Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Pria yang Datang Tiba-Tiba


__ADS_3

Tama yang berdiri di hadapan Anaya tampak gelagapan ingin menanyakan sesuatu yang lebih privasi kepada Anaya. Jika Anaya terlihat santai, bahkan wanita itu kini tersenyum, berbeda dengan Tama yang justru menundukkan wajahnya, dan juga tampak resah.


"Lain kali saja, maaf yah," balas Tama.


Kali ini memang lebih baik Tama mengurungkan niatnya. Sebab, dia belum memiliki keberanian untuk bertanya yang sifatnya lebih privasi. Ada rasa takut juga jika Anaya tersinggung.


"Tanya sekarang enggak apa-apa kok," sahut Anaya.


"Tapi boleh kamu jawab atau tidak," balas Tama. Tama menghela nafas sepenuh dada, "Begini ... di mana ...."


"Permisi!"


Belum sempat pertanyaan Tama terucap, sudah ada orang yang datang ke rumah dan meneriakkan kata permisi. Tama memejamkan matanya sesaat kemudian menatap wajah Anaya sekilas.


"Lain kali saja," balas Tama.


"Permisi!"


Lagi-lagi teriakan permisi di depan rumah yang kali ini lebih keras. Sehingga membuat Tama harus segera melihat ke depan siapa yang datang bertamu ke rumahnya.


"Aku lihat ke depan dulu," pamit Tama pada akhirnya.


Tama segera keluar dari rumahnya, membuka pintu, dan kemudian melihat di depan gerbang rumahnya ada seorang pria yang berdiri tepat di depan gerbang rumahnya, dengan mobil Range Rover berwarna hitam yang berhenti di depan rumahnya.


"Siapa yah?" tanya Tama karena memang merasa tidak mengenali pria tersebut.


"Permisi, benarkah ini rumah Bu Rina?" tanya pria yang usianya mungkin beberapa tahun lebih tua dari Tama itu.


"Iya, benar," jawab Tama.


"Oh, begini ... perkenalkan saya Reyhan, saya datang untuk mencari Anaya. Tadi, saya ke rumahnya dan ART di sana memberikan alamat ini kepada saya," ucap pria yang berpostur tubuh tegap itu.


"Anda siapanya Anaya?" tanya Tama lagi.


Saat pria bernama Reyhan itu hendak menjawab, rupanya Anaya keluar dari pintu rumah Tama dan menggendong Citra.

__ADS_1


"Tama, Citra nangis lagi ...."


Namun, ucapan Anaya pun terhenti. Wanita itu menatap sosok pria yang tentunya dia kenali. Jantung Anaya berpacu, berdebar-debar rasanya, tetapi di saat bersamaan justru Anaya merasakan dada yang begitu sesak.


"Anaya, dia datang mencarimu," ucap Tama.


Namun, Anaya menggelengkan kepalanya. Dengan mata yang sudah berembun, Anaya memilih masuk kembali ke dalam rumah. Rasanya tak ingin untuk menemui pria bernama Reyhan itu.


"An ... Ana, dengarkan aku, An," teriak Reyhan yang menyerobot masuk dan hendak mengejar Anaya itu.


Akan tetapi, Tama pun dengan sigap menahan tubuh Reyhan. "Maaf, kelihatannya Anaya belum mau berbicara dengan Anda. Tolong, tunggu di sini saja ... aku akan memberitahu kepada Anaya," ucap Tama.


Reyhan mengangguk, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, dan memilih menunggu di luar rumah. Sementara Tama pun masuk kembali ke dalam rumah, dan melihat Anaya yang duduk di sofa dengan masih menimang Citra.


"Ay, dia ingin bertemu denganmu," ucap Tama.


Setidaknya Tama pun ingin memberitahukan kepada Anaya bahwa ada Reyhan di luar yang ingin bertemu dengannya.


Dalam diamnya rupanya Anaya menangis kali ini. Air matanya tumpah begitu saja. Tama menghela nafas, sedikit menyerongkan duduknya guna bisa menatap wajah Anaya.


Anaya masih belum memberikan jawaban. Wanita itu masih menangis, Tama kemudian membuka tangan, dan meminta Citra dari gendongan Anaya.


"Citra ikut Papa dulu yah, Onty Aya baru menangis. Ya sudah, kamu tenangkan dirimu dulu ... kalau sudah temuilah dia. Dia masih menunggumu di luar," ucap Tama.


"Aku gak mau ketemu dia," sahut Anaya dengan singkat.


Tama bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya terjadi sampai Anaya menjadi menangis seperti ini. Bahkan sebelumnya Anaya bisa tersenyum dan ceria bersama dengan Citra. Hanya karena melihat wajah pria itu saja, Anaya sudah menangis seperti ini. Tama menerka bahwa mungkin pria itu memiliki hubungan khusus dengan Anaya.


Sudah beberapa menit waktu berlalu, dan akhirnya Reyhan yang merasa tidak sabar, mencoba mengetuk-etuk pintu rumah Tama.


"Anaya, keluar Anaya ... kita harus berbicara," teriak Reyhan.


"Jika kamu tidak keluar, aku akan membawamu pergi dari sini," sambung pria itu.


Tama menggelengkan kepalanya, tidak baik berteriak-teriak di tempat seperti ini. Para tetangga bisa mendengar teriakan bernama Reyhan itu. kemudian Tama memilih menidurkan Citra di dalam box bayi miliknya, dan kemudian Tama membuka pintu rumahnya.

__ADS_1


"Anda bisa sopan tidak? Bertamu ke rumah orang itu ada etikanya, tidak teriak-teriak seperti ini," ucap Tama dengan emosi menatap Reyhan.


"Aku mau bertemu Anaya, jangan kamu sembunyikan dia," balas Reyhan.


Tama pun menyeringai dan menatap pria tampan dan berperawakan tegap itu, "Menyembunyikan? Untuk apa aku menyembunyikan Anaya. Lagipula, kamu itu siapanya dia? Kenapa datang dan membuat keributan di sini."


Agaknya Reyhan pun sudah mendidih darahnya, sehingga pria itu mendorong bahu Tama dan merangsek masuk ke dalam rumah Tama guna mencari sosok Anaya berada.


"Biarkan gue masuk!"


"Enggak!"


"Gue yang berhak atas Anaya!" Reyhan kini berteriak dan menegaskan bahwa dirinyalah yang berhak atas Anaya.


"Lo siapanya dia?" tanya Tama yang masih berusaha menahan.


Ketika Reyhan sudah begitu emosi, pria itu mengepalkan tangannya, hendak mendaratkan bogem mentah ke wajah Tama.


"Hentikan Rey!"


Anaya berteriak dari dalam. Wanita itu wajahnya memerah dan begitu sebal dengan kelakuan Reyhan yang begitu tidak mengenal sopan santun.


"Ayo pulang, Ana ... tempatmu bukan di sini," ucap Reyhan yang akhirnya bergerak masuk dan menarik tangan Anaya.


"Enggak ... aku enggak mau pulang sama kamu. Sebaiknya kamu pergi dari sini, Rey. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi," balas Anaya.


"Aku datang dengan hati yang tulus kali ini Anaya. Please, ayo kita pulang ... untuk apa kamu di sini dan mengasuh bayi pria ini?" tanya Reyhan dengan menggelengkan kepalanya.


"Hentikan ucapanmu, Rey ... alih-alih ikut denganmu, aku lebih memilih di sini untuk mengasuh Citra," balas Anaya.


Anaya kemudian berdiri di hadapan Reyhan. "Sebaiknya pergi saja dari sini, Rey ... aku tak sudi ikut denganmu!"


"Untuk orang yang datang dengan tulus, kamu justru mengusirku Ana? Aku datang untuk bertanggung jawab atasmu."


Bak petir di siang bolong, Tama sungguh bingung dengan apa yang terjadi di hadapannya sekarang ini. Pria itu datang untuk bertanggung jawab? Jadi, mungkinkah?

__ADS_1


Oh, Tuhan ... banyak sekali teka-teki mengenai Anaya yang tidak Tama ketahui. Rasanya Tama ingin bertanya semuanya secara langsung kepada Anaya sekarang juga. Mungkinkah yang terjadi pada Anaya, ada sesuatu yang dia pikirkan barusan?


__ADS_2