ayah?"
Kini justru Anaya yang mengkhawatirkan bagaimana Citra nantinya. Jujur saja, Anaya juga bingung jika harus meninggalkan Anaya untuk menginap bersama Papanya Citra. Bisa saja nanti Citra rewel sepanjang malam.
"Sudah, tenang saja Anaya. Ada Mama yang akan jaga Citra. Enjoy this time yah. Tama, titip Anaya yah. Tidak usah memikirkan Citra, beri waktu untuk kalian berdua terlebih dahulu," balas Mama Rina.
Mama Rina, Papa Budi, Ayah Tendean, dan Citra pun berpamitan untuk pulang. Sementara Anaya dan Tama benar-benar ditinggal di hotel itu. Terlihat Anaya yang tampak begitu bingung dan canggung tentunya. Jika ada Citra, tentu Anaya tidak akan sekikuk ini. Namun, sekarang hanya berdua dengan Tama dengan status mereka yang sepenuhnya berubah tentu membuat Anaya gugup setengah mati.
Rupanya Tama segera mengulurkan tangannya, hendak menggandeng tangan Anaya. "Sini tangan kamu, kita istirahat dulu yah," ucap Tama.
Saat tangan Anaya bertaut di atas tangannya, dengan segera Tama menggenggam tangan itu, membawa sang pengantin wanitanya menuju kamar pengantin baru yang sudah disiapkan oleh Ayah Tendean untuk mereka berdua di hotel yang sama dengan berlangsungnya akad dan resepsi pernikahan.
Perlahan, tapi pasti Tama membawa Anaya untuk menaiki lift, menuju ke lantai 17, tempat di mana kamar mereka berada. Tentu saja, kali pertama menempati kamar hotel dengan beberapa bunga mawar merah yang sudah menghiasi ranjang pengantin dan juga atmosfer pengantin baru membuat Anaya yang merasa tegang. Mungkin Tama tidak begitu tegang karena Tama pernah menikah dengan wanita yang dia cintai, melakukan ritual demi ritual pengantin baru. Namun, semua itu tidak berlaku bagi Anaya yang kehormatannya direnggut secara paksa dan kemudian hanya kesedihan mendalam saja yang tersisa. Sehingga ini bagaimana pun menjadi pengalaman pertama bagi Anaya.
"Aku bersih-bersih dan mandi dulu ya Mas," pamit Anaya kepada suaminya itu. Sekadar pamit ingin mandi saja membuat Anaya merasa malu.
"Iya, bersih-bersih dulu saja biar capeknya hilang," balas Tama.
Mungkin satu jam pertama di dalam kamar hotel itu benar-benar dihabiskan keduanya untuk bergantian membersihkan diri. Menjelang sore, barulah keduanya bisa duduk bersama di sofa yang ada di sudut hotel itu. Tama yang keluar dari kamar mandi segera mengambil tempat duduk di samping Anaya.
"Kenapa, ada pesan yang masuk?" tanya Tama karena saat itu Anaya tampak berkutat dengan handphonenya.
“Ehm, enggak sih … lihat foto kita tadi. Ini ada beberapa file yang dikirimi sama Ayah,” balas Anaya.
__ADS_1
Kali ini memang Anaya melihat foto saat Tama mengucapkan akad. Sungguh ikrar itu seolah masih terngiang-ngiang di telinga Anaya.
"Kirimin aku fotonya juga yah ... yang ini bagus, Ay," balas Tama dengan sedikit mendekatkan wajahnya hingga wajah Tama begitu dekat dengan Anaya. Bahkan tidak ada jarak sejengkal saja.
"Iya, aku kirimkan yah," balasnya.
Papa mengernyitkan keningnya saat melihat nama kontaknya di dalam handphone Anaya. Kemudian Tama pun bersuara, "Namaku di handphone kamu Papanya Citra?" tanyanya.
Anaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Iya ... sejak dulu nama kamu di handphone aku ini. Kan benar, kamu Papanya Citra," balas Anaya.
"Diganti suaminya Anaya juga boleh," balas Tama kemudian.
Lagi Tama mengulurkan tangannya dan kemudian meminta handphone Anaya itu di tangannya. Begitu handphone sudah dia pegang, kemudian Tama mengganti namanya di buku telepon milik Anaya.
"My Hubby ... gini saja," balasnya.
"Kan benar ... aku suami kamu. Ikhlas enggak kalau aku ganti ini?" tanya Tama.
"Ya sudah, boleh," balas Anaya pada akhirnya.
Kini Tama beringsut, mendekatkan duduknya dekat dengan Anaya. Lengannya pun dia angkat dan segera merangkul bahu Anaya di sana, Tama juga beberapa kali menelisipkan untaian rambut Anaya yang diam-diam malu itu ke belakang telinga dan kemudian Tama mendekatkan wajahnya, pria itu melabuhkan bibirnya di pipi Anaya.
Chup!
Sentuhan dari permukaan bibir Tama yang mengenai pipinya tentu saja membuat Anaya meremang. Wanita itu sampai sedikit mengedikkan bahunya karena refleks dengan kecupan yang mendarat di pipinya.
"Terima kasih Anaya Sayang ... sudah menerima aku. Kali ini, sudah tidak ada lagi predikat janda dan duda. Kali ini, yang ada hanyalah kita ... Anaya dan Tama. Aku sangat bahagia. Kamu sendiri bahagia tidak?" tanya Tama kemudian.
__ADS_1
"Iya, aku juga sangat bahagia," balas Anaya pada akhirnya.
Tangan Tama dengan cepat membelai sisi wajah Anaya dan kemudian pria itu sedikit memajukan wajahnya, sepasang mata yang semula menatap wajah Anaya, kini retina matanya menatap bibir Anaya yang berwarna pink muda tanpa sapuan lipstik itu.
Ditatap dengan begitu intens, dan juga dalam posisi yang sedekat ini membuat Anaya benar-benar salah tingkah dibuatnya. Anaya yakin seratus persen bahwa jantung sekarang berdebar dengan begitu kencangnya.
"Anaya, Istriku ... maukah kamu merenda kasih bersamaku?" tanya Tama terlebih dahulu kepada Tama.
Tentu saja merenda kasih adalah sebuah ungkapan tersirat yang saat ini diucapkan oleh Tama. Sungguh, Anaya bingung juga harus memberikan jawaban seperti apa.
"Sakit tidak?" tanya Anaya kemudian.
Mungkin dia terlalu naif, tetapi efek obat tidur yang dulu diberikannya kepadanya, membuat Anaya sama sekali tidak bisa merasakan bagaimana itu hubungan antara pria yang wanita. Saat dia sadar yang tersisa hanya kepedihan, perih di pangkal paha, dan juga noda merah yang berada di sprei kamar hotel itu. Tidak ada lagi yang Anaya ingat saat itu.
"Tidak ... pelan-pelan saja. Kamu mau dan percaya kepadaku?" tanya Tama lagi.
"Kalau sakit, boleh berhenti?" tanya Anaya lagi kepada Tama.
Tama pun menganggukkan kepalanya, dan segera membawa Anaya dalam pelukannya. "Iya, aku akan berhenti ... aku tidak akan menyakiti kamu," balas Tama dengan sungguh-sungguh.
***
Dear Bestie,
Lanjut atau terus nih?
Wkwkwkw :D
__ADS_1