
Akhirnya, Tama terbangun dengan menyandarkan punggungnya ke headboard. Dia mende-sah panjang dan melihat Anaya yang masih terlelap. Perlahan, Tama mengusap-usap wajahnya, dan juga menetralkan degup jantungnya. Anaya tidak tahu betapa menderitanya Tama, terlebih dengan kondisi Anaya yang tidak bisa disentuh sekarang.
“Sudah lima minggu Sayang … sementara bisa berhubungan sama kamu harus setelah enam minggu. Namun, aku juga tidak mau memaksa kamu, mengingat banyaknya air mata dan kepedihan yang kamu alami kala melahirkan Charel dan Charla.”
Tama kembali menghela nafas dan kala ini dia mengusap wajah hingga rambutnya. Dia berkata dalam hatinya sendiri harus ekstra sabar supaya bisa menghadapi godaan yang menurutnya berat ini. Lantas Tama memilih kembali berbaring di samping Anaya, sebelumnya Tama meraih pusakanya membenarkan dalam posisi yang benar. Setelahnya, dia berbaring dan menatap Anaya di sana. Sayangnya, tangan Anaya refleks dan kembali menimpa pusaka milik suaminya, akhirnya Tama lagi-lagi mende-sah panjang.
Pria itu seakan mematung dan juga tidak berani bergerak, padahal sudah terasa jelas bahwa pusakanya sudah berdiri sempurna. Bahkan berdenyut di sana. Tama bahkan mempertahankan tangan Anaya yang masih menimpa miliknya.
“Tadi lutut dan tangan, sekarang malahan kayak gini … duh, gimana ini Sayang? Masak aku harus ke kamar mandi sih?”
Perlahan-lahan Tama menyingkirkan telapak tangan istrinya yang berada di tepat di milik pusakanya, kemudian Tama hendak beranjak untuk masuk ke dalam kamar mandi. Namun, sebelum Tama turun dari tempat tidur, Anaya rupanya terjaga, dan bertanya dengan suaranya yang serak.
"Mas, mau ke mana?" tanya Anaya dengan menunjukkan wajah bingung.
"Hmm, ke kamar mandi, My Love ... ada yang tidak tertahan," balasnya.
Anaya tampak bingung, apa yang membuat suaminya itu mengaku tidak tertahan.
"Ada yang membangunkan sesuatu tadi," jawab Tama.
__ADS_1
"Hmm, apa Mas? Aku yang membangunkan?" tanyanya.
Tama menggelengkan kepalanya, "Sudah ... kamu bobok dulu saja, aku ke kamar mandi dulu yah," balasnya.
Agaknya sekarang, Anaya peka dengan suara suaminya, dengan raut wajahnya, bahkan senyuman yang ditunjukkan Tama kala itu penuh akan isyarat tersembunyi. Akhirnya, Anaya menahan tangan suaminya itu, sehingga mau tidak mau, Tama kembali rebah di tempat tidur dengan memejamkan matanya perlahan.
"Kebangun gara-gara aku yah?" tanya Anaya kemudian.
Tama memilih diam, karena memang sebagai pria normal ada masa di mana hasratnya memuncak, tetapi tidak bisa menyentuh istrinya. Terlebih Anaya juga dalam mode belum boleh disentuh. Sehingga Tama harus benar-benar bersabar.
Rupanya tanpa Tama sadari, ada sang istri yang sudah menyusup ke balik selimut. Entah apa yang dilakukan Anaya di sana, yang pasti Tama terengah-engah. Dengan memanggil nama istrinya di sana.
Dengan mata yang terpejam dan wajah yang menengadahkan ke atas, Tama merasakan gerakan peristaltik yang luar biasa. Tidak berselang lama, Tama meraih tissue yang ada di atas nakas, dan membersihkan perutnya, kemudian menatap wajah Anaya yang bersemu merah di sana.
"Kamu nakal banget sih ... yang ngajarin siapa coba?" tanya Tama.
Anaya pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum penuh arti menatap suaminya itu, "Kan dulu pernah les privat sama kamu. Waktu masih jadi pengantin baru dulu," balas Anaya.
"Astaga Sayang ... bisa terjadi erupsi vulcanologi loh Sayang ... apalagi sudah puasa enam minggu lamanya," balasnya.
__ADS_1
Anaya menatap suaminya dengan tatapan yang menelisik, "Emang tadi di kamar mandi mau main Solo yah?" tanya Anaya.
Tama menghela nafas dan akhirnya menganggukkan kepalanya, "Iya, gak tahan ... sudah enam minggu, Sayang. Aku gak tahan, tadi kebangun itu kena lutut kamu dan kena tangan kamu. Aku pria normal, Yang ... sedikit sentuhan saja, aku tersulut," balas Tama dengan jujur.
Anaya kemudian menatap suaminya lagi, "Kalau pengen bilang saja Mas ... jangan main sendiri. Nanti aku handle aja," balasnya.
" ..., tapi Yang," balasnya.
"Kehidupan suami istri kan memang seperti ini, Mas ... aku belum bisa kamu sentuh. Aku juga masih ingin konsultasi seputar reproduksi wanita dulu secara khusus setelah pengangkatan rahim. Apakah berpengaruh terhadap kehidupan seksualitas sebagai wanita tidak. Jadi, sabar dulu yah ... sembari kamu menunggu, kalau pengen bilang saja," balas Anaya.
Tama menatap wajah istrinya dan merangkul Anaya dengan cepat, membawa kepala istrinya ke dadanya. "Bukan gitu Sayang ... biasanya aku bisa nahan. Namun, kali ini aku tidak bisa tahan Sayang. Maaf," balas Tama yang merasa tidak enak hati dengan Anaya.
"Aku justru yang minta maaf karena membuat kamu puasa lama. Nanti kalau sudah selesai nifas, anterin konsultasi mau Mas?" tanya Anaya kepada suaminya.
"Tentu Sayang ... akan aku anterin kamu. Aku juga ingin memastikan kamu sehat," balas Tama.
Tama menghela nafas di sana, "Iya, makasih banyak yah ... sudah lega. Sudah puas. Makasih banyak, My Love," balasnya.
Anaya pun terkekeh geli dan memeluk suaminya itu. "Terima kasih sudah sabar dan beradaptasi denganku, aku pun akan beradaptasi denganmu dan termasuk kebutuhan batinmu," balas Anaya dengan jujur.
__ADS_1