
Semangkok Ramen dan juga obrolan yang hangat benar-benar membuat kebahagiaan dalam hati keduanya. Cerita dan juga kenangan indah terus membarengi selama mereka menghabiskan semangkok Ramen bersama. Tatapan mata yang beradu, senyuman yang terlukis di wajah keduanya menjadi kombinasi sempurna untuk bisa menikmati makanan khas Jepang itu.
"Kenyang banget ya Mas," ucap Anaya kemudian.
Biasanya dulu Anaya bisa menghabiskan semangkok Ramen sendiri. Akan tetapi, sekarang rasanya sudah berbagi dengan suaminya saja, dan Anaya sudah merasa begitu kenyang. Padahal harusnya jika seporsi berdua, perutnya juga tidak akan begitu kenyang.
"Lumayan sih Sayang ... mau beliin apa untuk Ayah dan Bunda?" tanya Tama kepada istrinya itu.
"Belikan kue saja, Mas ... sama Sushi yang kemasan itu bagaimana?" tanya Anaya lagi.
Tama pun menganggukkan kepalanya. "Boleh Sayang ... beli saja. Kamu yakin tidak ingin beli sesuatu? Kan kemarin suami ini juga menang kompetisi itu. Belilah sesuatu untuk kamu," balas Tama.
Anaya kemudian menggelengkan kepalanya. "Kan dulu juga habis kamu belikan kalung ini waktu aku ulang tahun. Jadi, tidak usah. Ditabung aja Mas. Sapa tahu nanti aku minta sawah satu hektar," balas Anaya dengan terkekeh geli.
Tama pun turut tertawa di sana. "Hahaha ... boleh, nanti aku belikan persawahan. Kalau tua, kita tinggal di desa saja, Sayang. Sembari melihat sawah yang menghijau dan menguning sesuai musimnya. Menikmati masa tua berdua. Seru yah kelihatannya," balas Tama.
"Makannya singkong, ubi, dan sayuran yang dipetik langsung. Semakin tua, semakin menyatu dengan alam ya Mas," balas Anaya.
Tama menganggukkan kepalanya perlahan. "Benar ... kan anak-anak juga semakin besar. Biar saja mereka menggapai apa yang mereka cita-citakan. Kita orang tua itu menuntun dan mengarahkan," balas Tama.
Anaya pun setuju dengan ucapan suaminya itu. Semua orang tua tentu menginginkan anak-anaknya akan menjadi seseorang yang berguna di kemudian hari. Untuk itu, kedua orang tua memang memiliki tugas untuk menuntun dan juga mengarahkan anak-anaknya. Membantu anak menggapai impiannya, dan tentunya terus menjadi teladan untuk anak-anak sampai mereka dewasa nanti.
Menunggu makanan yang sudah mereka makan sedikit turun, kemudian Tama dan Anaya memilih untuk pulang. Sebelumnya Anaya minta dibelikan minuman segar terlebih dahulu. Tama tentu tidak keberatan. Jika hanya sekadar minuman saja, Tama tentu bisa membelikannya.
Sekarang keduanya sudah tiba di rumah, dan keduanya memasuki rumahnya dengan saling bergandengan tangan. Ada senyuman yang sama-sama mengembang di wajah keduanya. Anaya kian tersenyum ketika Tama menutup pintu rumah dan menguncinya. Seakan Anaya sangat tahu dengan apa yang hendak di lakukan suaminya itu.
Begitu sudah masuk, rupanya Tama membawa Anaya untuk sama-sama berdiri di belakang pintu. Pria itu mengunci pergerakan Anaya, dengan menaruh satu tangannya di pintu, dan wajahnya tersenyum penuh makna sembari menatap wajah Anaya.
"Pacaran berdua?" tanya Tama.
__ADS_1
"Boleh, siapa takut," balas Anaya.
Seakan Anaya juga tidak keberatan sama sekali, wanita itu kini justru melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya. Tama tersenyum pias, hingga perlahan-lahan dia mulai memangkas wajahnya dengan Anaya yang tidak seberapa. Hingga kedua bibir itu saling menempel satu sama lain. Bisa keduanya rasanya nafas yang menyapu sama hangatnya dan juga kelembutan serta kehangatan yang disajikan oleh kedua bibir yang bertemu. Hingga Tama perlahan-lahan mulai membuka mulutnya dan mulai menyapu bibir istrinya itu dengan kelembutan. Ada usapan yang hangat dari ujung lidahnya yang basah seolah membasahi bibir Anaya. Kali ini keduanya bertukar pagutan dan hisapan dalam ritme yang indah, dan begitu sangat lembut. Kedua bibir itu saling mengecup, saling memagut, dan juga saling mengusap. Ketika Tama menenglengkan wajahnya untuk memperdalam ciumannya, Anaya pun menyambutnya. Hingga kedua kaki wanita itu sedikit berjinjit untuk bisa menyesuaikan tinggi tubuh keduanya.
Beberapa menit berlalu, dan keduanya seakan tak henti untuk saling menyapa dalam kelembaban hangat dan juga hangat. Menggetarkan jiwa, menyulut bulu roma yang mengirimkan sinyal berupa gelenyar asing di sekujur tubuh.
Dari pintu depan, rupanya kini Tama mengangkat tubuh Anaya dengan menggendongnya, dan tempat yang Tama tuju sekarang ada dapurnya. Ya, rupanya Tama sendiri cukup lama mengidam-idamkan untuk membawa istrinya itu ke dapurnya. Dia mendudukkan Anaya di kitchen island, sementara Tama masih dan tidak ragu untuk mengecupi bibir istrinya yang semanis madu.
"Manis," ucap Tama perlahan dengan mengurai wajahnya.
Pria itu menarik wajahnya dan memperhatikan wajah Anaya yang memerah di sana. Tangannya bergerak dan menelisipkan juntai rambut Anaya ke belakang telinga.
"Kalau selalu nggemesin kalau kayak gini," ucap Tama dengan dibarengi dengan ibu jari dan jari telunjuknya yang meraih dagu Anaya.
Kembali Tama memangkas jarak wajahnya, dan lidahnya memberikan usapan dalam kesan yang hangat dan basah. Bibirnya memagut dan lidahnya seakan mengeksplorasi kedalaman rongga mulut yang hangat berbalut madu yang sangat manis.
Usapan dari indera perasa dan pengecap itu begitu memabukkan, sampai Anaya merasakan dirinya melayang. Tangan Anaya yang semula hanya melingkari leher suaminya, perlahan bergerak naik dan meremas rambut suaminya.
"Mas Tama."
"Anaya."
Pun dengan Tama yang merasa semakin menggila. Rasanya ingin menuntas semuanya di sana. Akan tetapi, Tama sangat tahu untuk menuju puncak asmara, Anaya membutuhkan privasi. Namun, jika sekadar menaikan suhu tubuh supaya menghangat di kitchen island pun tidak masalah.
Pria itu lantas membawa jari-jarinya dan melolos tiga kancing atas di kemeja sang istrinya. Anaya merasa sesak nafas tiap kali jari suaminya meloloskan kancing itu dari sarangnya. Sebab, sekarang sudah bisa dipastikan area sembulan dadanya akan terekspose di sana.
Tama tersenyum di sana. Ketika bibirnya menjejaki area sembulan dada dan meninggalkan jejak hangat dan basah di sana. Anaya menggelengkan kepalanya.
"Jangan di sini, Mas," pintanya.
__ADS_1
"Aku tahu, Sayang," balas Tama.
Oleh karena itu, Tama kini kembali menggendong Anaya. Bahkan tanpa ragu, Tama mengerahkan seluruh tenaganya dan mempertahankan Anaya dalam gendongannya, pria itu menapaki satu demi satu anak tangga menuju ke kamar.
Begitu sudah di dalam kamar, Tama dengan sengaja menjatuhkan tubuh keduanya di atas ranjang hingga terjadi pantulan di sana. Lantas sekarang, Tama meloloskan satu demi satu benang yang mereka kenakan. Pria itu sangat senang sekarang, bisa memadu kasih dengan istrinya. Pun ketika Anaya kali ini yang mengambil inisiatif terlebih dahulu.
Di hadapan suaminya, wanita itu berani menunjukkan sisi-sisi tersembunyinya. Membawa Tama terbang dan melayang. Membuat jantung Tama berdegup kian kencang dengan mata yang memejam rapat, dan bibir yang membuka dan mende-sah nikmat di sana.
"Anaya!"
Tama tercekat mana kala sang istri dengan begitu lihainya menenggelamkan pusakanya di dalam rongga mulutnya. Menggerakkannya naik dan turun di dalam sana. Bukan pasrah, tapi kali ini Tama ingin menikmati terlebih dahulu. Sebab, dirinya adalah pria sejati yang tidak akan berdiam diri dan menikmati semuanya.
"Sudah Sayang ... sudah, jangan nakal-nakal," ucap Tama perlahan.
Sedikit beringsut, Tama kemudian yang mengambil alih kendali. Dia kini dengan begitu lahap meraup buah persik sang istri yang selalu menjadi favoritnya. Ciuman di area sembulan hingga usapan basah di lingkaran hitam yang ada di sana, terasa memabukkan membuat Anaya melayang.
"Jangan digigit, Mas," pinta Anaya dengan menahan suara ketika dia rasakan gigi suaminya yang sudah memberikan gigitan demi gigitan di puncaknya yang sudah menegang.
"Hm, iya," sahut Tama. Namun, nyatanya Tama justru mengulanginya beberapa kali. Hisapan yang dalam, pijatan memutar, dan juga pilinan di area puncak membuat Anaya kian merasakan terpaan badai di dalam dirinya.
Bergerak kian turun, kini Tama melepaskan segitiga berenda di bawah sana dan kemudian Tama melabuhkan wajahanya di sana. Memberikan usapan dan tusukan dengan lidahnya. Anaya pun justru menggeliat dan meremas bantal di bawahnya. Tama begitu bangga bisa memuja istrinya sekarang ini. Dia seakan tidak memberi ampun dan terus menginvansi, sampai Anaya merasakan tubuhnya bergetar, wanita itu menelungkungkan dadanya, dan memekik merasakan pelepasannya.
Kini sampailah keduanya pada menu utama. Tama dengan sedikit hentakan menyatukan dirinya. Dalam seketika, Anaya merasa dirinya terasa penuh. Sangat penuh. Namun, ketika Tama mengeluarkannya perlahan, kekosongan dirasakan oleh Anaya. Tama tersenyum di sana. Lantas dia kembali menghujam dalam gerakan seduktif keluar dan masuk. Menghunus. Menghujam. Menusuk. Semua Tama lakukan hingga pusakanya benar-benar terbenam ke dalam dan menerobos cawan surgawi beberapa kali.
Ada sambutan indah dalam wujud rasa hangat dan cengkeraman erat yang membuat Tama menengadahkan wajahnya. Ritme kian kacau, nafas kian menderu. Kini Tama kembali meraup buah persik milik Anaya, menghisapnya dan menggigitnya.
"Astaga ... astaga!" Hanya itu yang bisa Tama ucapkan karena dirinya merasakan sensasi dahsyat yang luar biasa.
"Mas Tama." Anaya menyahut dengan membawa kedua kakinya melingkari pinggang suaminya. Mendekap erat tubuh suaminya yang sudah pasah dengan keringat yang keluar dengan sendirinya.
__ADS_1
Hujaman pria itu kian menjadi-jadi, sampai di batas Anaya menjerit di sana, pun dengan Tama yang menggeram dengan mata terpejam. Sampailah keduanya tenggelam bersama hingga ke dasar Samudra. Jika ada palung laut, sungguh keduanya terhempas di sana. Sangat indah, seakan gelombang laut yang tinggi benar-benar menenggelamkan keduanya. Samudra asmara menggelora, menyabut dua sejoli dalam peraduan cinta yang begitu meng-ge-lo-ra.