Mas Duda Mencari Ibu Susu

Mas Duda Mencari Ibu Susu
Kejutan dari Keluarga


__ADS_3

Mendapatkan hasil yang baik di ujian Thesis kali ini, yang pertama kali Anaya ingat adalah suaminya. Ya, dia  hendak mengambil handphone-nya di dalam tas dan hendak menghubungi Tama. Namun, hal ini urung dilakukan Anaya, karena sekarang ada Khaira yang memanggil namanya.


"Anaya," panggil Khaira kepada Anaya yang berjalan beberapa meter di depannya.


"Oh, ya Bu Khaira," balas Anaya.


Tampak Khaira pun menggelengkan kepalanya. Kemudian dia menepuk bahu Anaya perlahan. "Lulus kan?" ucap Khaira kemudian.


"Makasih Kak ... sudah dibimbing sampai lulus," ucap Anaya.


"Sudah, tinggal nunggu wisuda, Anaya ... sama beberapa pekan lagi anak-anak sudah mulai sekolah kan? Wah, nanti ketemu di sekolahan yah," balas Khaira.


"Ah, iya ... aku sampai lupa. Citra sudah mulai sekolah yah. Untung banget, aku juga tinggal nunggu wisuda, tidak begitu repot," balasnya.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Semoga satu kelas yah nanti sama Shaka," balas Khaira.


"Iya, semoga ... setidaknya ada satu yang dikenal dulu. Sudah beli peralatan sekolah?" tanya Anaya kepada Khaira.


"Belum, akhir pekan nanti sih ... nunggu Mas Radit libur," jawab Khaira.


"Sama. Kami juga belum peralatan sekolah untuk Citra. Mungkin juga akhir pekan nanti waktu Mas Tama libur," sahutnya.


Anaya dan Khaira kemudian sama-sama tertawa. Merasa lucu dengan apa yang mereka obrolkan bersama. Hingga akhirnya dari arah belakang Anaya ada rombongan yang siap mengejutkan Anaya. Khaira yang berhadap-hadapan dengan Anaya, tentu sudah tahu siapa saja yang datang. Namun, Khaira tetap bersikap biasa saja. Hingga akhirnya, Tama berjalan perlahan, dan pria itu dari belakang memberikan bunga untuk Anaya.

__ADS_1


"Congratulations, My Love," ucap Tama dengan begitu lembut.


Anaya sangat terkejut. Belum dia menelpon suaminya dan memintanya untuk menjemputnya, rupanya suaminya itu sudah datang. Kali ini suaminya datang tidak dengan tangan kosong. Melainkan dengan bunga Mawar yang dipadukan dengan baby breath. Tampak kedua bola mata Anaya berkaca-kaca sekarang. Sangat tidak menyenangkan dengan apa yang dia terima sekarang.


"Mas Tama," ucap Anaya dengan lirih.


"Selamat yah ... sudah lulus. Cita-cita kamu untuk kuliah tercapai sudah, tinggal nunggu wisuda beberapa bulan lagi," balas Tama.


"Makasih Mas Tama," balasnya.


Selang beberapa detik, sudah ada ucapan selamat dari seluruh keluarganya. "Selamat Anaya!"


Ketika Anaya menoleh ke belakang, betapa terkejutnya dia melihat Ayah Tendean, Bunda Dianti, ketiga anaknya, Mama Rina, dan Papa Budi. Semuanya berkumpul. Citra yang kini membawa balon dengan tulisan Congratulations pun memeluk erat Mamanya.


"Selamat Mama," ucapnya.


Khaira yang melihat kejutan dari seluruh keluarga ini merasa turut berbahagia. Namun, ada sesuatu yang terlintas di benak Khaira. Ya, memori seperti ini pernah dia alami ketika dia lulus S1 dulu, dan keluarganya memberikan kejutan, di sana ada Tama yang mengucapkan selamat untuknya. Sekarang, Khaira yang gantian ada di keluarga Tama dan Anaya.


Tidak ingin merusak momen bahagia itu, Khaira pun kemudian berpamitan. "Baiklah saya pamit yah. Selamat ya Anaya," pamitnya.


Namun, ketika Khaira hendak pergi, ada Bunda Dianti yang menghentikannya. Sebab, bagi Bunda Dianti, Khaira sudah seperti anaknya sendiri juga. "Buru-buru, Khai?" tanya Bunda Dianti.


"Iya Bunda ... masih ada ujian lagi satu jam lagi," balasnya.

__ADS_1


"Main ke rumah, Khaira ... ajak Syilla dan Shaka juga," ucap Bunda Dianti.


Khaira pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Tentu Bunda, nanti lain waktu Khaira akan main ke rumahnya Bunda dan Ayah," balasnya.


"Iya, silakan main bawa anak-anak. Menikmati masa tua bersama cucu-cucu itu menyenangkan," ucap Ayah Tendean.


Setelahnya Khaira benar-benar berpamitan. Tidak lupa dia menganggukkan kepalanya kepada Tama juga. Setelahnya, semuanya pun memberikan selamat dan memeluk Anaya berganti. Tampak Ayah Tendean terharu dengan pencapaian putrinya itu.


"Selamat Aya ... akhirnya sudah selesai kuliahnya. Niatanmu dulu kuliah untuk lari dari seseorang, sekarang bisa selesai. Kamu memiliki keluarga, memiliki pencapaian di bidang akademik. Rasanya sangat membanggakan untuk Ayah," ucap Ayah Tendean.


"Terima kasih banyak Ayah ... semua ini juga berkat doa dan restu dari Ayah," balasnya.


"Besok kita liburan bersama yah ... Ayah akan fasilitasi semuanya untuk merayakan kelulusan Anaya," ucap Ayah Tendean dengan begitu bersemangat.


Anaya pun menggelengkan kepalanya. "Ayah, kenapa berlebihan sekali?" tanyanya.


"Untuk putri Ayah satu-satunya tidak ada yang berlebihan, Aya ... kita akan menginap di pantai satu malam. Merayakan kelulusan Anaya," ucap Ayah Tendean.


"Anak-anak, Yah?" tanya Anaya.


"Tenang saja ... kita menginap di hotel, bukan di tenda. Jadi, pasti aman untuk anak-anak. Ayah sudah memperhitungkan untuk cucu-cucu Ayah," balasnya.


"Terima kasih banyak Ayah," balas Anaya.

__ADS_1


Sungguh, walau menurutnya hadiah ini berlebihan. Akan tetapi, Anaya juga merasa senang. Semua keluarganya hadir untuk memberikannya ucapan selamat. Anaya sangat tahu bahwa semua pencapaian ini tidak akan pernah dia dapatkan jika tidak ada dukungan penuh dari keluarga. Ketika dia kuliah, ada Mama Rina yang mengasuh anak-anaknya. Ada Bunda Dianti yang bisa dia tanyain perihal materi pengajaran anak-anak. Ada Ayahnya dan Papa mertua yang tentu mensupport. Juga keberadaan Tama yang menjadi support system terbaiknya.


"Congratulations Anaya!"


__ADS_2