Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Positif atau Negatif?


__ADS_3

"Pagi nanti aku bangunin yah, kita lakukan testpack dulu," ucap Tama kepada istrinya yang masih berusaha menyeka air matanya itu.


"I ... iya, nanti. Cuma kalau ternyata negatif, jangan kecewa ya Mas?"


"Iya, enggak kecewa. Kalau negatif, aku akan menjadi Petani lagi ya ... menggarap ladang, menyemai benih, sampai membuahkan hasil," balas Tama.


Anaya pun memincingkan matanya, menatap suaminya itu, "Modus ... banyak alasan," sahutnya.


"Bukan modus, kan kerja keras dulu. Biar hasilnya maksimal. Cuma sih, aku merasanya, kamu sudah isi sih, Yang ... kamu akhir-akhirnya selera makannya lebih banyak dan sekarang mellow karena perubahan suasana hati. Fixed, sih kalau menurut aku," balas Tama.


Anaya memilih diam. Benarkah kali ini seperti yang dirasakan suaminya. Akan tetapi, Anaya masih bertumpu pada pengalamannya sebelumnya bahwa dulu ketika dia hamil pasti mual dan muntah. Benar-benar teler, sampai Dokter memberikan pereda mual. Kenapa sekarang, semuanya itu tidak terjadi?


"Udah, tidak usah terlalu dipikirkan. Mau bobo sekarang?" tanya Tama kemudian.


"Iya, tapi dipeluk," balas Anaya dengan sedikit manja.


Tama pun tersenyum, "Sini ... dipeluk Mas Suami kamu tercinta," balasnya dengan menempatkan Anaya di posisi ternyamannya dan menarik selimut untuk menyelimuti tubuh keduanya. Saling memeluk, saling mendekap, dan Tama berharap keesokan harinya, ada berita baik yang akan dia terima dari istrinya itu.


Rupanya sudah berada dalam pelukan Tama, Anaya masih terjaga. Seolah masih ada yang dipikirkan Anaya di sana.


"Gak bisa tidur, Mas ...."


Suara yang lirih itu akhirnya membangunkan Tama kembali. Sehingga Tama kembali membuka kedua matanya dan menatap istrinya itu.


"Kenapa Sayang?" tanyanya.


Anaya menggelengkan kepalanya perlahan, "Enggak apa-apa. Kalau nanti hamil itu, semoga bukan blighted ovum lagi ya Mas ... kok aku malahan takut jadinya."

__ADS_1


Memang empat bulan yang lalu, Anaya pernah positif hamil. Akan tetapi, ketika di-USG yang terjadi adalah embrio yang kosong. Hasilnya, Anaya pun harus melakukan kuretase dan juga disarankan kalaupun ingin hamil menunggu tiga kali periode menstruasi.


"Jangan takut, Sayang ... ada aku, kok. Apa pun yang terjadi kita hadapi bersama-sama. Kan kita juga enggak tahu kali ini positif atau negatif. Jadi, mending test dulu saja," balas Tama.


Anaya menganggukkan kepalanya, kemudian wanita itu kian mencerukkan wajahnya di dada suaminya, dengan satu tangan yang melingkari pinggang suaminya itu. "Ya sudah ... bobok ya Mas. Makasih sudah menguatkan aku. Aku cinta kamu, Mas Suami."


***


Pagi Menjelang ....


Terlelap dalam buaian malam, kini Tama terbangun terlebih dahulu. Fajar pun belum menyingsing, tetapi Tama sudah bangun, dan membangunkan istrinya itu. Mengusapi kepalanya perlahan, menepuk lengan, dan mendaratkan kecupan hangat di kening istrinya itu.


"Sayang ... Sayang, bangun yuk ... jadi enggak," ucap Tama membangunkan istrinya.


Merasa dibangunkan, Anaya pun mengerjap. Wanita itu perlahan-lahan membuka kelopak matanya, dan menatap suaminya. "Hmm, ada apa Mas?" tanyanya.


"Sebentar lima menit lagi ya Mas," balas Anaya dengan masih memeluk suaminya itu.


Tama tersenyum di sana, menunggu sampai istrinya siap. Hingga Anaya kini sudah duduk, dan merapikan rambutnya terlebih dahulu, menguncirnya asal. Kemudian dia hendak menuju ke dalam kamar mandi. Tama juga mengekor istrinya, sebelumnya Tama sudah mengambil testpack dan gelas takar untuk istrinya.


"Ini Sayang," ucapnya memberikan dua benda itu.


"Iya Mas ... aku masuk dulu yah," balas Anaya.


"Mau aku temenin di dalam?" tanya Tama lagi.


Terlihat gelengan samar dari Anaya, "Enggak ... sendiri saja bisa kok, Mas ... malu," balas Anaya dengan tersenyum dan menatap sang suami.

__ADS_1


"Ya sudah, aku tunggu di sini yah ... intinya ditest dulu saja. Positif atau negatif sih tidak masalah bagiku. Jangan merasa terbebani," ucap Tama lagi.


Anaya pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membuang urine dan sedikit menampung di dalam gelas takar. Kemudian dia memasukkan benda pipih itu ke dalam gelas takar, menunggu sesaat.


Dalam penantiannya, Anaya terlihat cemas. Walau pun bukan kali pertama dia melakukan uji percobaan kimiawi seperti ini, tetapi tetap saja rasanya cemas. Terlebih jika membuat suaminya kecewa, itu yang paling tidak bisa untuk Anaya.


"Sayang ... sudah belum?"


Dari luar Tama sudah mengetuk pintu dan bertanya apakah istrinya di dalam sana sudah menyelesaikan semuanya atau belum. Mungkin Tama yang berada di luar juga harap-harap cemas.


"Sebentar Mas ... belum," jawab Anaya.


Hingga akhirnya benda pipih digital itu berbunyi, tanda sudah selesai untuk uji kimiawi. Anaya sontak menahan nafas dan sudah menitikkan air matanya di sana. Anaya mata yang sudah berembun, Anaya mencuci benda pipih itu terlebih dahulu, kemudian buru-buru untuk keluar dari kamar mandi.


"Mas," ucapnya yang sudah menangis.


Melihat air mata yang membasahi wajah Anaya, Tama pun merasa bahwa mungkin kali ini keinginannya belum dijawab oleh Tuhan. Sehingga Tama menganggukkan kepalanya, dan segera memeluk istrinya itu.


"Sudah, tidak apa-apa. Jangan menangis ... gagal enggak apa-apa, Sayang," ucap Tama yang memeluk dan memberikan usapan di punggung istrinya dengan gerakan telapak tangan yang naik dan turun.


Namun, Anaya justru kian terisak di sana, hingga wanita itu mengurai pelukan Tama dan menyerahkan testpack digital itu kepada suaminya.


"we're going to be parents for our baby."


"Seriously?" balas Tama.


Anaya menganggukkan kepalanya, "Iya ... buah cinta kita berdua. Pak Petani sudah sukses menyemai benihnya," balasnya.

__ADS_1


Tama pun begitu bahagia. Pria itu juga menitikkan air matanya di sana. Kali ini, Tama pun berharap bukan Bligthed Ovum lagi, tetapi istrinya itu benar-benar hamil, embrio dalam rahimnya sehat dan berkembang dengan sempurna.


__ADS_2