
"Gimana seharian ini Citra rewel enggak?" tanya Tama kepada Anaya.
"Enggak rewel kok. Cuma Citra sudah mulai berdiri-berdiri loh Tam ... jadi mungkin saja nih usia 11 atau 12 bulan nanti Citra sudah bisa berjalan," balas Anaya.
"Iya, memang dia sudah berdiri dan sering pegangan sesuatu yang ada di dekat dia. Cuma jadi lebih aware, takut dia jatuh atau kenapa-napa," balas Tama.
"Benar. Melihat perkembangan Citra bikin aku seneng banget," balasnya.
Tama pun merespons dengan menganggukkan kepalanya, "Benar banget. Rasanya baru kemarin aku membawanya pulang dari Rumah Sakit, menggendongnya dengan kedua tanganku, dan kemudian melalui fase demi fase yang tidak mudah. Sekarang dia sudah 10 bulan. Semakin pandai dan juga ocehannya semakin jelas," balas Tama.
Anaya yang duduk di samping Tama pun menghela nafasnya, "Luar biasa yah ... ada kalanya, dulu waktu jatuh kita benar-benar tidak memilik kekuatan untuk bangkit. Merasa kedua lutut kita saja lemas. Sekarang, bahkan kita bisa sama-sama melihat hari yang penuh dengan harapan," balas Anaya.
"Iya Ay ... aku dan kamu. Aya, jadi kapan kira-kira kamu mau aku persunting?" tanya Tama.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan Tama, membuat Anaya tertunduk malu, "Hmm, maksudnya?" tanyanya.
"Kapan kamu siap untuk menikah denganku? Apakah hanya waktu 40 hari saja cukup? Atau memang seperti apa keinginan kamu? Pernikahan seperti apa juga yang kamu inginkan?" tanya Tama.
"Aku tidak menginginkan pernikahan yang muluk-muluk Tama. Pernikahan itu hanya pintu gerbang saja, yang penting kehidupan setelah pernikahan itu. Jadi ya, sederhana saja tidak apa-apa. Bahkan menikah di Kantor Urusan Agama saja aku juga tidak keberatan," balas Anaya.
"Enggak gitu juga ... sebaiknya memang membuat momen yang indah dan manis untuk kita berdua," balas Tama.
"Nanti, dipikirkan lagi yah ... sekarang antar aku pulang ya Tama? Sudah malam," pinta Anaya yang kali ini.
"Yuk, aku titipkan Citra ke Mama dulu yah," balasnya.
__ADS_1
Dengan menitipkan Citra ke Mama Rina, kini Tama mengantarkan Anaya untuk pulang. Setidaknya ada waktu bersama walau hanya di dalam mobil dan mereka bisa terlibat obrolan yang lebih intens.
"Sampaikan nanti ke Ayah ya Ay ... kalau Mama dan Papa ingin main ke rumahmu dan melamar kamu secara resmi," ucap Tama dengan menyetir mobilnya.
"Iya, nanti aku sampaikan ke Ayah yah," balas Anaya.
"Aku juga akan menjual rumahku dulu, Ay ... nanti aku akan belikan rumah yang baru untuk kita tempati bersama. Dulu, aku memiliki rumah sendiri. Hanya saja setelah menduda beranak satu, aku pulang ke rumah Mama lagi. Nanti, usai menikah maukah kamu tinggal bersama denganku?" balas Tama.
"Tidak apa-apa. Selama masih di dalam kota dan di akhir pekan kita mengunjungi Ayah yah ... soalnya Ayah tinggal sendiri. Kamu tidak mau tinggal di rumahku?" tanya Anaya kemudian.
Hanya saja memang Anaya memikirkan Ayahnya yang tinggal sendiri di rumah. Setidaknya dia juga anak tunggal. Sehingga Anaya menyampaikan itu kepada Tama.
"Berkeluarga mandiri saja, Ay ... kalau ada rumah kosong dekat rumah kamu tidak apa-apa. Aku akan membelikannya, jadi setiap hari kamu bisa melihat Ayah," balas Tama.
Setelahnya mobil yang dikendarai Tama sudah tiba di depan rumah Anaya. Namun, keduanya dikagetkan dengan Pajero Sport berwarna hitam yang kini terparkir di depan rumah Anaya. Jika sebelumnya yang terparkir adalah mobil Range Rover, dan sekarang mobil Pajero Sport. Tama menoleh menatap Anaya.
"Siapa Ay?" tanya Tama.
"Aku tidak tahu, Tam," balas Anaya.
"Aku antar sampai ke dalam," balas Tama.
Keduanya dengan rasa was-was turun dari mobil dan kemudian membuka pintu gerbang. Rupanya di depan pintu rumah sudah berdiri Reyhan yang kembali menyambangi rumah itu. Melihat kedatangan Anaya dan Tama, Reyhan tampak tersenyum menyeringai dan menatap tajam kepada Anaya.
"Oh, jadi kamu mengelabui aku ya Anaya ... aku tidak pernah mengira bahwa kamu selicik ini," ucap Reyhan yang berjalan mendekati Anaya.
__ADS_1
Melihat Reyhan, Tama pun mengambil satu langkah dan kemudian membawa Anaya untuk berdiri di belakangnya. Kali ini, Tama siap menghadang Reyhan. Tidak akan memberikan celah bagi Reyhan untuk menyakiti Anaya lagi. Tama akan menjadi perisai bagi calon istrinya itu.
"Minggir loe, sebaiknya loe jangan pernah ikut campur!"
Reyhan membentak dan meminta Tama untuk tidak ikut campur masalahnya dengan Anaya. Akan tetapi, hanya sekadar mendengar suara Reyhan saja Tama tidak gentar. Justru Tama tertawa dalam hati, baginya hanya seorang pria tak bernyali yang terus-menerus mengusik perempuan.
"Sebaiknya jangan pernah mengusik Anaya lagi, karena sekarang gue yang akan maju," balas Tama dengan yakin.
"Loe emang siapanya dia?" tanya Reyhan dengan menatap tajam pada Tama.
"Gue calon suaminya. Enggak lama lagi, gue akan menikahi Anaya. Jadi, lebih baik loe pergi dan jangan pernah ganggu Anaya lagi," balas Tama.
Reyhan tersenyum culas dan menatap Anaya, "Baru kemarin aku mengucapkan talak, dan sekarang kamu sudah mau menikah Ana? Jadi, siapa yang murahan?"
Tama merasa telinganya panas mendengar ucapan Reyhan, kedua tangan Tama pun refleks bergerak dan mendorong dada Reyhan, "Tutup mulut loe itu! Hanya pria murahan yang berteriak murahan kepada seorang wanita. Jadi ini sekarang yang loe lakuin setelah tunangan loe di Singapura itu mengetahui kebusukan loe yang sudah memperkosa Anaya dan melakukan berbagai tindakan menjijikkan kepada Anaya?"
Tama berteriak. Kali ini dia benar-benar membuka kartu AS Reyhan yang tanpa sengaja dia ketahui. Mendengar apa yang disampaikan Tama, Reyhan pun menghela nafas kasar. Tidak mengira bahwa Tama akan mendengar mengenai hal ini. Jadi, siapakah Tama hingga dia kenal dengan tunangannya yang ada di Singapura?
"Semua keburukan loe ada di tangan gue, Reyhan. Sampai loe berani menyakiti Anaya lagi. Gue pastikan berbagai bisnis loe akan hancur. Gue gak akan main-main, pria berengsek seperti loe harus mendapat pelajaran dari gue!"
Tama berbicara dan kali ini Tama terlihat begitu serius. Reyhan kemudian menatap tajam Tama, "Awas loe. Gue akan balas semua!"
"Balas aja! Sebelum loe bisa membalas, gue pastikan loe akan mendekam di dalam sel tahanan!"
Usai mengatakan semuanya itu, Reyhan pergi begitu saja dari rumah Anaya. Sementara Anaya masih berdiri di belakang punggung Tama. Anaya menatap punggung Tama yang terlihat kokoh itu. Apa saja kartu AS Reyhan yang Tama pegang? Bahkan Tama tahu pemerkosaan yang dilakukan Reyhan kepadanya. Agaknya Anaya harus berbicara dengan Tama dan meminta Tama untuk menceritakan semuanya kepadanya.
__ADS_1