
Di Petting Zoo itu, banyak keseruan yang dirasakan Anaya dan juga Tama. Mengajak si Toddler berjalan-jalan dan mengenalkan aneka satwa memang begitu menyenangkan. Walaupun orang tua harus aktif menstimulasi mulai dari mengenal nama binatang, mendeskripsikan bentuk binatang itu, bahkan mengombinasikannya dengan lagu anak-anak, tetapi Anaya dan Tama sungguh menikmati jalan-jalan dengan Citra.
Sama halnya dengan Citra yang merasa happy, anak berusia satu tahun itu pun tidak menangis. Justru terlihat begitu girang. Agaknya, Tama dan Anaya lain waktu harus mengagendakan untuk mengajak Citra jalan-jalan dan menikmati wisata edukasi seperti ini. Sebab, terlihat jelas bahwa Citra begitu menyukai jalan-jalannya hari ini.
"Gendong Citra capek enggak Mas? Kalau capek, gantian saja," ucap Anaya.
Anaya menanyakan itu karena sejak tadi suaminya itu sudah menggendong Citra. Jika memang suaminya sudah capek, Anaya yang gantian menggendong Citra tidak masalah. Toh, Anaya juga begitu senang untuk menggendong putrinya itu.
"Enggak capek dong ... gendongin Mamanya Citra saja, aku kuat dan gak kecapekan Sayang," balas Tama dengan tersenyum menatap istrinya itu.
"Serius? Kan gantian enggak apa-apa, nanti punggung dan pinggang kamu pegel loh," balas Anaya.
Tama dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Kalau sudah sampai di hotel, pijitin aja Sayang. Pasti hilang pegelnya kalau kamu yang pijitin," balas Tama.
"Modus pasti ... nanti malahan kemana-mana," balas Anaya dengan menundukkan wajahnya.
"Modus sama istri sendiri kan enggak apa-apa. Lagian modusnya juga nungguin Citra bobok juga," balas Tama.
Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Anaya memilih diam dan tidak merespons. Kendati demikian memang Anaya setuju bahwa untuk masalah privasi suami dan istri sebaiknya menunggu Citra tertidur terlebih dahulu.
Ketika Anaya dan Tama tengah berbicara, rupanya Tama kembali bertemu dengan teman kuliahnya lagi. Ya, Tama kembali bertemu dengan Metta yang kala itu turut ke Kebun Binatang Lembang bersama suaminya Dimas, dan anaknya Medhina. Melihat ada Tama di sana, Metta pun segera menghampiri dan menyapa teman kuliahnya itu.
"Tama, ketemu lagi di sini," sapa Metta.
"Ta, kamu di sini? Kok perasaan sering ketemu sama kamu sih?" balas Tama yang juga merasakan kaget karena bertemu dengan Metta. Dulu Tama pernah bertemu Metta di minimarket dan sekarang bertemu lagi di Kebun Binatang.
"Iya, aku baru jalan-jalan ke Bandung. Mampir ajakin Medhina ke sini. Oh, iya ... kenalin suami dan anakku," ucap Metta.
"Halo Mas, kenalin aku Tama, teman kuliahnya Metta dulu dan ini istri dan anak aku," jawab Tama yang memperkenalkan dirinya.
"Hei, aku Dimas, suaminya Metta. Ini Medhina, putri kami," balas Dimas.
"Ini istri aku, Anaya dan ini Citra, putri kami," balas Tama.
"Teman kuliahnya Metta, berarti kenal juga dong sama Khaira?" tanya Dimas secara to the point kepada Tama.
Mendengar nama Khaira kembali disebut, Anaya kembali teringat dengan foto wisuda suaminya itu dengan gadis bernama Khaira. Namun, Anaya memilih diam dan juga bersikap santai saja. Toh, semua juga adalah masa lalu.
__ADS_1
"Iya, aku, Tama, dan Khaira satu angkatan dulu. Cuma di antara kami itu yang paling pinter Khaira," balas Metta.
"Iya, kalau enggak pinter gak akan kuliah di University of Manchester," balas Dimas.
"Ya sudah, kami duluan yah. Tam, ayolah kapan-kapan playdate barengan sama aku dan Khaira," ucap Metta sekarang kepada Tama.
"Ya, gampang. Kabar-kabar aja," balas Tama.
Akhirnya Metta dan Dimas pun berpamitan kepada Tama dan juga Anaya. Kali ini Metta ingin membuat playdate dengan teman kuliahnya dulu. Semoga nanti akan tercapai keinginannya dan bisa bertemu bersama keluarganya.
"Yang ditanyakan temanku tadi tidak menyinggung kamu kan Yang? Mereka pikir istriku sejak semula itu ya kamu," balas Gama.
"Tidak apa-apa, Mas. Cuma aku penasaran sama yang namanya Khaira itu." sahut Khaira."Kenal Khaira yah?" tanya Tama. Itu hanya sekadar pertanyaan saja, tidak ada maksud apa pun.
"Iya, aku sahabatnya suaminya, Radit. Dulu aku kuliah S2 di kampus kalian kok," balas Dimas.
Cukup lama mereka berbincang-bincang, mengingat lagi masa kuliah. Pun Metta yang juga tampak mengobrol dengan Anaya.
"Kapan nambah baby lagi, Kak?" tanya Metta.
"Panggil Anaya saja, Kak ... aku lebih muda daripada kalian," jawab Anaya.
"Hmm, enggak buru-buru kok Kak. Cuma ya kalau bisa sampai Citra lepas ASI dulu saja," balasnya.
Metta bertanya demikian karena dia tidak tahu sebenarnya bahwa Anaya adalah istri kedua Tama. Itu semua karena Tama memang tidak membagikan undangan pernikahannya dulu kepada teman-teman kuliahnya.
"Kata temenku, lebih baik punya baby itu sekalian. Jaraknya jangan terlalu lama, jadi Ibunya capeknya sekalian," ucap Metta.
"Iya Kak, cuma kan Citra masih ASI. Biar lulus S2 ASI dulu. Biar sehat dan kuat Onty," balas Anaya.
"Bener banget, begitu jadi Ibu itu prioritasnya ke baby dulu yah. Kalau udah lepas ASI, cepat-cepat aja promil. Nanti anak udah makin besar, kitanya masih muda. Biar bisa ngurus cucu nanti," balas Metta.
Anaya pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya ya Kak ... doakan saja," balas Anaya.
"Ya sudah, kami duluan yah. Tam, ayolah kapan-kapan playdate barengan sama aku dan Khaira," ucap Metta sekarang kepada Tama.
"Ya, gampang. Kabar-kabar aja," balas Tama.
__ADS_1
Akhirnya Metta dan Dimas pun berpamitan kepada Tama dan juga Anaya. Kali ini Metta ingin membuat playdate dengan teman kuliahnya dulu. Semoga nanti akan tercapai keinginannya dan bisa bertemu bersama keluarganya.
"Yang ditanyakan temanku tadi tidak menyinggung kamu kan Yang? Mereka pikir istriku sejak semula itu ya kamu," balas Gama.
"Tidak apa-apa, Mas. Cuma aku penasaran sama yang namanya Khaira itu." sahut Anaya.
"Enggak usah penasaran, toh semua hanya masa lalu. Masa depanku adalah kamu, Sayang," balas Tama dengan begitu yakin.
Sontak saja Anaya tersenyum karenanya. Wanita itu melirik sekilas ke arah suaminya. "Yakin?" tanyanya.
"Iya, yakin … aku mau menempatkan masa lalu di belakangku. Jika aku berlari, aku akan berlari ke depan menuju masa depanku dan itu adalah kamu."
Tama menjawab dengan begitu yakin. Semua yang sudah menjadi masa lalu akan Tama tempatkan di belakangnya. Di depannya hanya ada sosok Anaya lagi.
"Yang, kamu serius mau punya baby setelah Citra lepas ASI?" tanya Tama kemudian.
"Hmm, iya … biar Citra selesai dulu. Kalau belum selesai ASI dan aku hamil duluan kasihan deh Mas," balas Anaya.
"Tidak terlalu lama itu, satu tahun loh?" tanya Tama.
"Itu kan kalau bisa dan kalau enggak kebobolan juga. Soalnya begitu aku positif hamil, kualitas ASI nya akan berkurang, sementara si baby yang di dalam perut juga butuh nutrisi dari Ibunya. Jadi, lebih baik nahan dulu aja Mas," balas Anaya.
Tama yang mendengar jawaban Anaya menganggukkan kepalanya, "Jadi, mau pakai kontrasepsi?" tanya Tama.
Sebab, jika ingin menunda kehamilan untuk satu tahun ke depan, maka harus memasang kontrasepsi. Dengan demikian tidak ada kendala dalam meng-ASI-hi Citra.
"Belum tahu, nanti aku pikirkan dulu. Tinggal satu tahun juga, Mas. Kasihan Citra kalau tiba-tiba lepas ASI begitu saja," balasnya.
"Sayang, cuma kan dua hari ini kita berhubungan tanpa pengaman. Kalau jadi si baby gimana?" tanya Tama.
Sontak saja Anaya membolakan matanya, "Uhm, ya gimana lagi Mas. Udah deh, jangan bahas begituan dulu. Jalan-jalan lagi dulu," balasnya.
Tama berdiri, pria itu mengulurkan tangannya untuk menggandeng Anaya, "Makasih yah, kamu memprioritaskan Citra banget. Padahal kalau kita punya baby lagi tidak apa-apa."
"Itu karena aku sayang Citra. Aku bukan ibu tiri seperti yang dituduhkan Nenek dan Kakeknya Citra. Lebih baik aku menunggu, menunda kehamilan dan selesai meng-ASI-hi Citra sampai 2 tahun."
"Aku tahu, kamu adalah ibu yang sangat baik untuk Citra. Love U, Anaya," balas Tama.
__ADS_1
"Hmm, iya Mas," sahutnya dengan menunduk malu.