Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Pagi yang Terhalang


__ADS_3

Sekarang akan menjadi malam pertama di rumah baru. Rupanya Citra pun bisa mudah beradaptasi itu karena Tama berusaha menghadirkan nuansa di kamar Citra sama persis dengan kamarnya di rumah Mama Rina. Selain itu, box bayi dan segala isinya juga dipindahkan Tama, sehingga ada barang-barang yang familiar untuk Citra.


Bahkan sekarang baru sekitaran jam 19.00 malam dan Citra sudah tampak begitu mengantuk.


"Mas, aku kasih ASI dan nidurin Citra dulu yah," pamit Anaya kepada suaminya itu.


"Di mana Sayang?" tanya Tama kepada istrinya itu.


"Di kamar sebelah, Mas ... di kamarnya Citra, kenapa?" balas Anaya.


"Di sini saja ... biasakan dekat dengan aku," sahut Tama.


Memang ada kalanya Anaya memilih memberikan ASI di dalam kamar Citra. Itu semua karena ada kalanya dia merasa malu dengan Tama. Sudah buka-bukaan pun, Anaya selalu saja malu dengan suaminya sendiri.


"Di sini saja, My Love ... aku temenin," ucap Tama lagi.


Rupanya dengan cepat Anaya menggelengkan kepalanya, "Ogah ah ... masak My Love. Aku kan bukan sprei, Mas," sahutnya.


"Sini dulu ... jangan jauh-jauh. Kita sudah menjadi suami istri, tidak ada salahnya memberikan ASI di dekat suami sendiri. Lalu, kamu mau aku panggil aja? Sayang, Cinta, Baby, atau apa?" tanya Tama kemudian.


"Terserah kamu saja ... yang penting tidak usah terlalu lebay. Jadi geli dengarnya," balas Anaya dengan mengedikkan bahunya seolah wanita itu bereaksi geli.


"Ya sudah ... Sayang saja. Yang wajar dan tidak terlalu lebay. Padahal kamu mau punya panggilan lain juga enggak apa-apa," balas Tama.

__ADS_1


Anaya memilih diam, kini Anaya dengan fokus untuk membuka kancing piyama yang dia kenakan, dan memberikan sumber ASI secara langsung (Direct breastfeeding (DBF) - menyusui secara langsung) kepada Citra. Tama pun diam-diam memperhatikan Anaya yang memberikan ASI untuk Citra itu. Jika Anaya mengelusi rambut Citra, kini justru Tama yang mengusapi rambut Anaya bahkan beberapa kali Tama memainkan rambut panjang Anaya dengan jari-jarinya.


"Citra kalau dapat ASI langsung tepat yah ... gitu saja sudah mau bobok," balas Tama.


"Iya Mas ... bayi kan sukanya ASI. Powered by Air Susu Ibu," balas Anaya dengan terkekeh geli.


"Cuma bagus sih Sayang ... berkat ASI kamu Citra juga lebih sehat, imunnya lebih kuat, berat badannya juga seimbang. Makasih ya Cintaku," balas Tama.


"Sama-sama Mas ... aku juga suka bisa DBF gini sama Citra. Bounding termurah dan teristimewa ya saat memberikan ASI kayak gini Mas. Memberikan tatapan hangat, sentuhan yang lembut, bahkan bisa bersenandung ria untuk Citra," balas Anaya.


Ya, memberikan ASI (DBF) adalah salah jenis bounding antara Ibu dengan bayi. Bukan sebatas memberikan ASI untuk mengenyangkan bayi, tetapi juga untuk membangun kedekatan antara ibu dan bayi. Oleh karena itu, beberapa ahli menyarankan kala memberikan ASI, seorang ibu tidak memegang handphone karena fokus dan pandangan mata ibu akan teralihkan ke handphone yang dia pegang. Berikan tatapan mata yang hangat, sentuhan yang lembut, afirmasi (perkataan) yang positif kepada bayi. Dengan demikian kedekatan antara Ibu dan bayi akan selalu terjalin dan semakin kuat.


"Kamu mantap banget Sayang ... kamu yang seperti ini yang merebut hatiku," balas Tama.


"Serius ... baiknya kamu, lembutnya kamu, tulusnya kamu sama Citra itu yang menggetarkan hati aku. Kepribadian kamu yang begitu baik yang membuatku merasakan cinta di hatiku untukmu," balas Tama dengan jujur.


Memang ada begitu banyak cara untuk menyentuh orang, dan Tama mengakui bahwa hatinya tersentuh dengan kepribadian Anaya. Seorang Ibu susu yang sangat baik, bahkan layaknya ibu kandung. Siaga di kala Citra sakit dan tantrum, peduli dengan kebutuhan Citra, dan juga membersamai tumbuh kembang Citra dalam menggapai setiap milestonenya.


"Hmm, makasih ... ini Citranya sudah bobok. Aku tidurkan dulu yah," balas Anaya.


Usai Citra terlelap, Anaya dan Tama masih mengobrol bersama. Selain membicarakan tentang rumah, Anaya juga membicarakan kuliahnya yang sudah diterima dan akan mulai kuliah tidak lama lagi. Tama sepenuhnya mendukung Anaya untuk mengambil kuliah S2. Hingga akhirnya keduanya terlelap bersama. Membiarkan malam membuai mereka di rumah baru yang baru mereka tempati berdua.


***

__ADS_1


Ketika pagi menjelang ....


Dua insan yang tidur saling memeluk dan mendekap di dalam ranjang berukuran super kingsize itu tampak begitu lelap dan merasa kehangatan dalam pelukannya. Hingga menjelang fajar menyingsing dan menunjukkan ronanya, Tama menggeliat. Pria itu masih memejamkan matanya, tetapi ada dorongan dalam hatinya untuk mencium Anaya yang masih terlelap dalam pelukannya. Ada dorongan di tangannya untuk memberikan rabaan dan belaian di lekuk-lekuk feminitas milik istrinya.


Hingga Tama menghela nafas di sana, dan tangannya bergerak dengan sendirinya menyentuh sisi wajah Anaya, lantas turun memberi usapan dan sedikit remasan di area dada milik Anaya. Sontak saja remasan itu membuat Anaya terganggu tidurnya hingga wanita itu melenguh merasakan gelenyar asing yang memberikan sensorik langsung ke otaknya dan menyebar ke seluruh tubuhnya.


Ketika tangan Tama kian bergerak ke bawah, rupanya Anaya segera menghentikan tangan suaminya itu.


"Hmm, stop Mas," ucap Anaya dengan suara yang begitu serak dan mata yang baru separuh terbuka.


"Hmm, kenapa memangnya Sayang?" tanya Tama dengan menghela nafas di sana.


"Sabar ... sepekan yah, aku palang merah," jawab Anaya.


Itu adalah jawaban yang jujur, karena kemarin sebelum pindahan, justru dirinya mengalami palang merah. Sehingga Anaya tidak bisa memberikan nafkah batin untuk suaminya.


"Yah, padahal pengen loh Sayang ... ritual di rumah baru," balas Tama.


"Sabar ya Mas ... sepekan yah. Kalau halangan kan tutup dulu," sahut Anaya lagi.


Tama pun menganggukkan kepalanya, tanpa banyak bicara pria itu kembali membawa tangannya untuk sekadar mendekap tubuh Anaya di sana. "Ya, sudah ... sepekan lagi main di pagi hari ya Sayang," balasnya.


Oh my God, Anaya hanya bisa mendelik mendengar permintaan suaminya itu. Sungguh, Anaya tidak menyangka di kala fajar sama sekali belum menyingsing suaminya sudah meminta untuk menapaki puncak asmara sepekan mendatang di pagi hari.

__ADS_1


"Mas Tama  ... Mas Tama," jerit Anaya dalam hati dengan menepuk keningnya sendiri.


__ADS_2