
Apa jadinya jika perasaan yang lama terpendam di hati, akhirnya baru bisa diungkapkan setelah lebih dari seperempat abad lamanya. Itu yang sekarang dirasakan oleh Ayah Tendean dan Ibu Dianti sekarang. Lega. Itu adalah satu kata yang bisa dirasakan Ayah Tendean dan Ibu Dianti.
Ada Khaira yang meneteskan air matanya, dan ada pula Anaya. Mereka menjadi saksi bagaimana merajut ulang kisah lama yang baru terjeda.
"Terima kasih, Di," ucap Ayah Tendean dengan menitikkan air matanya.
"Sama-sama Mas Dean," balas Ibu Dianti di sana.
Nyatanya Ayah Tendean tidak berani memeluk, hanya berani untuk menggenggam tangan Ibu Dianti yang sekarang ada di dalam genggaman tangannya. Pria paruh baya itu menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan satu tangannya.
"Terima kasih untuk restunya, Anaya," ucap Bu Dianti kemudian kepada Anaya.
Anaya pun berjalan dan kemudian memeluk Ibu Dianti itu. "Terima kasih sudah mau menerima Ayahnya Anaya, Ibu," ucapnya.
"Sama-sama Anaya ... terima kasih untuk semuanya, Anaya," balas Ibu Dianti.
Ketika Anaya dan Bu Dianti masih berpelukan ada Citra yang mendatangi Mamanya. Gadis kecil itu tampak mendatangi Mamanya dan bertanya, "Mama, kok Mama nangis?" tanyanya.
"Iya, Mama bahagia, Kak Citra," jawab Anaya kemudian.
"Citra kira Mama sakit ... jangan sakit ya Ma ... sehat-sehat biar bisa mengasuh Citra dan adik-adik," ucapnya.
Tampak Ibu Dianti tersenyum dan sedikit berlutut untuk bisa mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Citra. "Cucunya Oma yang cantik apa kabar nih?" sapanya dengan membuka kedua tangan untuk memeluk Citra.
Bak gayung bersambut, Citra pun masuk ke dalam pelukan Oma Dianti, "Citra baik, Oma ... cuma tadi sedih karena Mama menangis tadi," jawabnya.
"Mama menangis bahagia kok Sayang ... Citra melihat yah?" tanya Anaya kemudian.
__ADS_1
"Iya, melihat kok Ma," balasnya.
Khaira yang melihat Citra pun tersenyum di sana, "Lucunya Citra ... dia peka ya, Anaya," ucapnya kemudian.
"Benar Bu Khaira ... sangat peka kok," balas Anaya.
Lantas Bu Dianti kemudian berdiri dan berbicara dengan Anaya, "Kamu memanggil Khaira saja Ibu, lalu saya dipanggil Ibu. Panggil Khaira Kakak saja tidak apa-apa, dia seusia suami kamu kan?" tanyanya.
"Benar Ibu ... dulu Bu Khaira satu fakultas dengan Mas Tama," jawab Anaya.
"Panggil Kak atau nama saja boleh Anaya," balas Khaira.
"Kok saya sungkan yah ... sudah terbiasa dengan Bu Dosen," balas Anaya lagi.
"Sudah, ayo ... duduk dulu ... makan dulu. Nanti masakannya keburu dingin," ucap Ayah Tendean.
"Ibu mau makan apa, biar Anaya ambilkan?" tanya Anaya kepada Ibu Dianti.
"Tidak usah Anaya ... Ibu bisa mengambil sendiri kok," balasnya.
"Oma, mau bermain sama Oma dan Opa boleh? Di sana, Opa belikan seluncuran untuk Citra loh Oma," ajak Citra sekarang.
Ibu Dianti pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia mengikuti Citra untuk bermain seluncuran dan bersama dengan Ayah Tendean. Keduanya sudah seperti pasangan Oma dan Opa yang mengasuh cucunya.
"Yeay! Citra senang bisa bermain dengan Oma dan Opa," teriak Citra dengan begitu girang.
"Iya, Citra ... Oma juga senang bisa bermain bersama Citra," balas Oma Dianti.
__ADS_1
"Oma sering-sering main ke sini dong, biar Citra bisa bermain bersama. Oma mau enggak bacakan buku dongeng untuk Citra, yang nama tokohnya Dean itu," ucap Citra dengan tiba-tiba.
Ketika mendengar Citra menyebut salah satu tokoh dalam dongeng cerita anak yang ditulis oleh Oma Dianti dengan nama Dean, kemudian Ayah Tendean melirik ke Dianti. Apakah mungkin banyak pengungkapan perasaan yang disampaikan Dianti dalam sebuah buku ceritanya.
"Boleh Sayang ... nanti Oma bacakan yah," balasnya.
"Kok tokohnya sama namanya Opa yah," sahut Opa Tendean kemudian.
"Iya Opa ... Dean itu juga bercita-cita menjadi Dokter loh seperti Opa," cerita Citra lagi.
Kali ini Bu Dianti memilih untuk diam dan juga sedikit menundukkan wajahnya. Sebenarnya memang ada satu dongeng yang memang anak laki-lakinya bernama Dean. Namun, tidak mengira bahwa kebenaran itu terungkap oleh Citra di depan seorang pria yang juga biasa dipanggil Dean itu.
"Citra ... Opa bisa berbicara?" tanya Opa Tendean kemudian.
"Iyahh ... boleh dong Opa," sahut Citra.
"Kalau Oma Dianti benar-benar menjadi Omanya Citra, Citra mau tidak?" tanyanya.
Citra pun dengan begitu antusias menganggukkan kepalanya dan kemudian menjawab pertanyaan dari Opanya, "Mau ... mau banget Opa. Kan Citra juga pengen punya Oma," balasnya.
"Tidak lama lagi, Oma akan sepenuhnya menjadi Omanya kamu, Sayang," balas Oma Dianti.
"Beneran Oma? Janji?" tanya Citra.
"Iya," balas Oma Dianti lagi.
"Yeay! Terima kasih Oma ... Citra punya Oma dan Opa," teriaknya dengan girang.
__ADS_1
Setidaknya Citra yang sudah bertumbuh dan mengenal kedudukan dan peran orang-orang yang ada di sekitarnya bisa tahu bahwa dia akan memiliki Oma. Gadis kecil itu terlihat begitu senang dan berharap bisa memiliki banyak waktu untuk bisa bermain dengan Oma Dianti.