Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Pertimbangan Memilih Sekolah untuk Citra


__ADS_3

Dengan semakin bertambahnya bulan, bukan hanya Anaya yang dikejar deadline untuk menyelesaikan Thesisnya. Akan tetapi, sekarang juga sudah waktunya bagi Anaya dan Tama untuk mencarikan sekolah untuk Citra. Seperti keinginan Citra untuk sekolah beberapa bulan yang lalu. Kini, Anaya dan Tama sedang mengobrol bersama dan juga mempertimbangkan sekolah yang bagus untuk Citra.


"Sudah waktunya mencari sekolah untuk Citra loh Mas ... kamu ada pertimbangan khusus enggak?" tanya Anaya kepada suaminya itu.


Tama yang sekarang sedang sibuk dengan tablet di tangannya, begitu mendengarkan Anaya berbicara, mulailah Tama menutup tablet itu, dan beringsut untuk bisa menatap wajah Anaya. "Sudah waktunya cari sekolah yah?" tanya Tama.


"Benar Mas ... ya, memang sekolahnya masih beberapa bulan lagi, tetapi kan mencarinya dimulai dari sekarang. Pendaftaran pun per gelombang. Kian mendekati bulan masuk sekolah, biasanya akan lebih mahal," jelas Anaya kepada suaminya.


Barulah Tama sadar, memang sekarang pendaftaran ke sekolah itu dimulai beberapa bulan, bahkan setengah tahun sebelum tahun ajaran baru dimulai. Situasi ini tentu berbeda dengan Tama waktu kecil dulu, di mana dia mendaftar sekolah tentunya menjelang tahun ajaran baru.


"Baru inget, Sayang ... makanya aku bingung. Dulu kan waktu aku masih kecil, mencari sekolahnya yang menjelang pembukaan Tahun Ajaran Baru. Sekarang kurang setengah tahun sudah penerimaan siswa baru yah," balas Tama.


"Benar banget Mas ... makanya itu, kita harus mulai memilih sekolah untuk Citra. Kamu maunya sekolah yang seperti apa?" tanya Anaya lagi.


Tama tampak berpikir. Menimbang-nimbang dan tentunya ingin sekolah juga baik juga untuk Citra. Setidaknya pendidikan usia dini adalah menjadi pijakan untuk Citra menuju pendidikan dasar nanti, sehingga Tama berpikirnya Citra sekolah yang bisa mengasah kemampuan Citra baik secara motorik dan sensorik.


"Sekolah yang bagus, Sayang ... setidaknya tempat sekolahnya bagus dan bersih, guru-gurunya bisa berkolaborasi dengan anak dan juga memicu anak untuk giat belajar dan mengembangkan motorik dan sensoriknya, juga yang tidak terlalu jauh dari rumah," balas Tama.


"Kalau sekolah yang bagus, agak mahal tidak apa-apa Mas?" tanya Anaya.


Berbicara tentang mencari sekolah sekarang juga berbicara dengan biaya. Semakin bagus, biasanya akan semakin mahal. Baik itu pendaftaran, uang masuk, dan juga uang bulanan.


"Kalau aku sih tidak apa-apa, Yang ... kan yang penting Citra dapat berkembang di sana. Tidak hanya secara kognitif, tapi juga sosialnya juga. Belajar berteman, memecahkan masalah, dan juga nilai-nilai kesopanan yang akan diberikan di sekolah," balas Tama.

__ADS_1


Anaya pun menganggukkan kepalanya, dan kemudian menyerahkan beberapa brosur yang dia miliki. Dia menyerahkannya kepada Tama dan meminta Tama untuk melihat dulu dan mempertimbangkannya.


"Ini ada beberapa brosur Mas ... coba lihat dulu saja. Kalau nanti sudah ada yang sesuai dengan keinginan kita, baru deh kita mendaftarkan Citra ke sana," balas Anaya.


"Kalau kamu sendiri, dari semua brosur ini kamu setuju yang mana Sayang?" tanya Tama.


Anaya pun melihat beberapa brosur di sana, dan kemudian memberikan satu brosur kepada Tama. "Ini sih Mas ... aku sudah browsing dan juga kurikulumnya bagus. Ada satu hari di mana anak-anak akan diajar untuk menggunakan bahasa Inggris. Selain itu lokasinya strategis dan tidak jauh dari rumah. Hanya 15 menit saja dari rumah. Fasilitas belajar juga bagus, soalnya aku mau Citra bertumbuh dari segi motorik, sosial, bahasa, kognitif, dan emosionalnya," jelas Anaya.


Tama kemudian melihat brosur yang diberikan istrinya itu. Dia melihat berapa uang pendaftaran, uang masuk, dan uang bulanan nantinya. Memang terlihat dari brosurnya saja sekolah yang dipilih Anaya lebih baik dibanding sekolah yang lain.


"Cuma memang agak mahal sih Mas," ucap Anaya lagi melanjutkan informasi yang harus diketahui oleh Tama.


"Ya, sekolah di Jakarta sekarang mahal, Sayang ... untuk SD nanti ada SD Negeri kalau mau. Sementara untuk PAUD ya dicarikan yang bagus dulu," balas Tama.


"Oke sekolah yang ini saja, Sayang ... nanti kapan hari kita ajak Citra untuk mendaftar. Biar dia tahu sekolahnya, dan juga senang untuk sekolah," balas Tama.


"Iya, memang anak dilibatkan dari awal. Diajak mendaftar, biar senang dan punya imajinasi bagaimana sekolah itu nanti. Semoga saja, Citra senang dan semangat untuk sekolah," balas Anaya.


Tama pun tersenyum, setelah mempertimbangkan akhirnya ada satu sekolah yang dipilih untuk keduanya. Kemudian Tama menatap Anaya yang duduk di sampingnya, "Untuk pendidikan Citra jangan memikirkan dananya. Sejak Citra lahir, aku sudah mengalokasikan dana khusus dari gaji bulananku untuk Citra. Nanti dipakai untuk sekolahnya dia," balas Tama.


"Masak?" tanya Anaya.


"Iya Sayang ... aku dulu menguruskan tabungan Junior untuk Citra kok. Aku sudah menguruskan untuk Charel dan Charla juga," balas Tama.

__ADS_1


Pria itu akhirnya berdiri dan mengambil sesuatu dari almari penyimpanannya berupa tiga buah buku tabungan dan memberikannya kepada Anaya.


"Ini Sayang ... untuk dana pendidikan ketiga anak kita. Untuk Charel dan Charla tentu jumlahnya masih sedikit karena dia masih kecil, nanti pelan-pelan akan bertambah," ucap Tama.


Melihat saldo di buku tabungan itu, Anaya pun tersenyum. "Kamu kok bisa ngurusin kayak gini sih Mas? Padahal dulu waktu Citra bayi kan kamu sedang berduka," balas Anaya.


"Oh, itu kolektif dari perusahaan kok Sayang ... jadi dibuatkan perusahaan. Ada fasilitas dibuatkan tabungan untuk anak-anak, cuma yang setor ya kita sendiri. Jadi, gaji bulananku dipotong untuk tabungan pendidikan ketiga anak kita," balas Tama.


"Iya Mas ... tidak apa-apa. Toh yang aku berikan kepadaku setiap bulannya juga masih banyak menyentuh dua digit setiap bulannya," balas Anaya.


Tama pun tersenyum di sana, "Ya, itu kan buat kamu ... mau kamu alokasikan untuk apa saja, terserah kamu, Yang ... selain itu aku ada bermain saham. Ya, tidak banyak ... tapi nanti bisa dimanfaatkan bersama," balas Tama.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, "50% dari uang yang kamu berikan setiap bulannya juga masuk ke tabungan. Uang belajar dari beasiswa kuliah juga ada. Ya, setidaknya kita harus punya dana darurat juga Mas," balas Anaya.


"Iya, benar banget Sayang ... istri itu kalau bisa nabung, pinter Sayang. Walau sehari seribu rupiah tidak apa-apa. Sedikit-sedikit kan lama-lama menjadi bukit," balas Tama.


Jujur di dalam hatinya, dia bangga karena Anaya bisa menabung. Semua uang yang dia berikan setiap bulan dialokasikan dengan tepat itu membuat Tama merasa lega.


"Nabung dulu Mas ... sapa tahu nanti usai lulus kuliah, aku pengen punya sekolah anak. Udah bisa jalan, dengan mengajak serta Bunda Dian dan juga Kak Khaira. Mereka yang expert di pendidikan anak. Cuma nanti, itu jangka panjang saja," balas Anaya.


"Apa pun rencanamu asalkan itu baik, tentu saja aku mendukungnya, Sayang ... sama seperti penelitian Thesismu, aku juga ingin kamu menyalurkan minat dan bakatmu," balas Tama.


Anaya pun tersenyum, dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu. Senang jika disupport penuh oleh suami sendiri. Selain itu, juga ada rencana jangka panjang yang Anaya miliki. Semoga saja nanti dengan pelan-pelan semuanya bisa diwujudkan.

__ADS_1


__ADS_2