Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Permintaan Maaf Tama


__ADS_3

Dua Hari yang Lalu ….


Satu hari selang operasi Caesar ....


Kala itu, ketika Mama Rina, Papa Budi, dan Ayah Tendean menjenguk Anaya, Tama mengatakan bagaimana kondisi Anaya kepada orang tuanya. Sebab, Tama sendiri juga ingin para orang tua mengetahui apa yang terjadi dan sekaligus di sini Tama ingin meminta maaf.


"Ayah, Mama, dan Papa ... Tama ingin berbicara."


Pria itu meminta waktu untuk berbicara, seolah mengambil jeda, dan kemudian Tama tampak menundukkan wajahnya.


"Pertama Tama ingin meminta maaf kepada Ayah, Mama, dan Papa ... ketika operasi caesar terjadi, Tama tidak mengira bahwa akan terjadi Plasenta Akreta dan membuat Anaya mengalami pendarahan yang begitu hebat. Kala itu kesadaran Anaya kian turun. Bahkan kepada Tama sendiri, Anaya mengakui bahwa badannya menjadi seringan kapas dan pandangan matanya mengabur. Kala itu Tim Medis mengatakan harus melakukan Histerektomi. Kala itu, Tama tidak tahu istilah itu artinya apa ... di dalam pikiran Tama, Tama hanya ingin Anaya selamat. Tama tidak ingin kehilangan orang yang sangat Tama cintai. Rupanya Tante Indri menjelaskan tadi bahwa Histerektomi adalah pengankatan rahim karena plasenta yang menempel di dinding rahim dan juga rahim yang membesar untuk tempat dua bayi kembar membuat rahim milik Anaya robek. Itu harus dilakukan jika tidak organ tubuh di sekitar rahim akan rusak. Jadi, sekarang ... Anaya tidak memiliki rahim lagi," ceritanya menjelaskan semuanya kepada orang tuanya.


Mama Rina yang mendengar cerita dari Tama seketika meneteskan air matanya. Sungguh tidak menyangka bahwa menantunya, sampai mengalami Plasenta Akreta dan juga harus melakukan Histerektomi. Tekanan yang berat untuk seorang wanita. Ayah Tendean juga tampak menghela nafas yang begitu berat, dan Papa Budi yang juga menatap putranya itu.


"Maafkan Tama ... kala itu Tama itu hanya operasi besar untuk menghentikan pendarahan yang terjadi. Rupanya rahim milik Anaya diangkat," ucap Tama dengan rasa yang begitu menyesal.


Tama seolah teringat bagaimana dia harus menandatangani dokumen yang disodorkan pihak Rumah Sakit. Dia pikir bahwa tidak berdampak apa pun. Serta satu-satunya yang Tama pikirkan adalah Anaya bisa selamat.


"Maafkan Tama," ucapnya.


Ayah Tendean segera mendatangi menantunya itu dan memeluknya untuk sesaat. "Tidak apa-apa, Tama ... tidak apa-apa," balasnya.

__ADS_1


"Maafkan Tama yang gagal menjaga Anaya," balas Tama yang benar-benar merasa menyesal.


"Jika Ayah berada di posisimu, Ayah juga akan melakukan hal yang sama," ucap Ayah Tendean.


Tama mengakui salahnya sampai menitikkan air matanya. Pun memang demikian orang awam, hanya bersikap bahwa orang yang dia cintai akan selamat. Setelah Dokter menjelaskan istilah medis itu, ada penyesalan juga di dalam hati Tama.


"Tidak apa-apa, Tama ... Anaya pasti terluka, tetapi dia akan bangkit. Percaya saja. Jika berada di posisimu, Ayah juga akan melakukan hal itu. Tama sudah melakukan yang benar dengan menjaga Anaya selamat," balas Ayah Tendean.


Usai mengakui dan meminta maaf kepada orang tuanya, Tama merasa lega. Sebab, walau Anaya adalah istrinya, tetapi Anaya memiliki Ayah dan mertua yang sangat menyayanginya. Tama tidak ingin menyembunyikan masalah yang serius ini dari orang tuanya. Pun, Tama berharap Ayah Tendean, Mama Rina, dan Papa Budi bisa menjadi support system juga untuk Anaya yang kini merasa sedih.


Dengan keluarga yang saling bergandengan tangan dan juga mendukung satu sama lain, semuanya bisa dijalani. Semua bisa mensupport Anaya. Dengan support dari para orang tua, Tama yakin istrinya juga akan cepat pulih.


***


"Yang kuat ya Anaya ... Mama yakin kamu kuat. Kalau benar-benar sedih dan membutuhkan tempat bercerita, Mama siap mendengarkannya. Kamu ingat kan, bahwa bagi Mama, kamu seperti anak perempuan Mama sendiri," ucap Mama Rina.


Anaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mama ... terima kasih banyak sudah begitu menyayangi Anaya. Di dalam keluarga mertua, Anaya disayangi layaknya anak perempuan sendiri. Sungguh, Anaya bersyukur," balasnya.


"Tentu Anaya ... Semua ini tidak mudah untuk kamu. Akan tetapi, kita bisa saling menguatkan satu sama lain."


Mama Rina mengakhiri ucapannya dengan memeluk Anaya. Berharap pelukan seorang Ibu yang dia berikan bisa menguatkan Anaya. Dalam hidup, memang bahyak cobaan yang menyapa manusia. Memang Anaya memiliki suami dan keluarga yang baik. Akan tetapi, dia dicobai Tuhan dalam hal yang lain.

__ADS_1


"Kuat yah," ucap Mama Rina.


Anaya pun menganggukkan kepalanya dengan masih memeluk Mama Rina, "Tentu Ma ... Anaya memiliki kekuatan lebih untuk bertahan karena sekarang Anaya tidak sendiri. Anaya memiliki Mas Tama, Citra, Si Kembar, dan orang tua yang menyayangi Anaya," ucapnya.


"Benar Anaya ... jangan segan untuk meminta bantuan Mama. Mama ada di sini, di rumah kalian juga untuk membantu kamu," balas Mama Rina.


Sementara itu, Tama yang usai menurunkan koper dan barang-barang dari Rumah Sakit lebih memilih untuk memilah pakaian kotor terlebih dahulu dan mencuci semuanya dengan mesin cuci. Untuk urusan rumah tangga, Tama memang jagonya. Pernah menduda sebelumnya, untuk perihal kegiatan rumah tangga, Tama bisa melakukannya. Sembari menunggu pakaian kotor di cuci dengan mesin cuci, Tama pun masuk ke dalam kamarnya dengan membuatkan Susu Cokelat khusus untuk Ibu Menyusui yang mengandung Sari Daun Katuk untuk Anaya.


"My Love," sapa Anaya begitu memasuki kamarnya.


"Hmm, ya Mas ...."


"Minum dulu ... aku buatkan susu cokelat untuk Busui," balasnya.


Anaya menerima gelas itu dengan senyuman di wajahnya, "Makasih Mas ... kamu cuti berapa lama Mas?" tanya Anaya kemudian.


"10 hari kerja, Sayang ... tenang saja. Nanti aku temenin dulu. Kalau aku kerja, pagi dan sore hari juga aku bantuin. Aku suami yang bisa kamu andalkan, My Love," ucap Tama dengan mengambil tempat di samping Anaya.


Anaya pun tersenyum, "Makasih Mas Suami," balasnya.


Anaya kemudian menatap suaminya, dan menyeka bulir keringat di kening suaminya itu. "Capek yah pasti? Dalam hampir 4 hari ini, kamu belum istirahat dengan benar," ucap Anaya.

__ADS_1


Tama pun menggelengkan kepalanya perlahan, "Enggak ... aku baik-baik saja. Bersamamu aku selalu baik-baik saja Sayangku," balasnya.


"Terima kasih banyak Mas Suami," balas Anaya dengan menatap wajah suaminya. Terlihat Tama yang kurang tidur dan juga lelah. Akan tetapi, Tama justru tidak mengeluh sama sekali, dan juga Tama berkata bahwa Anaya bisa memanfaatkannya untuk apa pun.


__ADS_2